blue whale

Tanpa Satelit atau Drone, Kabel Fiber Optik Bawah Laut Kini Bisa Melacak Paus

Views: 0

Selama bertahun-tahun, para ilmuwan mengandalkan berbagai cara untuk mengetahui keberadaan paus di lautan. Ada yang memasang alat pelacak satelit pada tubuh paus, menerbangkan drone untuk mengamati dari udara, hingga memasang hidrofon di bawah laut untuk merekam nyanyian mereka.

Namun, semua metode tersebut memiliki keterbatasan. Satelit hanya dapat melacak paus yang telah dipasangi pemancar, drone memiliki jangkauan dan waktu terbang yang terbatas, sementara hidrofon hanya efektif ketika paus mengeluarkan suara.

Kini, sebuah penelitian terbaru menunjukkan pendekatan yang sama sekali berbeda. Tanpa bantuan satelit maupun drone, ilmuwan berhasil melacak paus hanya dengan memanfaatkan kabel fiber optik yang selama ini menghubungkan jaringan internet di dasar laut.

Yang lebih menarik, teknologi ini bahkan mampu mendeteksi paus yang sedang berenang dalam keadaan diam.

Bagaimana Kabel Bawah Laut Bisa Mendeteksi Paus?

Terobosan ini memanfaatkan teknologi Distributed Acoustic Sensing (DAS). Teknologi tersebut mengubah kabel fiber optik bawah laut menjadi sensor sepanjang puluhan hingga ratusan kilometer yang mampu mendeteksi perubahan regangan sangat kecil pada kabel.

Selama ini DAS telah digunakan untuk merekam gempa bumi, aktivitas kapal, hingga gelombang laut. Namun, penelitian terbaru menunjukkan kabel yang sama ternyata juga mampu mendeteksi pergerakan paus.

Caranya bukan dengan “mendengar” suara paus.

Ketika seekor paus berenang, tubuhnya mendorong jutaan liter air di sekitarnya. Pergerakan itu menghasilkan perubahan tekanan hidrodinamik yang merambat hingga dasar laut. Tekanan tersebut menyebabkan sedimen di dasar laut mengalami deformasi dalam skala mikroskopis. Karena kabel fiber optik tertanam di dalam sedimen, perubahan kecil itu ikut meregangkan kabel dan kemudian direkam oleh sistem DAS.

Dengan kata lain, kabel bawah laut tidak mendengar paus, tetapi merasakan gangguan tekanan air yang ditimbulkan oleh tubuh paus saat berenang.

Mengapa Paus yang Tidak Bersuara Sulit Dideteksi?

Selama ini sebagian besar pemantauan paus menggunakan metode Passive Acoustic Monitoring (PAM) yang bergantung pada suara.

Padahal paus tidak selalu bernyanyi. Ketika sedang mencari makan, menyelam, atau bermigrasi, mereka dapat berenang tanpa mengeluarkan suara selama waktu yang cukup lama. Pada kondisi inilah keberadaan mereka hampir tidak mungkin dideteksi menggunakan sistem akustik konvensional.

Menurut penulis utama penelitian, Robin André Rørstadbotnen, keterbatasan tersebut menjadi salah satu alasan timnya mengembangkan pendekatan baru yang tidak bergantung pada vokalisasi paus. Dengan memanfaatkan tekanan hidrodinamik yang dihasilkan tubuh paus saat berenang, keberadaan hewan tersebut tetap dapat dipantau meskipun sedang diam.

Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) melalui artikel berjudul Detecting Silent Whales Using Seabed Fiber-Optic Cables, Juni 2026.

Penelitian dilakukan oleh Robin André Rørstadbotnen dan Martin Landrø dari Norwegian University of Science and Technology (NTNU), Norwegia.

Mereka memanfaatkan kabel fiber optik sepanjang sekitar 260 kilometer yang menghubungkan Longyearbyen dan Ny-Ålesund di Kepulauan Svalbard, Arktik.

Sebelum mengamati paus, tim peneliti terlebih dahulu menguji metode tersebut menggunakan beberapa kapal yang posisi, ukuran, dan kecepatannya diketahui melalui sistem Automatic Identification System (AIS). Data kapal digunakan untuk menyusun model matematis mengenai hubungan antara tekanan air dan sinyal yang direkam kabel fiber optik.

Setelah model tersebut tervalidasi, para peneliti menerapkannya untuk mengidentifikasi sinyal yang berasal dari paus biru.

Robin André Rørstadbotnen menjelaskan bahwa selain merekam vokalisasi paus, sistem DAS juga mampu mendeteksi perubahan tekanan hidrodinamik yang dihasilkan tubuh paus ketika berenang. Sementara itu, Martin Landrø menilai teknologi ini membuka peluang baru untuk memantau paus yang sebelumnya tidak dapat dideteksi ketika sedang diam.

Sebuah kapal berlayar ke Svalbard’s Magdalenafjord. Para peneliti menggunakan empat jenis kapal berbeda (bukan yang seperti dalam gambar) untuk membantu mereka mengetahui bagaimana kabel serat optil dibawah laut bisa membantu mendetesi gerakan paus meski mereka tak sedang bersuara. Photo: Altrendo Images / Shutterstock / NTB

Dari gunung hingga laut, kami kirim langsung ke Anda. Join Saluran WhatsApp Lingkar Bumi sekarang.

Paus Tetap Bisa Dilacak Meski Tidak Mengeluarkan Suara

Salah satu temuan paling menarik terjadi ketika tim mengamati paus biru yang awalnya mengeluarkan suara di dekat permukaan laut.

Ketika paus mulai menyelam dan berhenti bernyanyi, sinyal akustiknya memang menghilang. Namun pada saat yang sama, sistem DAS justru merekam sinyal hidrodinamik yang berasal dari pergerakan tubuh paus.

Temuan ini menjadi bukti bahwa paus tetap dapat dipantau ketika berada di bawah permukaan laut tanpa mengeluarkan suara.

Dalam penelitian tersebut, para peneliti memperkirakan paus berenang dengan kecepatan sekitar 2–4 meter per detik. Sementara itu, sinyal hidrodinamik paus dapat dideteksi ketika hewan tersebut berada sekitar 40 meter dari kabel fiber optik yang terpasang di dasar laut.

Apa Manfaat Kabel Fiber Optik untuk Konservasi Paus?

Kemampuan mendeteksi paus yang diam membuka peluang baru dalam upaya konservasi mamalia laut.

Selama ini ilmuwan kesulitan memperkirakan jumlah maupun pergerakan paus karena sebagian besar waktu mereka dihabiskan di bawah permukaan laut. Dengan memanfaatkan jaringan kabel fiber optik yang telah terpasang di berbagai wilayah dunia, pemantauan dapat dilakukan tanpa harus menangkap atau memasang alat pelacak pada tubuh paus.

Teknologi ini juga berpotensi melengkapi sistem pemantauan yang sudah ada. Saat paus berada dekat permukaan, keberadaannya dapat diketahui melalui suara. Ketika menyelam lebih dalam dan berhenti bernyanyi, kabel fiber optik tetap dapat mengikuti pergerakannya melalui gangguan tekanan air yang ditimbulkan tubuh paus.

Di masa depan, teknologi ini berpotensi dikombinasikan dengan sistem navigasi kapal sehingga dapat memberikan peringatan dini apabila terdapat paus di sekitar jalur pelayaran. Dengan demikian, risiko tabrakan antara kapal dan paus dapat dikurangi.

Mengapa Paus Sering Tertabrak Kapal dan Terjerat Jaring?

Teknologi baru ini hadir ketika populasi paus masih menghadapi berbagai ancaman akibat aktivitas manusia.

Salah satu penyebab utama kematian paus adalah tabrakan dengan kapal. Jalur migrasi paus di banyak wilayah kini beririsan dengan rute pelayaran internasional. Ketika paus muncul ke permukaan untuk bernapas, terutama pada malam hari atau saat cuaca buruk, risiko tertabrak kapal berkecepatan tinggi meningkat.

Di pesisir timur Amerika Utara, beberapa paus bungkuk dilaporkan mati dalam beberapa tahun terakhir setelah diduga mengalami tabrakan dengan kapal. Insiden serupa juga berulang di kawasan Teluk San Francisco, Amerika Serikat, yang merupakan salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia.

Selain tabrakan, paus juga sering terjerat alat tangkap ikan seperti tali perangkap kepiting dan jaring insang. Hewan yang terjerat dapat mengalami luka serius, kesulitan berenang, bahkan mati karena tidak mampu mencapai permukaan untuk bernapas.

Ancaman lainnya adalah meningkatnya kebisingan bawah laut akibat aktivitas pelayaran, eksplorasi energi, dan pembangunan infrastruktur lepas pantai. Kebisingan tersebut dapat mengganggu komunikasi, navigasi, hingga perilaku mencari makan paus.

Dalam beberapa kasus, paus juga mengalami terdampar massal di berbagai negara, termasuk Selandia Baru dan Australia. Meski penyebabnya beragam, para ilmuwan meyakini kombinasi faktor alam dan aktivitas manusia berperan dalam sejumlah kejadian tersebut.

Melalui kemampuan mendetksi paus, melalui jaringan kabel fiber optik berpotensi menjadi sistem peringatan dini yang membantu mengurangi risiko tabrakan kapal sekaligus memperkaya pemahaman ilmuwan mengenai kehidupan paus di habitat alaminya. (Wage Erlangga)

Lanjut lagi...

definisi cantik

Cantik Makin Beragam, Tapi Tubuh Ideal Tetap Ramping

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *