Views: 8
Ilmuwan menemukan cara baru yang berpotensi mengubah cara dunia memprediksi letusan gunung api. Sebuah sinyal geofisika halus yang disebut “jerk” kini diyakini mampu mendeteksi pergerakan magma beberapa jam sebelum letusan terjadi.
Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications, Desember 2025 dan dinilai sebagai terobosan penting dalam sistem peringatan dini bencana gunung api, yang selama ini masih menghadapi banyak ketidakpastian.
Selama puluhan tahun, prediksi letusan gunung api bergantung pada kombinasi indikator seperti gempa vulkanik, deformasi tanah, dan emisi gas. Meski metode ini membantu, data yang dihasilkan seringkali kompleks dan sulit diinterpretasikan secara pasti.
Sinyal “jerk” menawarkan pendekatan berbeda. Sinyal ini mengukur pergerakan tanah yang sangat lambat dan berfrekuensi rendah, yang terjadi ketika magma mulai mendorong dan memecah batuan di bawah permukaan bumi.
Pergerakan ini sangat kecil, bahkan nyaris tak terdeteksi tanpa alat sensitif. Namun, justru di situlah kekuatannya. Sinyal tersebut secara langsung mencerminkan proses fisik yang terjadi menjelang letusan, yaitu retakan batuan akibat tekanan magma.
Para peneliti menyebut bahwa sinyal ini dapat “mengungkap tahap paling awal aktivitas vulkanik secara real time,” sehingga memberikan peluang deteksi yang lebih cepat dan lebih akurat.
Seberapa Akurat Metode Prediksi Letusan Ini?
Metode ini telah diuji di Piton de la Fournaise, salah satu gunung api paling aktif di dunia.
Dalam periode pengamatan antara 2014 hingga 2023, sistem berbasis sinyal “jerk” berhasil memprediksi sekitar 92 persen letusan. Waktu peringatan yang dihasilkan bervariasi, mulai dari beberapa menit hingga lebih dari delapan jam sebelum magma mencapai permukaan.
Angka ini tergolong tinggi dalam bidang vulkanologi, yang dikenal penuh ketidakpastian.
“Saat ini, sebagian besar tanda-tanda letusan baru dikenali setelah kejadian,” kata Philippe Jousset, salah satu peneliti dalam studi tersebut. “Keunikan penelitian ini adalah metode ini diuji dan divalidasi secara real time selama lebih dari 10 tahun.”
Sistem ini juga bekerja secara otomatis, dengan mengeluarkan peringatan ketika sinyal melewati ambang tertentu, tanpa memerlukan interpretasi manual yang kompleks.
Mengapa Prediksi Letusan Gunung Api Sangat Sulit?
Gunung api sering menunjukkan tanda-tanda aktivitas sebelum meletus, tetapi tidak semua aktivitas tersebut berujung pada letusan. Hal ini membuat para ilmuwan sulit membedakan mana sinyal yang benar-benar berbahaya.
Sistem pemantauan konvensional mengandalkan banyak parameter sekaligus, yang kadang menghasilkan sinyal yang saling bertentangan. Akibatnya, keputusan untuk mengeluarkan peringatan sering kali dihadapkan pada ketidakpastian besar.
Kesalahan dalam prediksi bisa berdampak serius. Peringatan yang terlambat dapat menyebabkan korban jiwa, sementara peringatan palsu bisa memicu evakuasi yang mahal dan menurunkan kepercayaan masyarakat.
Sinyal “jerk” mencoba menyederhanakan masalah ini dengan fokus pada satu indikator yang secara langsung terkait dengan pergerakan magma.
Apakah Sinyal “Jerk” Bisa Mengurangi Alarm Palsu?
Dalam pengujian, sekitar 14 persen peringatan yang dikeluarkan tidak diikuti oleh letusan. Namun, peneliti menegaskan bahwa ini bukanlah alarm palsu dalam arti sebenarnya.
Sebaliknya, sinyal tersebut menunjukkan adanya pergerakan magma yang gagal mencapai permukaan, atau yang dikenal sebagai “letusan yang terhenti”.
“Selain memprediksi letusan, alat ini juga menjadi pendeteksi yang jelas terhadap intrusi magma,” kata Jousset.
Dengan kata lain, sistem ini tetap mendeteksi aktivitas geologi yang nyata, meskipun tidak selalu berujung pada letusan.

Dari gunung hingga laut, kami kirim langsung ke Anda. Join Saluran WhatsApp Lingkar Bumi sekarang.
Bisakah Teknologi Ini Digunakan di Seluruh Dunia?
Salah satu keunggulan utama metode ini adalah kesederhanaannya. Berbeda dengan sistem pemantauan tradisional yang membutuhkan banyak alat, sinyal “jerk” dapat dideteksi hanya dengan satu seismometer broadband.
Hal ini membuka peluang besar untuk diterapkan di berbagai wilayah, terutama di daerah terpencil atau negara berkembang yang memiliki keterbatasan infrastruktur pemantauan.
Banyak gunung api di dunia saat ini belum dipantau secara optimal, padahal berada dekat dengan pemukiman penduduk. Dengan teknologi yang lebih sederhana dan murah, jangkauan sistem peringatan dini bisa diperluas secara signifikan.
Apa Langkah Selanjutnya dalam Riset Ini?
Para peneliti kini tengah menguji metode ini di gunung api lain dengan karakteristik berbeda, termasuk Mount Etna di Italia.
Tujuannya adalah untuk memastikan apakah sinyal “jerk” dapat bekerja secara konsisten di berbagai kondisi geologi.
Jika hasilnya serupa, metode ini berpotensi menjadi bagian dari standar baru dalam sistem pemantauan gunung api global.
Kemampuan memprediksi letusan dengan lebih cepat dan akurat memiliki dampak besar bagi keselamatan manusia.
Peringatan yang lebih dini memberi waktu bagi masyarakat untuk mengungsi, melindungi infrastruktur, dan mengurangi kerugian ekonomi. Di sisi lain, peningkatan akurasi juga membantu mengurangi evakuasi yang tidak perlu.
Penemuan ini juga menandai perubahan pendekatan dalam vulkanologi, dari sistem yang kompleks dan berbasis banyak data menjadi metode yang lebih sederhana namun langsung terkait dengan proses fisik di dalam bumi. (Sulung Prasetyo)







