Views: 8
Sebuah penelitian terbaru menemukan bahwa evolusi yang terjadi sangat cepat dapat membantu spesies pulih dari kekeringan ekstrem akibat perubahan iklim. Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal ilmiah Science, Maret 2026, para ilmuwan menunjukkan bahwa beberapa populasi tanaman mampu beradaptasi secara genetik hanya dalam beberapa generasi, sehingga dapat bertahan dan kembali pulih setelah mengalami tekanan lingkungan yang berat.
Penelitian berjudul “Rapid evolution predicts demographic recovery after extreme drought” ini meneliti tanaman liar Mimulus cardinalis, bunga merah yang tumbuh di sepanjang aliran sungai di wilayah barat Amerika Utara, terutama di California dan Oregon. Tanaman ini dikenal sebagai scarlet monkeyflower dan sering digunakan ilmuwan sebagai model untuk mempelajari bagaimana spesies beradaptasi terhadap perubahan lingkungan.
Studi tersebut memberikan bukti lapangan yang kuat tentang fenomena yang dikenal sebagai evolutionary rescue, yaitu ketika evolusi yang berlangsung cepat mampu menyelamatkan populasi dari kepunahan akibat perubahan lingkungan yang ekstrem.
Bagaimana Spesies Bisa Bertahan dari Kekeringan Ekstrem
Para peneliti mulai memantau populasi tanaman ini sejak 2010. Dua tahun kemudian, California mengalami salah satu kekeringan paling parah dalam sejarah modern. Curah hujan menurun drastis selama beberapa tahun berturut-turut, menyebabkan banyak aliran sungai kecil—habitat utama tanaman tersebut—menyusut bahkan mengering.
Akibatnya, populasi Mimulus cardinalis di sejumlah lokasi turun tajam. Di beberapa tempat, tanaman yang biasanya tumbuh di sepanjang tepian sungai hampir sepenuhnya hilang.
Namun setelah kekeringan mereda, para peneliti melihat sesuatu yang tidak terduga. Di beberapa lokasi, populasi tanaman mulai pulih kembali.
“Populasi yang pulih adalah populasi yang berevolusi paling cepat,” kata Daniel Anstett, penulis utama penelitian tersebut.
Temuan ini menunjukkan bahwa pemulihan populasi tidak hanya bergantung pada kondisi lingkungan yang membaik, tetapi juga pada perubahan genetik yang terjadi selama periode kekeringan.
Penelitian Menunjukkan Evolusi Bisa Terjadi dalam Hitungan Generasi
Untuk memahami mekanisme di balik pemulihan tersebut, para ilmuwan menganalisis DNA tanaman yang dikumpulkan sebelum, selama, dan setelah kekeringan. Mereka membandingkan puluhan populasi dan meneliti perubahan genetik yang terjadi dalam periode lebih dari satu dekade.
Hasil analisis menunjukkan adanya perubahan pada ratusan penanda genetik yang berkaitan dengan kemampuan tanaman bertahan dalam kondisi kering. Gen-gen tersebut memengaruhi cara tanaman mengatur penggunaan air, termasuk mekanisme pada stomata—pori kecil di permukaan daun yang mengontrol penguapan air dan pertukaran gas saat fotosintesis.
Tanaman yang lebih efisien dalam menggunakan air memiliki peluang lebih besar untuk bertahan hidup selama kekeringan dan menghasilkan keturunan. Dalam beberapa generasi saja, sifat tersebut menjadi semakin umum dalam populasi.
Fenomena ini menjadi bukti nyata bahwa evolusi tidak selalu membutuhkan waktu ribuan tahun. Dalam kondisi tekanan lingkungan yang kuat, seleksi alam dapat mendorong perubahan genetik yang signifikan dalam waktu yang relatif singkat.
Dari gunung hingga laut, kami kirim langsung ke Anda. Join Saluran WhatsApp Lingkar Bumi sekarang.
Mengapa Keanekaragaman Genetik Penting bagi Adaptasi Iklim
Penelitian ini juga menemukan bahwa tidak semua populasi memiliki kemampuan yang sama untuk bertahan dari kekeringan.
Populasi yang berhasil pulih ternyata memiliki tingkat keanekaragaman genetik yang lebih tinggi bahkan sebelum kekeringan terjadi. Variasi genetik ini menyediakan “bahan baku” bagi seleksi alam untuk bekerja ketika lingkungan berubah secara drastis.
“Variasi genetik yang kami lihat bahkan sebelum kekeringan ternyata dapat memprediksi pemulihan populasi lima hingga tujuh tahun kemudian,” kata Anstett.
Sebaliknya, populasi dengan keragaman genetik rendah cenderung lebih rentan terhadap kepunahan karena mereka memiliki pilihan adaptasi yang lebih terbatas.
Temuan ini memperkuat pemahaman lama dalam biologi konservasi: semakin besar keragaman genetik suatu populasi, semakin besar peluang spesies tersebut untuk beradaptasi terhadap perubahan lingkungan.
Pelajaran bagi Konservasi di Era Perubahan Iklim
Bagi para ilmuwan, hasil penelitian ini membawa dua pesan penting sekaligus: harapan dan peringatan.
Di satu sisi, temuan ini menunjukkan bahwa beberapa spesies memiliki kemampuan untuk beradaptasi terhadap perubahan iklim melalui evolusi cepat. “Selama ini ada kekhawatiran bahwa perubahan iklim terjadi terlalu cepat sehingga evolusi tidak dapat mengejarnya,” kata Amy Angert, penulis senior penelitian tersebut. “Penelitian ini menunjukkan bahwa setidaknya pada monkeyflower, mereka dapat mengikuti perubahan itu dan menyelamatkan diri melalui evolusi.”
Namun kemampuan tersebut tidak berlaku bagi semua spesies. Banyak organisme memiliki siklus hidup yang panjang, populasi kecil, atau keragaman genetik rendah—faktor-faktor yang dapat memperlambat proses adaptasi.
Karena itu, menjaga keanekaragaman genetik dalam populasi alami menjadi salah satu strategi penting dalam konservasi di tengah krisis iklim global. Jika keragaman genetik hilang akibat kerusakan habitat atau penurunan populasi, kemampuan evolusi untuk menyelamatkan spesies juga ikut hilang.
Di tengah berbagai kabar buruk tentang dampak perubahan iklim terhadap keanekaragaman hayati, kisah bunga kecil di tepi sungai ini memberi secercah harapan. Alam ternyata memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan cara yang kadang mengejutkan.
Namun harapan itu hanya akan bertahan jika manusia memberi ruang bagi alam untuk berevolusi—dengan melindungi habitat, menjaga populasi tetap cukup besar, dan mempertahankan kekayaan genetik yang menjadi fondasi ketahanan kehidupan di planet ini. (Sulung Prasetyo)







