Views: 5
Ketika pandemi COVID-19 melanda dunia, bandara mendadak lengang. Pesawat-pesawat diparkir tanpa kepastian kapan akan kembali mengudara. Jalan menuju destinasi wisata yang biasanya padat berubah sunyi. Dalam situasi itu, satu hal terasa jelas: manusia berhenti bergerak karena takut.
Namun di balik ketakutan tersebut, para peneliti melihat sesuatu yang lebih kompleks. Rasa takut akan kematian tidak hanya menghentikan perjalanan, tetapi juga—secara paradoks—memicu keinginan untuk bepergian.
Bagaimana rasa takut kematian memengaruhi keinginan traveling?
Sebuah studi yang dipublikasikan pada Maret 2026 di International Journal of Tourism Research menemukan bahwa kesadaran akan kematian, atau mortality salience, dapat memengaruhi niat seseorang untuk melakukan perjalanan wisata. Penelitian yang dipimpin oleh Seongseop Kim menunjukkan bahwa ketika individu dihadapkan pada pikiran tentang kematian, mereka cenderung mencari cara untuk memberi makna pada hidupnya—dan perjalanan menjadi salah satu pilihan paling nyata.
Kim dan timnya mencatat bahwa kesadaran akan kematian mendorong individu untuk mengejar pengalaman yang bermakna. Dalam konteks ini, perjalanan bukan sekadar aktivitas rekreasi, melainkan bentuk respons terhadap kecemasan eksistensial. Temuan ini selaras dengan konsep Terror Management Theory, yang menjelaskan bahwa manusia berusaha mengatasi ketakutan akan kematian dengan mencari makna melalui pengalaman hidup.
Apakah pandemi membuat orang berhenti bepergian?
Realitas di lapangan, terutama selama pandemi, menunjukkan bahwa hubungan antara rasa takut mati dan perilaku perjalanan tidak sesederhana itu.
Data memperlihatkan bahwa ketakutan akan kematian memang membuat banyak orang menghindari perjalanan, terutama karena risiko penularan di ruang publik. Meski demikian, keinginan untuk bepergian tidak benar-benar hilang. Dalam laporan tersebut, peneliti seperti Jingjing Li mencatat bahwa individu dengan tingkat kecemasan tinggi tetap memiliki niat untuk bepergian, tetapi dengan pendekatan yang lebih hati-hati.
Perjalanan tidak dihapus, melainkan diubah. Orang mulai memilih opsi yang terasa lebih aman, lebih dekat, dan lebih terkendali, tanpa sepenuhnya meninggalkan keinginan untuk bergerak.
Mengapa wisata alam dan perjalanan lokal meningkat?
Perubahan ini terlihat jelas dalam pola perjalanan global selama dan setelah pandemi. Wisata internasional menurun drastis, sementara perjalanan domestik dan wisata berbasis alam mengalami peningkatan. Destinasi dengan ruang terbuka luas dan kepadatan rendah menjadi pilihan utama.
Penelitian dalam Tourism Management menunjukkan bahwa aktivitas wisata dapat membantu meredakan kecemasan, termasuk kecemasan terkait kematian. Peneliti Jinsoo Hwang menyebut bahwa pengalaman wisata dapat memberikan rasa kontrol dan kebebasan di tengah situasi yang penuh ketidakpastian.
Dalam kondisi seperti pandemi, perjalanan ke alam terbuka tidak hanya dianggap lebih aman secara fisik, tetapi juga memberikan efek psikologis yang menenangkan.

Dari gunung hingga laut, kami kirim langsung ke Anda. Join Saluran WhatsApp Lingkar Bumi sekarang.
Faktor apa yang menentukan seseorang tetap traveling atau tidak?
Tidak semua orang merespons ketakutan dengan cara yang sama. Studi tersebut menyoroti bahwa lingkungan tempat tinggal memainkan peran penting dalam membentuk keputusan untuk bepergian.
Menurut Seongseop Kim, individu yang tinggal di daerah dengan akses wisata yang baik cenderung lebih mudah mengubah kecemasan menjadi tindakan nyata, karena mereka memiliki pilihan dan kemudahan untuk bepergian.
Sebaliknya, mereka yang berada di wilayah dengan akses terbatas cenderung lebih menahan diri. Hal ini menunjukkan bahwa keputusan traveling tidak hanya dipengaruhi oleh faktor psikologis, tetapi juga oleh akses, infrastruktur, dan peluang.
Apakah traveling bisa menjadi cara mengatasi kecemasan?
Para peneliti melihat fenomena ini sebagai tarik-menarik antara dua naluri dasar manusia, bertahan hidup dan mencari makna. Pandemi memperkuat keduanya secara bersamaan.
Menurut Jingjing Li, hasil dari dinamika ini bukanlah keputusan ekstrem, melainkan kompromi. Orang tetap bepergian, tetapi dengan cara yang lebih hati-hati, lebih sadar risiko, dan lebih selektif.
Perjalanan dalam konteks ini berfungsi sebagai mekanisme coping. Ia membantu individu mengelola kecemasan dengan memberikan pengalaman langsung yang terasa bermakna dan memberi rasa kontrol atas hidup.
Apa makna traveling setelah pandemi?
Fenomena ini pada akhirnya mengungkap sesuatu yang lebih dalam tentang manusia. Rasa takut akan kematian tidak hanya menciptakan kecemasan, tetapi juga kesadaran bahwa waktu terbatas dan hidup perlu dijalani.
Perjalanan menjadi salah satu cara untuk merespons kesadaran tersebut. Ia menawarkan kesempatan untuk keluar dari rutinitas, melihat dunia dari perspektif baru, dan merasakan hidup secara lebih utuh.
Kini, ketika dunia perlahan bergerak kembali, perjalanan juga kembali menjadi bagian dari kehidupan. Namun ada perubahan mendasar dalam cara orang memaknainya.
Seperti yang ditunjukkan oleh Seongseop Kim dan para peneliti lainnya, rasa takut akan kematian tidak selalu menghentikan manusia untuk bergerak. Dalam banyak kasus, justru mendorong mereka untuk mencari pengalaman yang lebih berarti.
Dan di dunia yang pernah berhenti, keinginan untuk pergi tampaknya tidak pernah benar-benar hilang. (Sulung Prasetyo)







