Views: 7
Tanda-tanda paling jelas dari dampak perubahan iklim kini muncul di kawasan pegunungan. Sebuah tinjauan ilmiah global menunjukkan bahwa pegunungan, kini justru memanas lebih cepat dibandingkan dataran rendah. Temuan ini menimbulkan ancaman serius terhadap pasokan air alami yang menjadi sumber kehidupan bagi hampir satu miliar orang di dunia.
Kajian yang berjudul “Elevation-dependent climate change in mountain environments” ini dipimpin oleh klimatolog Nick Pepin dari University of Portsmouth. Studi tersebut diterbitkan pada 25 November 2025 di jurnal Nature Reviews Earth & Environment. Analisis ini merangkum empat dekade data iklim dari berbagai sistem pegunungan besar di dunia. Mulai dari Himalaya, Rockies, Andes, Pegunungan Afrika Timur hingga Dataran Tinggi Tibet.
Menurut para penulis, tren suhu dari 1980 hingga 2020 menunjukkan pola konsisten. Wilayah pegunungan mengalami pemanasan lebih cepat dibandingkan dataran rendah. Pemanasan ini disertai penurunan curah hujan dan curah salju rata-rata secara global, masing-masing sebesar –11,5 mm per abad untuk hujan dan –25,6 mm per abad untuk salju. Meski angka tersebut tampak kecil, dampaknya signifikan terhadap pengurangan tutupan salju, mencairnya gletser, dan perubahan pola aliran air di berbagai wilayah.
Mengapa Pegunungan Memanas Lebih Cepat?
Para peneliti menjelaskan sejumlah mekanisme pemicu perubahan iklim berbasis elevasi (EDCC) ini. Hilangnya tutupan salju menurunkan albedo, membuat permukaan pegunungan menyerap lebih banyak radiasi matahari. Atmosfer di ketinggian juga lebih sensitif terhadap perubahan kecil dalam kelembapan spesifik, sehingga memperkuat pemanasan. Di beberapa wilayah, penurunan konsentrasi aerosol membuat lebih banyak sinar matahari mencapai permukaan pegunungan.
“Iklim pegunungan merespons pemanasan global dengan cara yang berbeda dari dataran rendah—dan sering kali dengan intensitas yang lebih besar,” tulis Nick Pepin dalam publikasi tersebut. Pepin menambahkan bahwa perubahan suhu dan presipitasi ini sudah mengubah pola aliran sungai, musim salju, serta dinamika daerah aliran sungai yang menjadi sumber air bagi banyak komunitas.
Pasokan Air Terancam
Rekan penulis, John Knowles, seorang ahli hidrologi dari Montana State University, menggambarkan kawasan pegunungan sebagai “penjaga perubahan” dan memperingatkan bahwa tren pemanasan ini mengancam keamanan air global.
“Pegunungan berfungsi sebagai menara air alami. Mereka menyimpan salju di musim dingin dan melepaskannya secara bertahap sepanjang musim semi dan musim panas. Pola itu kini berubah,” ujar Knowles.
Dengan lebih banyak presipitasi musim dingin yang turun sebagai hujan, bukan salju, ia menjelaskan bahwa risiko banjir musim dingin meningkat sementara cadangan air musim kering berkurang—situasi yang menyulitkan bagi sektor pertanian, energi, hingga kota-kota besar.
Perubahan ini sudah terlihat jelas di Himalaya dan Dataran Tinggi Tibet, tempat gletser menyusut dan tutupan salju menipis, mengubah pola aliran sungai yang menopang kehidupan ratusan juta orang di Asia Selatan dan Timur. Tren serupa juga muncul di Andes dan Rocky Mountains, memengaruhi ekosistem lokal dan ekonomi wilayah hilir.
Kekurangan Data
Meski bukti pemanasan di pegunungan semakin kuat, tinjauan ini menyoroti tantangan besar, minimnya data iklim di elevasi tinggi. Sebagian besar stasiun cuaca berada di dataran rendah atau menengah, sementara puncak gunung—lokasi yang paling rentan terhadap pemanasan—hampir tidak memiliki sistem pemantauan. Kekosongan data ini membatasi akurasi proyeksi risiko jangka panjang, seperti longsor, banjir danau gletser (GLOF), dan kekurangan air.
Para peneliti menyerukan peningkatan jaringan pemantauan melalui pemasangan sensor otomatis di ketinggian, pemanfaatan satelit resolusi tinggi, serta penggunaan drone untuk mengumpulkan data di lokasi yang sulit dijangkau.
“Tanpa data yang lebih baik, kita pada dasarnya terbang tanpa instrumen di salah satu wilayah paling sensitif di dunia,” kata Pepin.
Studi ini menyimpulkan bahwa EDCC membawa konsekuensi luas terhadap ekosistem, keanekaragaman hayati, pertanian, serta risiko bencana. Spesies pegunungan berisiko kehilangan habitat; lereng gunung menjadi lebih tidak stabil; dan masyarakat yang bergantung pada aliran sungai pegunungan mungkin menghadapi kekurangan air musiman.
Meskipun pola global terlihat jelas, para penulis menekankan bahwa setiap pegunungan merespons secara berbeda. Faktor topografi, sirkulasi atmosfer regional, dan perubahan penggunaan lahan menciptakan perbedaan respons yang signifikan antarwilayah. Karena itu, para pembuat kebijakan didorong untuk mengembangkan rencana adaptasi yang spesifik wilayah, bukan pendekatan generik. (Wage Erlangga)





