Views: 7
Perubahan iklim tidak hanya memicu cuaca ekstrem dan kenaikan suhu global. Sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa pemanasan suhu juga mulai mengganggu cara hewan berkembang biak — termasuk melalui perubahan suara panggilan kawin kodok.
Penelitian yang dipimpin oleh Julianne Pekny dari University of California, Davis menemukan bahwa peningkatan suhu air dan udara secara langsung mengubah karakteristik panggilan kawin Sierran treefrog. Perubahan ini memengaruhi keputusan betina untuk bertelur, membuka wawasan baru tentang bagaimana perubahan iklim dapat mengganggu pola reproduksi amfibi.
“Lagu kodok sangat bergantung pada suhu,” kata Pekny. “Ketika kolam mulai menghangat di musim semi, panggilan jantan berubah menjadi lebih cepat dan lebih energetik. Betina merespons perubahan itu.”
Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Ecological Society of America, Februari 2026 dan menjadi bagian dari penelitian yang semakin menyoroti dampak pemanasan global terhadap siklus kehidupan satwa liar.
Bagaimana Perubahan Suhu Mengganggu Reproduksi Kodok
Kodok jantan biasanya tiba lebih awal di kolam pada awal musim semi dan mulai memanggil untuk menarik pasangan. Namun penelitian menunjukkan bahwa suhu air memengaruhi tempo dan energi panggilan tersebut.
Dalam kondisi air yang dingin, panggilan terdengar lebih lambat dan kurang intens. Saat suhu meningkat, ritme menjadi lebih cepat dan kuat. Perubahan ini bukan sekadar variasi suara, melainkan sinyal biologis penting.
Menurut Brian Todd, profesor herpetologi dan salah satu penulis studi, betina menggunakan kualitas panggilan itu sebagai indikator kondisi lingkungan. “Bagi jantan, datang lebih awal memberi keuntungan kompetitif,” katanya. “Tetapi bagi betina, yang paling penting adalah memastikan suhu air cukup hangat agar telur dan larva bisa bertahan.”
Artinya, suara panggilan berfungsi sebagai penanda kesiapan ekosistem. Jika suhu berubah terlalu cepat atau tidak stabil akibat perubahan iklim, sinkronisasi antara panggilan jantan dan kesiapan betina bisa terganggu.
Dampak Perubahan Iklim pada Kodok
Amfibi termasuk kelompok vertebrata yang paling rentan terhadap perubahan lingkungan. Secara global, sekitar 41 persen spesies amfibi berada dalam ancaman kepunahan. Faktor seperti hilangnya habitat, polusi, penyakit, dan kini perubahan iklim memperburuk tekanan terhadap populasi mereka.
Penulis senior studi ini, Eric Post, mengatakan penelitian tersebut memperluas pemahaman tentang bagaimana perubahan suhu memengaruhi fenologi — atau waktu terjadinya peristiwa biologis musiman seperti kawin dan bertelur.
“Kita sering mempelajari kapan spesies mulai berkembang biak,” kata Post. “Tetapi penelitian ini menunjukkan bahwa perubahan iklim juga memengaruhi sinyal komunikasi yang menentukan waktu tersebut.”
Jika musim hangat datang lebih awal atau suhu berfluktuasi secara ekstrem, hewan bisa kehilangan keselarasan waktu reproduksi. Telur mungkin diletakkan ketika kondisi belum ideal, atau larva menghadapi risiko lebih tinggi akibat perubahan lingkungan yang mendadak.
Dari gunung hingga laut, kami kirim langsung ke Anda. Join Saluran WhatsApp Lingkar Bumi sekarang.
Sinyal Alam di Tengah Pemanasan Global
Bagi banyak orang, suara kodok di malam hari adalah tanda datangnya musim semi. Namun bagi para ilmuwan, perubahan kecil dalam tempo dan intensitas suara itu bisa menjadi indikator dini perubahan iklim yang lebih luas.
Pekny mengatakan bahwa masyarakat dapat mendengar sendiri perubahan tersebut jika memperhatikan kolam yang sama selama beberapa minggu. “Anda bisa mendengar perbedaannya,” katanya. “Sekarang bayangkan bagaimana betina menginterpretasikan perubahan itu sebagai sinyal apakah waktu yang tepat untuk bertelur sudah tiba.”
Penelitian ini menyoroti bahwa dampak perubahan iklim tidak selalu dramatis atau terlihat secara langsung. Terkadang, dampaknya muncul dalam perubahan perilaku halus — seperti nada yang sedikit lebih cepat dalam panggilan kawin seekor kodok.
Di tengah kenaikan suhu global, studi ini memperkuat bukti bahwa perubahan iklim memengaruhi satwa liar hingga ke tingkat komunikasi dan reproduksi. Bagi amfibi yang sudah menghadapi berbagai ancaman, gangguan pada waktu dan kualitas reproduksi dapat menjadi faktor tambahan yang mempercepat penurunan populasi.
Apa yang terdengar sebagai simfoni alam di tepi kolam ternyata menyimpan pesan ilmiah penting: perubahan suhu tidak hanya menghangatkan air, tetapi juga mengubah ritme kehidupan. (Sulung Prasetyo)







