Views: 11
Di lereng-lereng gunung yang menjadi tujuan para pendaki, jalur setapak tampak seperti bagian alami dari lanskap. Tanah yang terbuka, akar pohon yang muncul di permukaan, dan batu-batu kecil yang terserak sering dianggap sebagai karakter khas jalur pendakian.
Namun bagi para ilmuwan yang mempelajari ekologi pegunungan, jalur tersebut menyimpan cerita lain.
Di balik jejak kaki para pendaki, proses perubahan lanskap sedang berlangsung secara perlahan. Tanah yang awalnya stabil berubah menjadi padat, vegetasi menghilang, dan air hujan mulai mengalir di sepanjang jalur. Dari sinilah erosi sering dimulai.
Sejumlah penelitian ilmiah dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa jalur pendakian dapat menjadi salah satu sumber degradasi lingkungan yang signifikan di kawasan pegunungan.
Dalam penelitian yang dipublikasikan jurnal ilmiah mengungkap bagaimana aktivitas rekreasi seperti hiking dan mountain biking dapat memicu kerusakan jalur pendakian, mulai dari perubahan struktur tanah hingga erosi yang serius.
Penelitian berjudul “Soil erosion in recreational mountain trails: A review and future research directions”, diterbitkan dalam jurnal Environmental Pollution pada tahun 2021. Studi ini dipimpin oleh peneliti Jorge Andrés López-Vicente yang mengkaji berbagai penelitian tentang erosi tanah pada jalur rekreasi di kawasan pegunungan.
Penelitian tersebut memberikan gambaran ilmiah tentang bagaimana jalur pendakian dapat berubah dari sekadar lintasan rekreasi menjadi titik awal degradasi lingkungan.
Mengapa Jalur Pendakian Bisa Menjadi Sumber Erosi
Pada awalnya, jalur pendakian dibuat justru untuk melindungi alam. Dengan menyediakan jalur khusus bagi pengunjung, dampak aktivitas manusia diharapkan dapat terkonsentrasi pada satu area sehingga tidak menyebar ke seluruh ekosistem.
Namun dalam praktiknya, jalur pendakian sering berkembang menjadi sumber erosi baru di lanskap pegunungan.
Penelitian yang dipimpin oleh López-Vicente menemukan bahwa jalur rekreasi sering berfungsi sebagai jalur aliran air ketika hujan turun.
“Jalur pendakian dapat menjadi jalur utama aliran air permukaan yang membawa partikel tanah ke bagian bawah lereng,” kata López-Vicente dalam kajiannya yang dipublikasikan di Environmental Pollution pada 2021.
Proses tersebut biasanya dimulai dari pemadatan tanah akibat injakan manusia.
Ketika ribuan orang berjalan di jalur yang sama, pori-pori tanah perlahan tertutup. Tanah yang padat kehilangan kemampuannya menyerap air. Akibatnya, ketika hujan turun, air tidak lagi meresap ke dalam tanah tetapi mengalir di permukaan jalur.
Aliran air ini kemudian mengikis lapisan tanah sedikit demi sedikit.
Dalam jangka waktu yang panjang, jalur yang awalnya hanya berupa tanah terbuka dapat berubah menjadi alur erosi yang semakin dalam.
Mengapa Jalur Pendakian Cepat Rusak
Penelitian López-Vicente menunjukkan bahwa kerusakan jalur pendakian merupakan hasil dari kombinasi antara aktivitas manusia dan faktor lingkungan.
Kemiringan lereng menjadi salah satu faktor yang paling berpengaruh.
“Semakin curam sebuah jalur, semakin besar potensi erosi yang terjadi,” jelas López-Vicente.
Di jalur dengan kemiringan tinggi, air hujan mengalir lebih cepat dan membawa partikel tanah lebih banyak.
Selain kemiringan, jenis tanah juga berpengaruh terhadap tingkat kerusakan jalur. Tanah bertekstur halus seperti debu dan lempung lebih mudah terbawa air dibandingkan tanah berbatu.
Curah hujan yang tinggi juga mempercepat proses degradasi jalur.
Di kawasan pegunungan tropis, hujan deras dapat mengubah jalur pendakian menjadi saluran air dalam waktu singkat.
Intensitas penggunaan jalur menjadi faktor lain yang tidak kalah penting.
Ketika jumlah pendaki meningkat, tanah mengalami tekanan yang semakin besar. Vegetasi di sepanjang jalur perlahan hilang karena terinjak. Tanah yang terbuka kemudian menjadi lebih rentan terhadap erosi.
Dalam banyak kasus, pendaki juga memperlebar jalur secara tidak sengaja ketika mencoba menghindari bagian yang berlumpur atau rusak.
Fenomena ini menyebabkan jalur pendakian semakin melebar dari waktu ke waktu.
Apakah Hiking atau Sepeda Gunung Lebih Merusak Jalur
Perdebatan mengenai aktivitas mana yang lebih merusak jalur sudah lama muncul dalam komunitas outdoor.
Sebagian orang berpendapat bahwa sepeda gunung lebih merusak karena roda sepeda dapat menggali tanah. Namun penelitian terbaru menunjukkan gambaran yang lebih kompleks.
Hal tersebut dijelaskan dalam penelitian berjudul “Trail degradation caused by mountain biking and hiking: A multidimensional analysis”, juga diterbitkan di jurnal Environmental Pollution pada Februari 2024. Penelitian ini dipimpin oleh Jiangfeng Li dan timnya yang meneliti bagaimana aktivitas manusia memengaruhi kondisi jalur di taman alam di Hong Kong. para peneliti menganalisis kondisi jalur di sebuah taman alam di Hong Kong selama sekitar satu setengah tahun.
Mereka membandingkan tiga jenis jalur: jalur yang digunakan untuk hiking, jalur yang digunakan oleh sepeda gunung, dan jalur alami yang tidak digunakan sebagai pembanding.
Menurut Li, kerusakan jalur tidak bisa diukur hanya dari satu indikator.
“Degradasi jalur merupakan fenomena yang kompleks karena melibatkan berbagai perubahan pada tanah dan bentuk jalur,” jelas Li dalam penelitiannya.
Para peneliti kemudian menganalisis berbagai aspek kerusakan jalur, termasuk perubahan bentuk jalur, pemadatan tanah, tekstur tanah, dan tanda-tanda erosi.
Hasilnya menunjukkan bahwa aktivitas hiking ternyata berdampak pada hampir semua aspek kerusakan jalur.
“Dalam penelitian kami, aktivitas hiking memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap degradasi jalur dibandingkan sepeda gunung ketika faktor topografi diperhitungkan,” kata Li.
Namun ia juga menekankan bahwa kondisi lanskap tetap menjadi faktor yang paling menentukan.
“Topografi merupakan faktor dominan yang memengaruhi tingkat kerusakan jalur,” ujarnya.
Bagaimana Struktur Tanah di Jalur Pendakian Berubah
Salah satu temuan penting dari penelitian tersebut adalah bahwa kerusakan jalur tidak hanya terjadi di permukaan tanah.
Injakan kaki manusia dapat meningkatkan kepadatan tanah secara signifikan.
Tanah yang padat membuat akar tanaman sulit menembus lapisan tanah. Ketika vegetasi tidak dapat tumbuh kembali, jalur kehilangan perlindungan alaminya.
Akibatnya tanah menjadi lebih rentan terhadap erosi.
Pada tahap berikutnya, aliran air hujan mulai membentuk alur kecil di sepanjang jalur.
Alur tersebut dapat berkembang menjadi parit erosi yang semakin dalam setiap musim hujan.
Dalam beberapa kasus ekstrem, jalur pendakian dapat berubah menjadi saluran air permanen yang membawa sedimen dari lereng gunung ke bagian bawah.
Sedimen tersebut kemudian dapat masuk ke sungai dan meningkatkan kekeruhan air.
Mengapa Desain Jalur Pendakian Menjadi Kunci
Temuan dari kedua penelitian tersebut menunjukkan bahwa desain jalur pendakian memiliki peran penting dalam mencegah kerusakan lingkungan.
Jalur yang dirancang tanpa memperhatikan kontur lereng sering kali mengikuti garis lurus menuju puncak. Jalur seperti ini memiliki kemiringan yang tinggi sehingga mudah tererosi oleh air hujan.
Sebaliknya, jalur yang dirancang mengikuti kontur lereng dapat mengurangi kecepatan aliran air.
“Desain jalur yang mempertimbangkan kondisi topografi sangat penting untuk mengurangi risiko erosi,” kata López-Vicente.
Selain desain jalur, pemeliharaan jalur juga menjadi faktor penting dalam menjaga kondisi trail.
Jalur yang rusak perlu diperbaiki secara berkala agar tidak berkembang menjadi kerusakan yang lebih besar.
Apa Artinya bagi Gunung-Gunung di Indonesia
Temuan dari dua penelitian tersebut memiliki implikasi penting bagi kawasan pegunungan di Indonesia.
Gunung-gunung populer seperti Rinjani, Semeru, dan Gede Pangrango menerima puluhan ribu pendaki setiap tahun. Banyak jalur pendakian di kawasan ini melewati lereng curam dengan curah hujan tinggi.
Kombinasi antara jumlah pendaki yang besar dan kondisi alam yang ekstrem membuat jalur pendakian di kawasan tropis sangat rentan mengalami degradasi.
Jika jalur tidak dirancang dengan baik atau tidak dirawat secara berkala, kerusakan tanah dapat terjadi dengan cepat.
Dalam jangka panjang, hilangnya lapisan tanah di pegunungan dapat memengaruhi stabilitas lereng dan kesehatan ekosistem hutan.
Bagi para peneliti seperti López-Vicente dan Li, tantangan terbesar ke depan adalah menemukan cara agar manusia tetap dapat menikmati alam tanpa merusak fondasi ekologisnya.
Di tengah meningkatnya minat terhadap kegiatan outdoor di seluruh dunia, jalur pendakian menjadi pengingat bahwa bahkan jejak kaki manusia yang tampaknya ringan sekalipun dapat meninggalkan dampak yang jauh lebih besar daripada yang terlihat di permukaan. (Sulung Prasetyo)







