hiu

Warga AS dan Australia Paling Banyak Digigit Hiu

Views: 0

Amerika Serikat (AS) dan Australia kembali mencatat jumlah gigitan hiu tak diprovokasi terbanyak di dunia pada 2025, meskipun total global insiden tersebut berada pada kisaran rata-rata historis, menurut laporan tahunan International Shark Attack File yang dikelola oleh Florida Museum of Natural History.

Laporan tersebut mencatat 65 kasus gigitan hiu tak diprovokasi secara global sepanjang 2025, sedikit di bawah rata-rata 10 tahun terakhir yang berada di angka sekitar 72 kasus per tahun. Dari jumlah itu, Amerika Serikat menyumbang sekitar 38 persen kasus, sementara Australia berada di posisi kedua dengan proporsi signifikan serta jumlah kematian tertinggi tahun ini. Total fatalitas global tercatat sembilan kasus, lebih tinggi dibandingkan rata-rata tahunan enam kematian dalam satu dekade terakhir.

Direktur International Shark Attack File, Gavin Naylor, mengatakan dalam laporan resmi museum bahwa fluktuasi tahunan merupakan pola yang lazim dalam data jangka panjang. “Jumlah kasus tahun ini berada dalam kisaran normal jika dibandingkan dengan rata-rata historis,” kata Naylor, pada rilis yang disebarkan 18 Februari 2026. Ia menegaskan bahwa meskipun angka di Amerika Serikat tetap tinggi secara absolut, proporsinya terhadap total global menurun dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.

Bagaimana Data Serangan Hiu Dikumpulkan

Data tersebut dihimpun dan diverifikasi oleh tim peneliti di Florida Museum melalui investigasi langsung terhadap setiap laporan insiden. Metode yang digunakan mencakup konfirmasi saksi, laporan medis, dokumentasi otoritas setempat, serta analisis ilmiah untuk memastikan apakah insiden tersebut tergolong tak diprovokasi atau diprovokasi. Kategori “tak diprovokasi” merujuk pada kejadian ketika manusia tidak melakukan kontak atau tindakan yang memicu respons defensif hiu, seperti memancing atau menangani hewan tersebut.

Menurut laporan itu, sebagian besar insiden terjadi di perairan dangkal dekat pantai, terutama saat korban sedang berenang, berselancar, atau melakukan aktivitas rekreasi air lainnya. Di Amerika Serikat, negara bagian Florida tetap menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi, diikuti oleh negara bagian pesisir Atlantik dan Pasifik lainnya. Sementara itu, Australia mencatat jumlah kasus lebih sedikit dibandingkan Amerika Serikat, tetapi menyumbang lebih dari separuh total kematian global tahun ini.

Mengapa AS dan Australia Paling Banyak Kasus

Para peneliti menyatakan bahwa tingginya jumlah kasus di kedua negara tidak semata-mata menunjukkan tingkat bahaya yang lebih besar dibandingkan wilayah lain. Faktor utama yang memengaruhi angka tersebut adalah besarnya populasi pesisir, intensitas aktivitas rekreasi laut, serta sistem pelaporan yang komprehensif. Amerika Serikat dan Australia memiliki garis pantai panjang dengan jutaan orang yang rutin beraktivitas di laut sepanjang tahun, meningkatkan peluang terjadinya interaksi antara manusia dan hiu.

Selain itu, perairan di kedua negara merupakan habitat alami beberapa spesies hiu besar yang paling sering terlibat dalam insiden gigitan, termasuk hiu putih besar, hiu banteng, dan hiu macan. Spesies-spesies ini diketahui berburu di perairan dangkal dan terkadang memasuki zona yang sama dengan perenang dan peselancar.

Naylor mengatakan bahwa persepsi publik sering kali tidak sejalan dengan data ilmiah. “Risiko seseorang mengalami gigitan hiu tetap sangat rendah,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa kemungkinan seseorang tenggelam atau mengalami kecelakaan laut lainnya jauh lebih tinggi dibandingkan diserang hiu.

Data Historis dan Realitas Risiko

Sejak pencatatan sistematis dimulai pada 1958, International Shark Attack File telah mengumpulkan ribuan laporan dari seluruh dunia. Namun, tren jangka panjang menunjukkan bahwa jumlah tahunan relatif stabil, dengan variasi yang dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, distribusi mangsa alami hiu, serta peningkatan jumlah manusia yang beraktivitas di laut.

Pertanyaan mengenai negara mana yang penduduknya banyak digigit hiu sering muncul setiap kali laporan tahunan dirilis. Data terbaru menunjukkan bahwa jawabannya konsisten mengarah pada Amerika Serikat dan Australia, tetapi para peneliti menekankan bahwa hal itu lebih mencerminkan tingkat paparan manusia terhadap lingkungan laut dibandingkan agresivitas hiu.

Laporan tersebut juga mencatat bahwa sekitar 30 persen spesies hiu global saat ini berstatus terancam punah akibat penangkapan berlebih dan degradasi habitat. Peneliti menekankan bahwa meskipun insiden gigitan hiu mendapat perhatian luas media, ancaman terbesar justru dihadapi hiu, bukan manusia.

Dari gunung hingga laut, kami kirim langsung ke Anda. Join Saluran WhatsApp Lingkar Bumi sekarang.

Masyarakat disarankan menghindari kumpulan ikan kecil, karena menjadi penyebab penyerangan hiu.

Apa Dampaknya bagi Publik dan Konservasi

Dalam konteks sejarah, puncak insiden global pernah terjadi pada awal 2000-an ketika jumlah aktivitas wisata bahari meningkat pesat. Namun, dalam dua dekade terakhir, angka tahunan cenderung berfluktuasi di sekitar rata-rata tanpa lonjakan signifikan. Para ilmuwan menyatakan bahwa peningkatan populasi manusia pesisir dan popularitas olahraga air kemungkinan menjadi faktor dominan dalam tren tersebut.

Penelitian dan pemantauan berkelanjutan, menurut tim Florida Museum, penting untuk memahami pola distribusi hiu dan mengembangkan strategi mitigasi risiko. Edukasi publik mengenai perilaku aman di laut juga dinilai efektif mengurangi kemungkinan interaksi berbahaya.

Laporan tahunan ini dipublikasikan melalui kanal riset resmi Florida Museum dan menjadi rujukan utama bagi lembaga konservasi, pemerintah, serta komunitas ilmiah internasional. Para peneliti menyimpulkan bahwa meskipun Amerika Serikat dan Australia terus mencatat jumlah kasus tertinggi, data global menunjukkan bahwa interaksi hiu-manusia tetap jarang terjadi dibandingkan skala aktivitas manusia di laut.

Dengan demikian, temuan terbaru memperkuat kesimpulan jangka panjang bahwa gigitan hiu merupakan peristiwa langka yang sebagian besar dipengaruhi oleh faktor paparan manusia dan distribusi habitat, bukan peningkatan agresivitas hiu secara global. (Sulung Prasetyo)

Lanjut lagi...

punch kun monkey

Punch‑kun: Bayi Monyet yang Ditinggal Ibu tapi Menemukan “Ibu Boneka”

Sejarah Pendakian Gunung Gede, Lahirnya Tradisi Mendaki di Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *