Views: 7
Skandal penipuan evakuasi helikopter di kawasan Gunung Everest terungkap sebagai operasi terorganisir berskala besar, dengan total kerugian mendekati $20 juta dan ratusan kasus evakuasi palsu yang melibatkan berbagai pihak dalam industri pendakian Nepal.
Investigasi yang dipublikasikan Kathmandu Post, 3 April 2026 mengungkap bahwa praktik ini telah berlangsung selama bertahun-tahun, melibatkan perusahaan trekking, pemandu gunung, operator helikopter, hingga fasilitas medis. Skema tersebut memanfaatkan klaim asuransi wisatawan asing dengan cara merekayasa kondisi darurat di pegunungan.
Menciptakan “Darurat” di Ketinggian
Berdasarkan penyelidikan Central Investigation Bureau (CIB) Kepolisian Nepal, terdapat dua pola utama dalam praktik ini.
Pertama, pemandu menawarkan pendaki untuk berpura-pura sakit agar dapat dievakuasi menggunakan helikopter—cara cepat turun gunung tanpa harus berjalan kaki selama berhari-hari.
Kedua, dan yang lebih serius, adalah dugaan bahwa pendaki sengaja dibuat sakit. Investigasi menemukan indikasi manipulasi kondisi fisik, termasuk praktik mencampurkan zat tertentu ke makanan atau penggunaan obat yang memicu gejala menyerupai penyakit ketinggian.
Polisi menemukan indikasi bahwa zat seperti baking soda dicampurkan ke makanan untuk menimbulkan gejala yang menyerupai penyakit ketinggian. Selain itu, penggunaan obat seperti acetazolamide (Diamox) dalam dosis atau kondisi yang tidak tepat juga diduga memperparah gejala.
Akibatnya, pendaki mengalami gejala seperti mual, pusing, atau gangguan pernapasan—yang kemudian dijadikan alasan untuk evakuasi darurat.
300 Kasus Palsu, Ribuan Pendaki Terdampak
Sejauh ini, lebih dari 300 kasus evakuasi palsu telah diidentifikasi oleh aparat. Dalam skala lebih luas, praktik ini diduga berdampak pada sekitar 4.700 hingga 4.782 pendaki internasional dalam periode 2022 hingga 2025.
Total kerugian akibat skema ini diperkirakan mencapai $19,69 juta, menjadikannya salah satu penipuan terbesar dalam sejarah industri wisata petualangan.
Data investigasi juga menunjukkan keterlibatan sejumlah perusahaan dengan nilai klaim fantastis. Salah satu operator tercatat melakukan ratusan evakuasi dengan klaim lebih dari $10 juta, sementara perusahaan lain meraup jutaan dolar tambahan dari praktik serupa.
Kolusi dari Gunung hingga Rumah Sakit
Skema ini berjalan melalui rantai kolusi yang terstruktur. Setelah evakuasi dilakukan, pendaki dibawa ke rumah sakit yang kemudian mengeluarkan dokumen medis untuk mendukung klaim asuransi.
Dalam banyak kasus, dokumen tersebut diduga dilebih-lebihkan atau dimanipulasi agar memenuhi syarat klaim bernilai tinggi.
Keuntungan dari klaim tersebut kemudian dibagi di antara pihak-pihak yang terlibat, mulai dari pemandu di lapangan hingga penyedia layanan di darat.
32 Tersangka dan Proses Hukum Berjalan
Otoritas Nepal telah menetapkan 32 orang sebagai tersangka, termasuk pelaku dari berbagai sektor dalam rantai operasi ini.
Juru bicara Pengadilan Distrik Kathmandu, Dipak Kumar Shrestha, mengatakan bahwa proses hukum sedang berjalan dan kasus ini menjadi prioritas.
“Pengadilan sedang merekam pernyataan para terdakwa dan memberikan prioritas tinggi pada kasus ini,” ujar Shrestha.
Jaksa juga menuntut pengembalian kerugian dalam jumlah besar, dengan nilai gugatan mencapai miliaran rupee Nepal.
Kepala CIB, Manoj Kumar KC, menilai praktik ini berkembang karena lemahnya penegakan hukum sejak kasus serupa pertama kali terungkap pada 2018.
“Ketika tidak ada tindakan terhadap kejahatan, maka kejahatan itu akan berkembang,” kata KC.
Menurutnya, kurangnya efek jera membuat praktik ini terus berulang dan semakin meluas dari tahun ke tahun.

Dari gunung hingga laut, kami kirim langsung ke Anda. Join Saluran WhatsApp Lingkar Bumi sekarang.
Ancaman bagi Industri dan Keselamatan Pendaki
Skandal ini menimbulkan tekanan serius terhadap industri pariwisata Nepal, yang sangat bergantung pada aktivitas pendakian Himalaya.
Selain merusak reputasi, praktik ini juga membuat sejumlah perusahaan asuransi internasional membatasi bahkan menghentikan layanan mereka untuk pendakian di Nepal.
Lebih dari itu, kasus ini membuka risiko baru bagi keselamatan pendaki. Jika dugaan manipulasi kesehatan terbukti benar, maka ancaman di Everest tidak lagi hanya berasal dari faktor alam, tetapi juga dari praktik tidak etis manusia.
Ujian bagi Nepal
Gunung Everest selama ini dikenal sebagai simbol puncak petualangan dunia. Namun, skandal ini mengungkap sisi lain industri pendakian yang jarang terlihat.
Dengan ratusan kasus palsu, ribuan korban, dan kerugian mendekati $20 juta, pemerintah Nepal kini menghadapi tantangan besar untuk memperbaiki sistem pengawasan dan memulihkan kepercayaan global.
Penyelidikan masih berlangsung, dan dunia menunggu apakah langkah tegas akan benar-benar diambil—atau praktik serupa akan kembali terulang di masa depan. (Sulung Prasetyo)







