ubur-ubur singapura

Singapura Simpan Ubur-Ubur Mematikan Baru, Wisatawan Pantai Perlu Waspada

Views: 0

Perairan Singapura kembali mengungkap misteri kehidupan laut tropis. Para peneliti berhasil mengidentifikasi spesies baru ubur-ubur kotak (box jellyfish) beracun yang sebelumnya belum pernah dikenal ilmu pengetahuan. Spesies itu diberi nama Chironex blakangmati, merujuk pada nama lama Pulau Sentosa, “Pulau Blakang Mati”.

Penemuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Raffles Bulletin of Zoology pada 15 Mei 2026 oleh tim peneliti dari National University of Singapore dan Tohoku University, Jepang. Selain menemukan spesies baru, penelitian ini juga mengungkap bahwa Singapura menjadi wilayah sebaran baru bagi spesies ubur-ubur kotak mematikan lain, Chironex indrasaksajiae, yang sebelumnya hanya diketahui hidup di Thailand.

Predator Transparan yang Sulit Dilihat

Ubur-ubur kotak dikenal sebagai salah satu hewan laut paling berbahaya di dunia. Beberapa spesies dalam genus Chironex mampu menyebabkan rasa sakit hebat, gangguan jantung, hingga kematian dalam waktu singkat akibat racun yang sangat kuat.

Namun hewan ini juga terkenal sulit dipelajari karena tubuhnya hampir transparan ketika berada di dalam air.

“Menemukan ubur-ubur kotak yang sangat berbisa dan hampir tidak terlihat di air bukanlah tugas mudah,” tulis tim peneliti dalam keterangan resminya.

Spesies baru tersebut ditemukan di sekitar Pulau Sentosa dan Selat Singapura. Pada awalnya para peneliti menduga ubur-ubur itu merupakan Chironex yamaguchii, spesies yang sebelumnya dikenal dari Jepang dan Filipina. Namun analisis morfologi dan DNA menunjukkan bahwa hewan tersebut merupakan spesies berbeda.

Peta lokasi pengambilan sampel ubur-ubur di Singapura, yang menunjukkan lokasi ditemukannya spesies baru serta lokasi pertama kali ditemukannya C. indrasaksajiae di Singapura.

Dari gunung hingga laut, kami kirim langsung ke Anda. Join Saluran WhatsApp Lingkar Bumi sekarang.

Nama dari Sejarah Kelam Sentosa

Nama blakangmati diambil dari nama lama Pulau Sentosa, yaitu “Pulau Blakang Mati”. Dalam sejarah Singapura, nama itu kerap diterjemahkan sebagai “pulau kematian di belakang”. Peneliti menggunakan nama tersebut untuk menandai lokasi penemuan spesies baru ini.

Penelitian ini menjadikan Chironex blakangmati sebagai spesies keempat yang resmi masuk dalam genus Chironex. Sebelumnya hanya dikenal tiga spesies utama, yakni Chironex fleckeri dari Australia, Chironex yamaguchii dari Jepang dan Filipina, serta Chironex indrasaksajiae dari Thailand.

Secara kasat mata, spesies baru ini sangat mirip dengan kerabatnya. Karena itu para peneliti harus melakukan pemeriksaan detail terhadap struktur tubuh dan analisis genetik.

C. blakangmati memiliki tujuh tentakel pada setiap pedalium, bentuk kanal menyerupai gunung berapi, serta ujung kanal velarium yang lebih tajam dibanding spesies lain. Yang paling menarik, spesies ini tidak memiliki kanal tertentu pada bagian tubuh yang disebut perradial lappets.

Ahli ubur-ubur Cheryl Lewis Ames yang juga menulis laporan penelitian tersebut mengaku sempat mengira spesies itu hanyalah variasi dari C. yamaguchii.

“Saya sampai harus membuka kembali koleksi lama Chironex yamaguchii dari Okinawa untuk membandingkannya,” ujarnya.

Perbedaan kecil pada struktur kanal itulah yang akhirnya menjadi petunjuk penting bahwa spesies tersebut belum pernah dideskripsikan sebelumnya.

Jejak Ubur-Ubur Beracun di Singapura

Penelitian juga mengungkap bahwa Singapura sebenarnya telah lama memiliki sejarah kemunculan ubur-ubur kotak beracun.

Catatan lama menyebutkan adanya kasus kematian akibat sengatan “sea wasp” pada tahun 1974. Setelah puluhan tahun nyaris tidak terdengar, laporan kemunculan box jellyfish kembali meningkat sejak 2017 di sejumlah kawasan pantai seperti Sentosa, Changi, dan East Coast Park.

Beberapa pantai bahkan sempat ditutup sementara setelah muncul laporan keberadaan ubur-ubur beracun di dekat area wisata.

Para peneliti menilai meningkatnya aktivitas rekreasi pantai, perubahan lingkungan laut, hingga faktor iklim dapat berpengaruh terhadap meningkatnya laporan kemunculan hewan tersebut.

Asia Tenggara Masih Menyimpan Banyak Misteri Laut

Penemuan Chironex blakangmati menunjukkan bahwa biodiversitas laut Asia Tenggara masih jauh dari sepenuhnya terpetakan. Bahkan di wilayah urban seperti Singapura, spesies baru masih bisa ditemukan di perairan pesisir yang ramai aktivitas manusia.

Analisis filogenetik dalam penelitian ini menunjukkan bahwa C. blakangmati membentuk cabang evolusi tersendiri, meski masih berkerabat dekat dengan C. yamaguchii.

Selain itu, keberadaan C. indrasaksajiae di Singapura memperluas wilayah sebaran spesies tersebut dari Thailand menuju kawasan Selat Singapura. Temuan ini mengindikasikan bahwa distribusi ubur-ubur kotak di Asia Tenggara kemungkinan jauh lebih luas dibanding perkiraan sebelumnya.

Bagi dunia sains, penemuan ini bukan sekadar penambahan nama spesies baru. Penelitian terhadap box jellyfish juga penting untuk keselamatan manusia, terutama di kawasan tropis dengan aktivitas wisata bahari yang tinggi.

Sebab di balik tubuh transparannya, hewan ini menyimpan salah satu racun laut paling mematikan di dunia. (Wage Erlangga)

Lanjut lagi...

topi inggris

Orang Inggris Dulu Menilai Kelas Sosial Hanya dari Topi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *