demam berdarah

Perubahan Iklim Perburuk Kejadian Demam Berdarah

Views: 5

Sebuah penelitian terbaru yang menganalisis data selama 14 tahun mengungkap bahwa perubahan iklim semakin memperburuk penyebaran demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia. Studi yang dipublikasikan Oktober 2025 di platform ScienceDirect itu menunjukkan bahwa peningkatan suhu, pola hujan yang makin tidak menentu, dan kelembapan yang tinggi terbukti berkorelasi kuat dengan meningkatnya jumlah kasus DBD di berbagai wilayah Indonesia.

Penelitian yang dilakukan oleh KA Akbar dan timnya tersebut memberikan bukti ilmiah terbaru bahwa perubahan iklim bukan hanya isu lingkungan, tetapi juga ancaman besar bagi kesehatan masyarakat. Dengan Indonesia sebagai salah satu negara dengan kasus DBD tertinggi di dunia, temuan ini memberi sinyal bahaya yang tidak bisa diabaikan.

Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan menganalisis data iklim jangka panjang seperti suhu harian, curah hujan, dan tingkat kelembapan, kemudian membandingkannya dengan pola epidemiologi dengue. Hasilnya konsisten, semakin ekstrem kondisi iklim, semakin besar peluang terjadinya lonjakan kasus.

Suhu Panas Dorong Pertumbuhan Nyamuk Lebih Cepat

Temuan penting pertama menunjukkan bahwa suhu yang lebih hangat secara langsung mempercepat siklus hidup nyamuk Aedes aegypti. Dalam kondisi panas, nyamuk lebih cepat berkembang biak dan lebih aktif menggigit manusia. Selain itu, virus dengue berkembang lebih cepat di dalam tubuh nyamuk, sehingga masa penularan menjadi lebih efektif.

Ketika suhu meningkat hanya beberapa derajat saja, kami melihat peningkatan signifikan pada risiko penularan dengue. Suhu tinggi memperpendek masa inkubasi virus di dalam nyamuk, sehingga transmisi lebih cepat terjadi,” ujar KA Akbar, peneliti utama dalam studi tersebut.

Pola Hujan Tidak Stabil Ciptakan Habitat Baru

Perubahan iklim juga memengaruhi intensitas dan pola hujan di Indonesia. Hujan deras dan berkepanjangan menciptakan lebih banyak genangan air yang menjadi tempat ideal bagi nyamuk berkembang biak.

Sebaliknya, pada musim kemarau, masyarakat cenderung menyimpan air dalam wadah terbuka, yang juga menjadi tempat bertelurnya nyamuk. Kondisi ini membuat penyebaran dengue dapat terjadi sepanjang tahun, bukan hanya pada musim tertentu.

Akbar menekankan bahwa pola ini semakin jelas dalam 14 tahun data yang mereka pelajari.
Dulu, peningkatan kasus dengue biasanya terkonsentrasi pada awal musim hujan. Namun kini pola tersebut berubah. Kami menemukan bahwa wabah bisa muncul kapan saja karena kondisi iklim semakin tidak stabil,” katanya.

Kasus demam berdarah tahunan yang dilaporkan di Indonesia dari 2010 hingga 2023, bersumber dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Kelembapan Tinggi Perpanjang Umur Nyamuk

Selain suhu dan curah hujan, kelembapan atmosfer yang meningkat juga memegang peranan penting. Kelembapan tinggi membuat nyamuk bertahan hidup lebih lama, sehingga memperpanjang siklus penularan dengue.

Penelitian mencatat bahwa beberapa daerah yang sebelumnya memiliki musim dengue yang pendek kini mengalami masa penularan yang lebih panjang. Ini membuat tenaga kesehatan kesulitan memperkirakan puncak kasus dan mempersiapkan sumber daya medis secara optimal.

Kelembapan adalah faktor yang sering diremehkan. Padahal, ketika kelembapan tinggi, nyamuk bisa hidup jauh lebih lama dan peluang mereka untuk menularkan virus meningkat drastis,” jelas Akbar.

Dalam studi tersebut, para peneliti juga menemukan bahwa daerah-daerah yang sebelumnya memiliki risiko rendah kini mulai mencatat kenaikan signifikan dalam kasus DBD. Perubahan iklim membuat wilayah yang sebelumnya tidak ideal bagi Aedes aegypti menjadi lebih cocok sebagai habitat baru.

Kami melihat ekspansi geografis risiko dengue. Ini berarti wilayah yang dulu dianggap aman kini tidak lagi terbebas dari ancaman. Ini bagian dari dampak nyata perubahan iklim,” ujar Akbar.

Tantangan Serius bagi Sistem Kesehatan Indonesia

Temuan ini memberi peringatan keras bagi pemerintah Indonesia yang setiap tahun harus menangani puluhan ribu kasus DBD. Dengan iklim yang semakin tidak stabil, beban kesehatan nasional diperkirakan meningkat dalam beberapa tahun mendatang.

Para peneliti menyarankan agar sistem peringatan dini berbasis iklim segera diintegrasikan dalam program pengendalian dengue. Model prediksi berbasis data cuaca dapat membantu menentukan kapan dan di mana risiko paling tinggi, sehingga intervensi dapat dilakukan secara cepat dan tepat sasaran.

Akbar menegaskan bahwa kebijakan kesehatan masyarakat harus mulai mempertimbangkan faktor iklim. “Pengendalian dengue tidak bisa lagi hanya mengandalkan fogging atau pemberantasan sarang nyamuk. Kita harus mengintegrasikan data iklim dalam setiap strategi intervensi,” katanya.

Para peneliti juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor—antara ahli iklim, epidemiolog, pemerintah daerah, dan komunitas—untuk membangun pendekatan terpadu dalam menghadapi ancaman kesehatan akibat perubahan iklim.

Dengan tren iklim global yang terus menghangat, para ahli memperingatkan bahwa risiko DBD akan terus meningkat jika tidak diimbangi langkah antisipasi yang kuat dan sistematis. (Sulung Prasetyo)

Baca juga:

Artikel Dari Penulis Yang Sama

gunung semeru

Gunung Semeru Erupsi Lagi, Pendakian Ditutup Sementara

proyek geothermal

Partisipasi Publik Tentukan Kesuksesan Proyek Geothermal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *