definisi cantik

Cantik Makin Beragam, Tapi Tubuh Ideal Tetap Ramping

Views: 0

Penelitian terbaru yang menganalisis hampir 800 ribu model selama 25 tahun menemukan bahwa keberagaman memang meningkat, tetapi standar tubuh ideal di dunia fashion nyaris tidak berubah.

Selama beberapa tahun terakhir, kampanye body positivity dan meningkatnya representasi berbagai bentuk tubuh di media telah memunculkan kesan bahwa definisi kecantikan sedang berubah. Tubuh berisi, atletis, pendek, tinggi, hingga berbagai warna kulit kini lebih sering tampil di sampul majalah, iklan, maupun media sosial.

Namun, sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa perubahan tersebut mungkin tidak sedalam yang terlihat.

Penelitian berjudul “Cultural Evolution of Beauty Standards” yang diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) pada 21 Mei 2026 menemukan bahwa meskipun industri fashion semakin beragam secara visual, standar tubuh yang dianggap ideal tetap didominasi oleh model yang sangat kurus.

Tim peneliti menganalisis 793.199 penampilan model perempuan dari berbagai sumber industri fashion, termasuk iklan, editorial majalah, sampul majalah, dan peragaan busana sepanjang periode 2000 hingga 2024.

Menurut penulis utama penelitian, Richard Boucherie, hasil studi menunjukkan adanya perbedaan antara meningkatnya keberagaman representasi dan perubahan standar kecantikan yang sebenarnya.

“Keragaman meningkat, tetapi tubuh yang dijadikan acuan ideal tetap sangat ramping,” tulis para peneliti dalam studi tersebut.

Mengapa Standar Kecantikan Masih Identik dengan Tubuh Kurus?

Selama dua dekade terakhir, publik memang menyaksikan lebih banyak model dari berbagai latar belakang etnis maupun ukuran tubuh. Kehadiran model plus-size yang sebelumnya jarang terlihat kini menjadi bagian dari kampanye sejumlah merek besar.

Namun ketika peneliti melihat data secara keseluruhan, mereka menemukan bahwa mayoritas model yang tampil di industri fashion masih memiliki ukuran tubuh yang sangat kurus.

Dengan kata lain, keberagaman memang bertambah di bagian pinggir distribusi, tetapi pusat standar kecantikan tetap berada pada tipe tubuh yang sama seperti dua dekade lalu.

Peneliti menyebut fenomena ini sebagai “selective inclusion” atau inklusi selektif. Industri fashion memasukkan lebih banyak variasi tubuh, tetapi tanpa menggeser definisi tubuh yang dianggap paling ideal.

Fenomena tersebut menciptakan ilusi perubahan yang cukup kuat. Di mata publik, keberadaan sejumlah model plus-size dapat memberikan kesan bahwa industri telah berubah secara fundamental. Padahal secara statistik, sebagian besar representasi masih didominasi oleh tubuh yang sangat ramping.

Apakah Tubuh Model Masih Jauh dari Tubuh Perempuan Kebanyakan?

Salah satu temuan paling menarik dalam penelitian ini adalah perbandingan antara tubuh model dan tubuh perempuan pada umumnya.

Peneliti membandingkan data model dengan data kesehatan nasional perempuan muda Amerika Serikat yang dikumpulkan melalui survei NHANES.

Hasilnya menunjukkan bahwa rata-rata model memiliki persentase lemak tubuh sekitar 18 persen. Sementara perempuan Amerika berusia 17 hingga 30 tahun memiliki rata-rata persentase lemak tubuh sekitar 38 persen.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa tubuh yang paling sering ditampilkan dalam industri fashion masih sangat jauh dari tubuh rata-rata perempuan.

Yang lebih mengejutkan, kesenjangan tersebut hampir tidak berubah selama lebih dari 20 tahun terakhir.

Temuan ini mengindikasikan bahwa meskipun wacana mengenai keberagaman tubuh berkembang pesat, standar fisik yang menjadi acuan industri masih relatif konstan.

Benarkah Industri Fashion Hanya Menampilkan Keberagaman Secara Simbolik?

Penelitian juga menemukan pola menarik terkait etnisitas dan ukuran tubuh.

Model non-kulit putih tercatat sekitar 4,5 kali lebih mungkin menjadi model plus-size dibandingkan model kulit putih.

Menurut peneliti, temuan ini menunjukkan bahwa industri fashion cenderung menggabungkan beberapa bentuk keberagaman ke dalam kelompok yang sama.

Alih-alih menyebarkan representasi secara merata, keberagaman sering kali terkonsentrasi pada individu tertentu yang mewakili beberapa kategori sekaligus, misalnya perempuan non-kulit putih yang juga bertubuh besar.

Para penulis menyebut fenomena ini sebagai “symbolic diversification” atau diversifikasi simbolik.

Dalam praktiknya, industri dapat menampilkan keberagaman tanpa benar-benar mengubah struktur standar kecantikan yang dominan.

Bagaimana Media Sosial Mengubah Definisi Cantik Saat Ini?

Meskipun penelitian berfokus pada industri fashion profesional, hasilnya memiliki implikasi yang lebih luas terhadap budaya populer.

Selama satu dekade terakhir, media sosial telah menciptakan ruang bagi berbagai tipe tubuh untuk mendapatkan visibilitas. Influencer, atlet, pendaki gunung, pelari, hingga figur publik dengan karakter fisik yang beragam kini memiliki audiens yang besar.

Hal ini membantu memperluas persepsi masyarakat tentang apa yang dianggap menarik atau cantik.

Namun penelitian tersebut menunjukkan bahwa institusi yang secara historis membentuk standar kecantikan—terutama dunia fashion dan media mode—masih mempertahankan preferensi yang relatif sempit terhadap tubuh kurus.

Akibatnya, masyarakat menerima dua pesan yang berbeda secara bersamaan. Di satu sisi terdapat narasi bahwa semua bentuk tubuh layak diapresiasi. Di sisi lain, tubuh yang paling sering dipromosikan sebagai simbol kecantikan dan prestise tetap merupakan tubuh yang sangat ramping.

Apakah AI Akan Memperkuat Standar Kecantikan yang Tidak Realistis?

Peneliti juga menyoroti implikasi temuan mereka terhadap perkembangan kecerdasan buatan atau AI.

Saat ini banyak sistem AI generatif dilatih menggunakan jutaan gambar yang berasal dari internet, termasuk foto model, iklan, dan konten fashion.

Jika dataset tersebut mencerminkan bias yang telah lama ada dalam industri mode, maka AI berpotensi mereproduksi dan memperkuat standar kecantikan yang sama.

Artinya, meskipun teknologi berkembang pesat, gambaran mengenai tubuh ideal yang dihasilkan AI dapat tetap didominasi oleh figur yang sangat kurus.

Karena itu, para peneliti mendorong adanya evaluasi yang lebih kritis terhadap data yang digunakan untuk melatih sistem AI agar bias budaya yang sudah ada tidak semakin mengakar.

Apakah Cantik Sekarang Tidak Harus Ramping?

Penelitian ini menunjukkan bahwa definisi kecantikan memang sedang mengalami perluasan. Berbagai warna kulit, bentuk tubuh, dan latar belakang kini lebih mudah ditemukan dibandingkan dua dekade lalu.

Namun perubahan tersebut belum sepenuhnya menggeser standar fisik yang berada di pusat industri fashion.

Bagi banyak orang, terutama generasi muda, kecantikan mungkin tidak lagi identik dengan tubuh yang sangat kurus. Kesehatan, kekuatan fisik, kepercayaan diri, dan keaslian diri semakin dihargai sebagai bagian dari daya tarik seseorang.

Meski demikian, data menunjukkan bahwa dunia fashion masih menempatkan tubuh ramping sebagai simbol utama kecantikan ideal.

Temuan dari penelitian “Cultural Evolution of Beauty Standards” menjadi pengingat bahwa keberagaman yang terlihat belum tentu mencerminkan perubahan mendasar dalam standar budaya yang membentuk cara masyarakat memandang kecantikan. (Sulung Prasetyo)

Sumber: Boucherie et al. (2026), Cultural Evolution of Beauty Standards, Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS).

Lanjut lagi...

dinding selatan chimborazo

Tiga Pendaki Ini Berhasil Buka Jalur Baru di Gunung Tertinggi Ekuador, Chimborazo dengan Gaya Tektok

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *