20 Mei 2024
Pejalan kaki diklaim sebagai pahlawan lingkungan saat ini.
Sementara itu, dari pejalan kaki dan pemakai sepeda, hanya mengeluarkan angka nihil alias nol untuk karbon yang dikeluarkan. Jadi jelas mengapa pejalan kaki dan pemakai sepeda, merupakan pelaku yang paling layak dijadikan pahlawan lingkungan saat ini.

Views: 5

Akhir-akhir ini orang sering membicarakan masalah kepahlawanan. Kata ‘pahlawan’ menjadi polemik, ketika mantan presiden Soeharto wafat dahulu. Bagi yang merasa pernah dibantu, diuntungkan atau ditolong olehnya, akan serempak bilang kalau pria kelahiran Kemusuk, Jawa Tengah itu merupakan sosok pahlawan sejati. Sementara yang pernah disakiti, atau dirugikan oleh berbagai kebijakannya, cenderung memojokan dan mencari fakta mengenai ketidaklayakan beliau sebagai pahlawan.

Terlepas dari itu semua, pahlawan tetap pahlawan. Bagi sebuah keluarga kecil, ayah yang baik adalah pahlawan bagi istri dan anak-anak mereka. Untuk para murid, guru yang baik adalah sosok pahlawan yang dicari. Untuk orang yang akan tenggelam, pahlawan adalah orang yang pertama menolongnya.

Dari konteks itu, yang disebut pahlawan ternyata harus memenuhi paling tidak tiga kriteria. Cocok waktu, lokasi, dan manfaat. Tanpa ketiga hal tersebut, mungkin itulah yang disebut pahlawan kesiangan.

Siapa Pantas?

Lalu dengan ukuran tersebut, dan bila dikaitkan dengan isu lingkungan saat ini. Siapa sebenarnya yang pantas disebut sebagai pahlawan?

Jawaban yang tepat untuk pertanyaan itu pastilah para pejalan kaki dan pemakai sepeda. Kenapa? Karena secara waktu, lokasi dan manfaat, sebenarnya para pejalan kaki dan pemakai sepeda sangatlah signifikan dalam mereduksi kasus lingkungan paling utama yang ada sekarang.

Bila ditanyakan apa kasus lingkungan yang paling utama saat ini, jawaban paling tepat merupakan pemanasan global yang mengakibatkan perubahan iklim. Karena kasus tersebut ternyata merupakan muara dari berbagai kasus lingkungan yang ada sekarang. Banjir yang makin menggila, tak akan ada tanpa kontribusi hujan ekstrem yang terjadi.

Itu baru satu contoh akibat dari perubahan iklim yang terjadi karena pemanasan global. Belum lagi rentetan dampak lain, seperti tenggelamnya ratusan pulau kecil, meningkatnya jumlah penyakit dan sebagainya.

Kemudian bila dikaitkan dengan pejalan kaki dan pemakai sepeda, jelas hal tersebut sangat terkait. Karena penyebab perubahan iklim adalah pemanasan global. Sementara itu, penyebab pemanasan global adalah tingginya angka gas yang terdapat di atmosfir bumi. Salah satu gas tersebut merupakan karbondioksida, yang banyak dihasilkan dari pemakaian energi fosil, seperti solar, bensin dan lainnya.

Para pejalan kaki dan pemakai sepeda dapat dianggap sebagai pahlawan lingkungan karena menghasilkan nol emisi penyebab pemanasan global. (photo: pavel dan ilyuk/pexels)

Kenapa Pahlawan?

Untuk di Indonesia, penyebaran angka karbondioksida tertinggi sebenarnya berasal dari kebakaran hutan. Bahkan katanya, karena hal tersebut, Indonesia menduduki posisi tertinggi ketiga di dunia setelah Amerika Serikat dan Cina.

Selain kebakaran hutan, sebenarnya angka signifikan dari penyebar karbon di angkasa dari Indonesia adalah pemakaian sarana transportasi. Terbukti dari data yang dikeluarkan Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLHK), dimana 24 persen karbon dihasilkan dari transportasi. Sementara sektor industri menyumbang sebesar 22 persen, dan kelistrikan menyumbang angka 11 persen.

Dari 24 persen karbon yang dihasilkan sektor transportasi tersebut, 78,4 persen berasal dari sepeda motor, mobil menyumbang 21,9 persen, dan 3,1 persen dari bus (Ezra; 2008). Jadi bisa dibayangkan berapa besar karbon yang dikeluarkan, bila masing-masing kendaraan tersebut dipakai perhari secara spartan.

Dari data yang dikeluarkan Hook dan Wright tahun 2002 lalu, dari mobil berbahan solar sebanyak 172 gram karbon perkilometer. Sementara dari mobil berbahan bakar bensin, lebih banyak lagi, yaitu sebanyak 293 gram karbon perkilometer.

Kalau dari motor empat tak, sebanyak 70 gram karbon dikeluarkan perkilometer, dan dari motor dua tak 118 gram karbon dikeluarkan perkilometer. Belum lagi kalau harus berboncengan, atau satu mobil dipakai empat orang, maka angka karbon akan lebih tinggi karena bobot yang dibebankan.

Sementara itu, dari pejalan kaki dan pemakai sepeda, hanya mengeluarkan angka nihil alias nol untuk karbon yang dikeluarkan. Jadi jelas mengapa pejalan kaki dan pemakai sepeda, merupakan pelaku yang paling layak dijadikan pahlawan lingkungan saat ini. (Sulung Prasetyo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *