Views: 6
Perubahan iklim global mulai mengubah pola reproduksi penyu laut. Sebuah studi terbaru yang dipimpin tim peneliti dari Queen Mary University of London menemukan bahwa penyu tempayan atau Loggerhead sea turtle kini bertelur lebih awal dalam satu musim, tetapi menghasilkan lebih sedikit telur dan lebih jarang kembali untuk bertelur dibandingkan sebelumnya.
Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal Animals, 11 Februari 2026 setelah penelitian lapangan selama 17 tahun terhadap populasi penyu di Cabo Verde, salah satu lokasi peneluran terbesar di dunia untuk spesies tersebut.
Peneliti utama, Fitra Arya Dwi Nugraha, dari Queen Mary University of London, mengatakan bahwa perubahan suhu laut telah menggeser ritme biologis penyu.
“Penyu laut merespons suhu yang lebih hangat dengan memulai musim bertelur lebih awal. Namun, pada saat yang sama, kami melihat adanya penurunan jumlah telur dan frekuensi bertelur,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Bertelur Lebih Awal, Tapi Lebih Jarang
Secara kasat mata, pantai-pantai peneluran di Cabo Verde masih terlihat aktif. Namun, analisis jangka panjang menunjukkan gambaran yang lebih kompleks. Interval waktu antar musim bertelur pada individu yang sama kini menjadi lebih panjang. Jika sebelumnya penyu kembali bertelur setiap dua hingga tiga tahun, kini sebagian membutuhkan waktu hingga empat tahun.
Selain itu, jumlah kelompok telur (clutch) yang dihasilkan dalam satu musim juga menurun. Artinya, meskipun musim dimulai lebih cepat, total output reproduksi cenderung lebih rendah.
Menurut para peneliti, fenomena ini berkaitan erat dengan kondisi di wilayah pakan. Penyu termasuk spesies yang dikenal sebagai capital breeders, yaitu hewan yang mengandalkan cadangan energi yang dikumpulkan saat berada di laut untuk mendukung seluruh proses reproduksi.
“Kondisi laut yang semakin hangat tidak selalu berarti lebih produktif,” kata Fitra. “Jika produktivitas primer di wilayah pakan menurun, maka penyu tidak memperoleh energi yang cukup untuk menghasilkan telur dalam jumlah optimal.”
Penurunan produktivitas laut dapat dipicu oleh berbagai faktor, termasuk perubahan pola arus, stratifikasi kolom air akibat pemanasan, hingga tekanan aktivitas manusia seperti penangkapan ikan berlebih dan pencemaran.
Konservasi Tak Cukup Hanya di Pantai
Temuan ini mempertegas bahwa perlindungan pantai peneluran saja tidak cukup untuk memastikan keberlanjutan populasi penyu. Selama ini, banyak program konservasi berfokus pada pengamanan sarang dari predator dan aktivitas manusia. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa ancaman terbesar mungkin justru terjadi jauh dari pantai — di habitat makan mereka di laut lepas.
“Upaya konservasi harus memperluas fokusnya, termasuk melindungi ekosistem laut yang menjadi sumber energi utama penyu,” kata Fitra.
Para ilmuwan menekankan bahwa tanpa pendekatan terpadu yang mencakup perlindungan habitat laut dan pengurangan dampak perubahan iklim, populasi penyu global dapat mengalami tekanan jangka panjang yang serius, meskipun jumlah sarang di pantai terlihat stabil.

(a) Terlihat tren penurunan frekuensi clutch antara 2008–2024. (b) Frekuensi clutch paling baik diprediksi oleh kadar klorofil-a (CHL) di wilayah pakan. (c) Terjadi tren penurunan ukuran clutch dari 2008 hingga 2024. Area yang diarsir menunjukkan interval kepercayaan 95%. (d) Grafik interaksi tiga arah yang menunjukkan hubungan saling tukar (trade-off) antara klorofil-a (CHL) di wilayah pakan, panjang lengkung karapas penyu (CCL), dan suhu permukaan laut (SST).
Dari gunung hingga laut, kami kirim langsung ke Anda. Join Saluran WhatsApp Lingkar Bumi sekarang.
Penyu Hijau di Pantai Selatan Jawa
Tren serupa juga terlihat di Indonesia. Di sepanjang pantai selatan Jawa, populasi Green sea turtle dilaporkan menunjukkan penurunan frekuensi bertelur.
Artikel yang diterbitkan oleh Lingkar Bumi pada 22 Januari 2026 mencatat bahwa penyu hijau kini lebih jarang mendarat untuk bertelur dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Wilayah seperti Tasikmalaya dan Sukabumi yang sebelumnya dikenal sebagai lokasi peneluran rutin, menghadapi tekanan lingkungan yang signifikan.
Beberapa faktor yang disebutkan antara lain abrasi pantai yang menyempitkan area bertelur, gangguan cahaya buatan dari permukiman dan fasilitas wisata, serta aktivitas manusia di zona pesisir. Perubahan morfologi pantai akibat erosi juga mengurangi vegetasi pelindung alami yang penting bagi keberhasilan penetasan.
Data pemantauan jangka panjang menunjukkan fluktuasi signifikan dalam jumlah individu yang mendarat dan jumlah telur yang dihasilkan setiap tahun. Kondisi ini memperlihatkan betapa rentannya populasi penyu terhadap perubahan habitat yang cepat.
Upaya konservasi di wilayah tersebut kini menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah, pengelola kawasan, komunitas lokal, dan organisasi lingkungan. Pengendalian aktivitas manusia di zona peneluran, restorasi vegetasi pantai, serta edukasi masyarakat menjadi bagian penting dari strategi perlindungan.
Tantangan Global, Tanggung Jawab Bersama
Baik pada loggerhead di Atlantik maupun penyu hijau di Indonesia, pesan yang muncul serupa: perubahan iklim dan tekanan lingkungan berdampak nyata pada sistem reproduksi penyu laut.
Perubahan waktu bertelur mungkin terlihat sebagai bentuk adaptasi terhadap pemanasan global. Namun, jika energi yang tersedia tidak mencukupi, adaptasi tersebut tidak cukup untuk menjaga stabilitas populasi dalam jangka panjang.
Para peneliti menegaskan bahwa konservasi penyu memerlukan pendekatan lintas wilayah dan lintas sektor. Perlindungan pantai harus berjalan seiring dengan upaya menjaga kesehatan laut, mengurangi emisi gas rumah kaca, serta membatasi aktivitas yang merusak ekosistem pesisir.
Dengan siklus hidup yang panjang dan ketergantungan pada berbagai habitat berbeda sepanjang hidupnya, penyu laut menjadi indikator penting kesehatan ekosistem global. Ketika pola reproduksi mereka berubah, itu bukan sekadar fenomena biologis, melainkan sinyal bahwa sistem pendukung kehidupan di laut sedang mengalami tekanan.
Jika tren ini berlanjut tanpa intervensi yang efektif, generasi mendatang mungkin hanya akan mengenal sebagian spesies penyu laut melalui catatan ilmiah dan dokumentasi sejarah. (Sulung Prasetyo)







