Views: 0
Di antara riuhnya kampanye penyelamatan terumbu karang dan hutan mangrove, ekosistem padang lamun kerap luput dari perhatian. Lamun tidak setenar karang yang penuh warna, tidak sepopuler mangrove yang akarnya ikonik. Padahal, lamun memegang peran krusial dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut dangkal.
Lamun sering disalahpahami sebagai rumput laut. Padahal, lamun adalah tumbuhan berbunga sejati yang hidup terendam di laut. Berbeda dengan alga atau rumput laut, lamun memiliki akar, batang, daun, bunga, dan bahkan menghasilkan buah serta biji. Ia bereproduksi secara generatif maupun vegetatif, membentuk hamparan luas di perairan dangkal yang jernih dan mendapatkan cukup cahaya matahari.
Di Indonesia, padang lamun tersebar luas dari pesisir Sumatra hingga Papua. Menurut penelitian terakhir yang dilakukan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), diketahui luas padang lamun di Indonesia mencapai 660.156,35 hektare (ha).
“Luas tersebut merupakan hasil penelitian terakhir dengan tingkat akurasi 80 persen, menggunakan satelit Sentinel 2 dan menggunakan lima permodelan pemetaan”, ungkap Bayu Prayudha, peneliti dari Pusat Riset Ekologi BRIN, pada Senin 2 Maret 2026.
Penelitian tersebut juga dijabarkan Bayu pada acara Webinar Menjaga Dalam Senyap; Padang Lamun, Sang Pelindung Pesisir dan Pengendali Iklim Global, yang diadakan BRIN dalam rangka memperingati Hari Lamun Internasional yang jatuh pada tanggal 1 Maret tiap tahunnya.
Namun meski memiliki luasan besar, keberadaan lamun kerap dianggap “biasa saja” karena tampilannya yang sederhana, hamparan daun hijau yang bergoyang mengikuti arus. Tidak sedikit kawasan pesisir yang direklamasi, ditimbun, atau dijadikan jalur perahu tanpa mempertimbangkan keberadaan lamun di bawahnya.
Padahal, jika kita menyelam dan mengamati lebih dekat, padang lamun adalah lanskap bawah laut yang hidup. Ia menjadi tempat tinggal, tempat mencari makan, sekaligus tempat pembesaran bagi berbagai spesies ikan, moluska, krustasea, hingga penyu. Lamun bukan sekadar tumbuhan laut, melainkan fondasi bagi jejaring kehidupan pesisir.
Minimnya perhatian terhadap lamun juga tercermin dari keterbatasan data dan kebijakan yang secara spesifik melindunginya. Banyak program konservasi lebih berfokus pada terumbu karang dan mangrove, sementara lamun berada di “wilayah abu-abu” pengelolaan pesisir. Padahal, ketiganya membentuk satu kesatuan ekosistem yang saling terhubung.
Jasa Ekologi Padang Lamun Sebagai Penopang Kehidupan Laut dan Pesisir
Meski sering terabaikan, jasa ekologi yang diberikan padang lamun sangat besar. Salah satu fungsi utamanya adalah sebagai habitat dan nursery ground. Banyak spesies ikan karang menghabiskan fase juvenilnya di padang lamun sebelum berpindah ke terumbu karang saat dewasa. Tanpa lamun, siklus hidup banyak spesies akan terganggu.
Padang lamun juga menjadi sumber pakan penting. Hewan seperti dugong dan penyu hijau sangat bergantung pada lamun sebagai makanan utama. Bahkan beberapa spesies ikan dan invertebrata memakan daun, epifit, atau organisme kecil yang hidup di antara helai-helai lamun.
Selain sebagai habitat, lamun berperan dalam menjaga kualitas perairan. Akar dan rimpangnya membantu menstabilkan sedimen dasar laut, mengurangi kekeruhan air akibat resuspensi pasir dan lumpur. Dengan air yang lebih jernih, proses fotosintesis dapat berjalan optimal, baik bagi lamun itu sendiri maupun ekosistem di sekitarnya seperti terumbu karang.
Fungsi lain yang semakin mendapat perhatian global adalah peran lamun dalam menyerap dan menyimpan karbon, atau yang dikenal sebagai blue carbon. Padang lamun mampu mengikat karbon dioksida dari atmosfer dan menyimpannya dalam biomassa serta sedimen dalam jangka waktu panjang. Dalam konteks perubahan iklim, kemampuan ini menjadikan lamun sebagai sekutu penting dalam mitigasi krisis iklim.
“Lamun berperan dalam menyerap CO2 (Karbondioksida-red), karena lamun merupakan tumbuhan yang melakukan fotosintesis. Dengan menjaga ekosistem padang lamun kita bisa menjaga terlepasnya CO2 yang sudah tersimpan di biomasa dan sedimen lamun, sehingga tidak memperburuk emisi CO2 yang mengakibatkan perubahan iklim”, demikian jawab Yusmiana Rahayu, peneliti dari Pusat Riset Ekologi BRIN juga, saat menjawab pertanyaan mengenai pentingnya jasa ekologi lamun dalam perubahan iklim.
Tak hanya itu, padang lamun juga melindungi garis pantai. Dengan memperlambat arus dan meredam energi gelombang, lamun membantu mengurangi abrasi dan erosi pesisir. Di wilayah yang rawan badai dan gelombang tinggi, keberadaan lamun dapat menjadi benteng alami yang menahan kerusakan lebih parah.
Jika dihitung secara ekonomi, jasa ekosistem lamun—mulai dari perikanan, perlindungan pantai, hingga penyimpanan karbon—bernilai sangat besar. Namun karena banyak manfaatnya tidak langsung terlihat atau tidak masuk dalam perhitungan pasar, nilainya sering kali diabaikan dalam pengambilan keputusan pembangunan.

Dari gunung hingga laut, kami kirim langsung ke Anda. Join Saluran WhatsApp Lingkar Bumi sekarang.
Ancaman terhadap Kehidupan Padang Lamun
Sayangnya, ekosistem penting ini menghadapi berbagai ancaman serius. Salah satu yang paling umum adalah konversi dan reklamasi pesisir. Pembangunan pelabuhan, kawasan wisata, tambak, hingga proyek infrastruktur kerap menimbun atau merusak padang lamun tanpa kajian mendalam.
Pencemaran juga menjadi faktor utama degradasi lamun. Limbah domestik, limpasan pertanian yang mengandung pupuk dan pestisida, serta limbah industri dapat meningkatkan kadar nutrien di perairan. Kondisi eutrofikasi ini memicu ledakan alga yang menghalangi cahaya matahari, sehingga menghambat fotosintesis lamun.
Aktivitas perikanan tertentu, seperti penggunaan alat tangkap yang menyeret dasar laut, dapat mencabut atau merusak rimpang lamun. Lalu lintas perahu di perairan dangkal juga menimbulkan kerusakan melalui baling-baling yang memotong daun dan akar lamun.
Perubahan iklim memperparah situasi. Kenaikan suhu laut, peningkatan frekuensi badai, dan kenaikan muka air laut dapat mengganggu pertumbuhan lamun. Perubahan pola curah hujan yang meningkatkan limpasan sedimen ke laut juga menyebabkan kekeruhan air, mengurangi intensitas cahaya yang dibutuhkan lamun.
Hal tersebut juga pernah dijabarkan Lingkar Bumi melalui artikel Gelombang Panas Ancam Padang Lamun Tropis, yang dimuat pada 18 Februari 2026. Dalam artikel tersebut dijelaskan bagaimana ancaman kenaikan suhu bumi karena perubahan iklim jelas akan mempengaruhi kehidupan lamun di lautan. Sama seperti karang laut yang akan mengalami kemusnahan karena coral bleaching, lamun diperkirakan juga bisa musnah bila laut terus memanas pada dekade mendatang.
Ironisnya, karena lamun sering dianggap tidak seindah terumbu karang, kerusakannya kerap tidak menimbulkan reaksi publik yang kuat. Padahal, hilangnya padang lamun dapat memicu efek domino, seperti penurunan stok ikan, meningkatnya abrasi pantai, hingga pelepasan karbon yang tersimpan di sedimen.
Mengapa Pengelolaan Padang Lamun Sangat Diperlukan
Melihat pentingnya fungsi ekologis lamun, pengelolaan dan perlindungannya menjadi kebutuhan mendesak. Pendekatan pengelolaan pesisir yang terintegrasi harus memasukkan padang lamun sebagai komponen utama bersama mangrove dan terumbu karang.
Langkah pertama adalah pemetaan dan pemantauan yang sistematis. Tanpa data yang akurat tentang luas, kondisi, dan tren perubahan padang lamun, sulit merancang kebijakan yang efektif. Pemerintah, lembaga riset, dan komunitas lokal perlu bekerja sama dalam pengumpulan dan pembaruan data secara berkala.
Selanjutnya, perlindungan hukum terhadap kawasan padang lamun perlu diperkuat. Kawasan konservasi laut sebaiknya tidak hanya berfokus pada terumbu karang, tetapi juga mencakup hamparan lamun sebagai zona inti atau zona perlindungan khusus. Evaluasi dampak lingkungan untuk proyek pesisir juga harus secara eksplisit mempertimbangkan keberadaan lamun.
Edukasi publik menjadi kunci lain. Masyarakat pesisir, pelaku wisata, dan nelayan perlu memahami bahwa lamun bukan sekadar “rumput laut biasa”. Kampanye kesadaran dapat mendorong praktik yang lebih ramah lingkungan, seperti penggunaan jalur perahu yang ditentukan dan pengelolaan limbah yang lebih baik.
Restorasi padang lamun juga mulai dikembangkan di berbagai wilayah. Meski tidak mudah dan memerlukan biaya serta waktu, upaya transplantasi dan rehabilitasi dapat membantu memulihkan kawasan yang rusak, terutama jika diiringi dengan pengendalian sumber tekanan.
Pada akhirnya, menjaga padang lamun berarti menjaga fondasi kehidupan laut dangkal. Tanpa lamun, rantai makanan terganggu, perlindungan pantai melemah, dan kemampuan laut menyerap karbon berkurang. Dalam konteks krisis iklim dan tekanan pembangunan pesisir yang semakin intensif, lamun bukan lagi ekosistem pinggiran—ia adalah garda depan yang menentukan keberlanjutan laut dan kehidupan manusia di sekitarnya.
Sudah saatnya padang lamun keluar dari bayang-bayang dan mendapatkan perhatian setara dengan ekosistem pesisir lainnya. Karena di balik hamparan hijau yang tampak sederhana itu, tersimpan peran besar bagi masa depan laut dan bumi kita. (Sulung Prasetyo)







