Views: 8
Upaya menyelamatkan salah satu ikan air tawar paling langka di Indonesia mencatat kemajuan penting. Tim peneliti berhasil mengadaptasi dan membiakkan ikan cupang liar Betta channoides, spesies endemik Kalimantan Timur yang terancam punah, di luar habitat alaminya. Keberhasilan ini menandai tonggak baru dalam strategi konservasi ikan hias Indonesia yang selama ini tertekan oleh kerusakan lingkungan dan eksploitasi berlebihan.
Betta channoides, yang kerap disebut “snakehead betta” karena bentuk kepalanya, merupakan ikan kecil berwarna mencolok yang hidup di perairan hitam ber-pH rendah di hutan gambut Kalimantan Timur. Spesies ini hanya ditemukan di wilayah yang sangat terbatas dan bergantung pada ekosistem sungai kecil yang tertutup vegetasi lebat. Kondisi tersebut membuatnya sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan.
Menurut Agus Priyadi, salah satu peneliti dalam studi yang dipublikasikan di jurnal ilmiah Aquaculture, Januari 2026, tujuan utama penelitian ini adalah membuktikan bahwa Betta channoides dapat beradaptasi dan berkembang biak di lingkungan penangkaran yang terkontrol. “Selama ini data tentang biologi reproduksi dan pertumbuhan awal spesies ini sangat terbatas. Padahal, informasi tersebut krusial untuk konservasi,” ungkap Priyadi.
Indikator Keberhasilan
Penelitian dilakukan dengan membawa ikan dari Kalimantan Timur ke fasilitas budidaya di Depok, Jawa Barat. Jarak yang jauh dari habitat asli menjadi tantangan tersendiri, mengingat ikan ini terbiasa hidup di air gambut yang gelap, asam, dan relatif stabil. Tim peneliti kemudian menyesuaikan kondisi lingkungan secara bertahap agar ikan dapat beradaptasi tanpa mengalami stres berlebihan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Betta channoides mampu beradaptasi dengan baik di akuarium kaca yang dirancang menyerupai kondisi alamnya. Indikator fisiologis menunjukkan tingkat stres yang lebih rendah dibandingkan wadah lain, sekaligus mendukung pematangan organ reproduksi. Dengan pemberian pakan hidup yang tepat, ikan-ikan tersebut berhasil mencapai fase siap kawin.
Keberhasilan paling signifikan dicapai ketika pasangan jantan dan betina mampu memijah secara alami di penangkaran. Setiap pemijahan menghasilkan puluhan larva yang kemudian tumbuh stabil setelah melewati fase penyerapan cadangan makanan dari telur. Menurut Priyadi, capaian ini menjadi bukti bahwa domestikasi spesies cupang liar yang sensitif bukan hal mustahil jika dilakukan dengan pendekatan ilmiah yang tepat.

Langkah Penting untuk Konservasi
Peneliti lain dalam tim, Asep Permana, menegaskan bahwa keberhasilan ini bukan semata-mata soal budidaya ikan hias. “Ini adalah langkah penting untuk konservasi. Dengan adanya populasi cadangan di luar alam, risiko kepunahan total akibat bencana ekologis di habitat asli bisa ditekan,” tulisnya dalam laporan penelitian.
Kondisi Betta channoides di alam liar saat ini memang memprihatinkan. Habitat aslinya di Kalimantan Timur terus menyusut akibat alih fungsi lahan, terutama pembukaan perkebunan skala besar, pembangunan infrastruktur, dan degradasi hutan gambut. Perubahan kualitas air, sedimentasi, serta hilangnya vegetasi penutup membuat lingkungan sungai kecil yang menjadi rumah ikan ini semakin tidak stabil.
Selain kerusakan habitat, tekanan lain datang dari perdagangan ikan hias. Keindahan warna dan statusnya sebagai spesies langka membuat Betta channoides diminati kolektor internasional. Penangkapan dari alam, yang sering kali tidak terkontrol, mempercepat penurunan populasi liar. Dalam banyak kasus, penangkapan dilakukan tanpa mempertimbangkan keberlanjutan, bahkan di lokasi yang populasinya sudah sangat kecil.
Para peneliti mencatat bahwa tanpa intervensi serius, populasi Betta channoides di alam berisiko terus menurun. Oleh karena itu, program konservasi eks-situ seperti yang dilakukan dalam penelitian ini dipandang sebagai pelengkap penting bagi perlindungan habitat alami. Penangkaran bukan untuk menggantikan alam, tetapi untuk memberi waktu dan peluang bagi pemulihan ekosistem.
Perlu Kajian Lanjutan
Ke depan, tim peneliti menilai masih diperlukan kajian lanjutan, termasuk pengelolaan keragaman genetik agar populasi hasil penangkaran tetap sehat dan tidak mengalami penurunan kualitas akibat perkawinan sedarah. Selain itu, rencana restocking atau pelepasliaran kembali ke alam harus dilakukan secara hati-hati, dengan mempertimbangkan kondisi habitat dan dampak ekologisnya.
Bagi Indonesia, negara dengan kekayaan ikan air tawar tertinggi di dunia, keberhasilan domestikasi Betta channoides menjadi contoh bagaimana ilmu pengetahuan dapat berperan langsung dalam upaya pelestarian keanekaragaman hayati. Studi ini juga menunjukkan bahwa konservasi tidak selalu harus dimulai dari kawasan terpencil, tetapi bisa dilakukan di laboratorium dan fasilitas budidaya, selama tujuannya jelas dan berbasis data.
Di tengah tekanan terhadap ekosistem air tawar yang terus meningkat, kisah keberhasilan ini menjadi pengingat bahwa dengan pendekatan ilmiah, kesabaran, dan komitmen jangka panjang, peluang untuk menyelamatkan spesies langka masih terbuka. (Wage Erlangga)





