Views: 4
Lebih dari setengah terumbu karang dunia mengalami pemutihan tingkat sedang hingga parah selama gelombang panas laut global pada periode 2014 hingga 2017, menurut studi komprehensif yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications pada 10 Februari 2026.
Penelitian berjudul “Severe and Widespread Coral Reef Damage During the 2014–2017 Global Coral Bleaching Event” ini dipimpin oleh ilmuwan dari Smithsonian Tropical Research Institute bersama tim internasional peneliti kelautan. Studi tersebut merupakan penilaian paling luas terhadap pemutihan karang global yang pernah dilakukan.
Para peneliti menganalisis lebih dari 15.000 survei terumbu karang di seluruh dunia. Hasilnya menunjukkan bahwa meskipun pemutihan tidak selalu berujung pada kematian karang, banyak terumbu mengalami tekanan berat sehingga menjadi sangat rentan terhadap peristiwa pemanasan berikutnya.
“Selama gelombang panas laut yang belum pernah terjadi sebelumnya ini, karang pada dasarnya berada dalam kondisi seperti terbakar secara ekologis. Beberapa terumbu terdorong ke ambang kematian,” kata C. Mark Eakin, ilmuwan senior sekaligus penulis utama studi tersebut.
Skala Kerusakan dan Analisis Ilmiah
Menurut salah satu penulis bersama, Scott F. Heron, sekitar 51 persen terumbu yang disurvei mengalami pemutihan tingkat sedang hingga parah. Sementara itu, sekitar 15 persen mengalami kematian karang dalam tingkat signifikan.
Tim peneliti menggabungkan data survei lapangan dengan pembacaan suhu permukaan laut berbasis satelit untuk memperkirakan dampak global secara menyeluruh, termasuk di wilayah yang tidak disurvei secara langsung.
Pemutihan terjadi ketika karang mengalami stres akibat kenaikan suhu air laut dan kemudian mengeluarkan alga simbiotik yang memberi nutrisi dan warna. Akibatnya, karang berubah menjadi pucat atau putih.
Pemutihan parah dapat dianalogikan seperti kondisi manusia yang kritis — karang masih hidup, tetapi sangat lemah dan berisiko mati jika tekanan panas terus berlanjut.
“Kemitraan antara karang dan alga adalah seperti tali penyelamat,” ujar Heron. “Ketika hubungan itu terputus, karang masuk ke mode krisis, seperti manusia yang mengalami kegagalan organ — masih hidup, tetapi dalam kondisi genting.”

Dari gunung hingga laut, kami kirim langsung ke Anda. Join Saluran WhatsApp Lingkar Bumi sekarang.
Krisis Pemutihan Global yang Berlanjut
Peristiwa 2014–2017 merupakan salah satu dari beberapa episode pemutihan global dalam beberapa dekade terakhir, setelah kejadian besar pada 1998 dan 2010. Namun, ekosistem karang kini menghadapi krisis yang lebih luas.
Laporan terbaru dari International Coral Reef Initiative (ICRI) dan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) Amerika Serikat menunjukkan bahwa peristiwa pemutihan global keempat yang dimulai pada awal 2023 telah memengaruhi sekitar 84 persen wilayah terumbu karang dunia. Angka ini menjadikannya peristiwa pemutihan paling luas yang pernah tercatat.
Krisis yang sedang berlangsung ini dipicu oleh suhu laut yang mencapai rekor tertinggi akibat perubahan iklim yang dipicu aktivitas manusia. Hampir seluruh kawasan terumbu utama — mulai dari Samudra Pasifik, Samudra Hindia, hingga Karibia dan Atlantik — mengalami tekanan panas pada tingkat pemutihan.
Meskipun pemutihan tidak selalu berarti kematian langsung, paparan panas ekstrem dalam waktu lama secara signifikan meningkatkan risiko kematian karang.
Dampak Regional dan Kerentanan Karang
Beberapa kawasan yang sebelumnya dianggap relatif tangguh ternyata tidak kebal terhadap pemanasan ekstrem. Di sejumlah lokasi, terjadi pemutihan parah disertai tingkat kematian tinggi pada spesies tertentu serta perubahan struktur terumbu dalam waktu singkat.
“Pemutihan seperti kebakaran senyap di bawah laut,” kata Derek Manzello, koordinator Coral Reef Watch NOAA. “Karang mungkin belum mati saat memutih, tetapi mereka melemah, lebih rentan terhadap penyakit, dan lebih lambat pulih — terutama ketika gelombang panas datang berulang kali.”
Terumbu karang menopang sekitar seperempat spesies laut dunia. Ekosistem ini juga menyediakan jasa penting seperti perikanan, perlindungan pesisir dari gelombang dan badai, serta pariwisata. Nilai ekonominya diperkirakan mencapai triliunan dolar setiap tahun secara global.
Kehilangan terumbu karang tidak hanya menjadi tragedi ekologis, tetapi juga pukulan sosial-ekonomi bagi komunitas pesisir yang menggantungkan hidup pada kesehatan ekosistem laut.
Harapan dan Tantangan ke Depan
Meski situasinya mengkhawatirkan, beberapa terumbu menunjukkan tanda-tanda ketahanan atau pemulihan ketika suhu laut sementara menurun. Para ilmuwan juga meneliti spesies karang yang lebih toleran terhadap panas sebagai bagian dari strategi adaptasi.
Namun, sebagian besar pakar sepakat bahwa langkah paling krusial adalah mengurangi emisi gas rumah kaca untuk memperlambat pemanasan global.
Studi dalam Nature Communications ini menegaskan realitas yang kian jelas, terumbu karang, yang selama ini dikenal sebagai salah satu ekosistem paling berwarna dan produktif di Bumi, kini semakin terdorong ke batas daya tahannya oleh kenaikan suhu laut.
Nasibnya akan sangat ditentukan oleh seberapa cepat dunia mampu mengatasi akar persoalan perubahan iklim. (Wage Erlangga)







