Views: 0
Sebuah jalur pendakian baru berhasil dibuka di dinding selatan Gunung Chimborazo, gunung tertinggi di Ekuador. Tiga pendaki asal Kolombia menembus sisi gunung yang selama bertahun-tahun dikenal berbahaya dan jarang dijamah akibat kombinasi es curam, batu rapuh, dan ancaman longsoran.
Pendakian tersebut dilakukan oleh Nestor Contreras, Alexander Chaves, dan Felipe Galvis pada kisaran bulan April 2026. Mereka membuka rute baru secara langsung di South Face Chimborazo dengan gaya alpine style ringan tanpa bantuan tali tetap maupun kamp tambahan di dinding gunung.
Gunung Chimborazo memiliki ketinggian sekitar 6.241 meter di atas permukaan laut (mdpl). Meski lebih rendah dibanding Everest, puncaknya disebut sebagai titik di permukaan bumi yang paling jauh dari pusat bumi karena efek tonjolan planet di wilayah khatulistiwa.

Dari gunung hingga laut, kami kirim langsung ke Anda. Join Saluran WhatsApp Lingkar Bumi sekarang.
Menembus Dinding Selatan yang Terjal
Selama ini sebagian besar pendaki memilih jalur klasik seperti Whymper Route atau South Ridge yang relatif lebih aman. Sebaliknya, dinding selatan Chimborazo terkenal memiliki kondisi medan yang tidak stabil akibat pencairan gletser dan perubahan suhu ekstrem.
Menurut laporan media Desnivel, trio pendaki Kolombia tersebut menghadapi lereng campuran es dan batu dengan kemiringan antara 65 hingga 85 derajat. Beberapa bagian jalur berada tepat di bawah tebing rapuh yang rawan runtuhan batu dan longsoran salju.
Mereka menamai jalur baru itu “Marco Cruz 2026” sebagai penghormatan kepada pemandu gunung veteran asal Ekuador yang dikenal luas memiliki pengetahuan mendalam tentang South Face Chimborazo. Marco Cruz sendiri disebut mengonfirmasi bahwa jalur tersebut memang belum pernah dipanjat sebelumnya.
Mendaki Cepat dengan Gaya Alpine
Pendakian dilakukan dengan pendekatan cepat dan ringan. Ketiganya menyelesaikan perjalanan pulang-pergi dari basecamp dalam waktu sekitar 14 jam sambil membawa seluruh perlengkapan sendiri, termasuk cadangan air.
Sebagian besar pendakian dilakukan tanpa menggunakan tali untuk mempercepat pergerakan. Mereka baru memakai tali saat turun melalui jalur yang sama.
Dalam dunia alpinisme modern, pendekatan seperti ini dianggap sebagai bentuk pendakian bergaya alpine, yaitu mengutamakan efisiensi, kecepatan, dan kemampuan teknis tanpa dukungan logistik besar seperti fixed rope atau kamp bertingkat.

Chimborazo dan Dunia Alpinisme Andes
Chimborazo merupakan salah satu gunung paling ikonik di Pegunungan Andes. Gunung berapi yang kini tidak aktif itu pertama kali didaki pada tahun 1880 oleh pendaki Inggris, Edward Whymper, bersama dua pendaki Italia.
Selain faktor ketinggian, Chimborazo dikenal memiliki cuaca yang cepat berubah. Kombinasi angin Andes, suhu dingin, dan gletser tropis membuat pendakian gunung ini sering dianggap lebih melelahkan dibanding gunung lain dengan elevasi serupa.
Dalam beberapa tahun terakhir, kawasan Andes Ekuador kembali menarik perhatian komunitas pendaki dunia. Selain Chimborazo, gunung-gunung seperti El Altar dan Cayambe juga dikenal memiliki jalur teknis yang menantang namun belum terlalu ramai didaki. (Sulung Prasetyo)







