lahan gambut

Kebakaran Gambut Tropis Sebabkan Kerusakan Tertinggi dalam 2.000 Tahun

Views: 7

Kebakaran lahan gambut tropis kini mencapai tingkat tertinggi dalam setidaknya 2.000 tahun terakhir, menurut penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Global Change Biology pada Maret 2026.

Studi berjudul Unprecedented Burning in Tropical Peatlands During the 20th Century Compared to the Previous Two Millennia ini menunjukkan lonjakan tajam kebakaran sejak abad ke-20—sebuah perubahan yang dinilai tidak lagi didorong oleh faktor alami, melainkan aktivitas manusia.

Penelitian ini dipimpin oleh Yuwan Wang dari University of Exeter bersama tim internasional yang menganalisis jejak kebakaran melalui rekaman arang yang tersimpan dalam sedimen gambut di berbagai wilayah tropis dunia.

“Kami menemukan bahwa aktivitas kebakaran di lahan gambut meningkat secara drastis pada abad ke-20, jauh melampaui variasi alami selama 2.000 tahun terakhir,” kata Wang dalam pernyataan resminya.

Bagaimana Ilmuwan Melacak Sejarah Kebakaran Gambut 2.000 Tahun

Untuk memahami pola kebakaran jangka panjang, para peneliti menganalisis 58 catatan arang dari lahan gambut di Amerika Selatan, Afrika, Asia Tenggara, dan Australasia.

Arang yang terperangkap dalam lapisan gambut berfungsi sebagai arsip alami, memungkinkan ilmuwan merekonstruksi sejarah kebakaran hingga dua milenium ke belakang.

Hasilnya menunjukkan bahwa selama ribuan tahun, kebakaran gambut sangat dipengaruhi oleh faktor iklim—terutama suhu global dan intensitas kekeringan.

Pada periode awal (sekitar tahun 0–850 M), aktivitas kebakaran relatif tinggi. Namun setelah itu, tren justru menurun dan stabil selama lebih dari 1.000 tahun, mengikuti dinamika alami iklim bumi.

Peta lokasi situs penelitian. Lingkaran putih (dengan titik) menunjukkan lokasi gambut, sementara lingkaran abu-abu merepresentasikan situs yang terlibat dalam kebakaran lanskap dari Reading Palaeofire Database (Harrison et al. 2021), berdasarkan PEATMAP (area berarsir merah) (Xu et al. 2018) dengan pembagian wilayah daratan yang berbeda (Olson dan Dinerstein 2002).
Garis pada peta menunjukkan batas wilayah studi dan tidak selalu mencerminkan batas negara yang diakui secara resmi.

Dari gunung hingga laut, kami kirim langsung ke Anda. Join Saluran WhatsApp Lingkar Bumi sekarang.

Mengapa Kebakaran Gambut Meledak pada Abad ke-20

Perubahan besar terjadi pada abad ke-20. Penelitian ini menemukan lonjakan tajam kebakaran gambut yang tidak dapat dijelaskan hanya oleh perubahan iklim. Sebaliknya, pola peningkatan yang berbeda antarwilayah menunjukkan bahwa aktivitas manusia menjadi faktor utama.

Kenaikan paling signifikan terjadi di Asia Tenggara dan Australasia—wilayah yang mengalami perubahan penggunaan lahan secara masif dalam beberapa dekade terakhir.

Drainase gambut untuk pertanian, deforestasi, serta konversi lahan menjadi perkebunan membuat ekosistem ini kehilangan kelembapan alaminya.

Ketika gambut mengering, ia berubah menjadi bahan bakar yang sangat mudah terbakar—bahkan oleh api kecil.

Sebaliknya, wilayah gambut di Amerika Selatan dan Afrika yang relatif masih alami tidak menunjukkan lonjakan kebakaran yang sama.

Namun, Wang memperingatkan bahwa kondisi ini bisa berubah seiring meningkatnya tekanan pembangunan.

Dampak Kebakaran Gambut terhadap Perubahan Iklim Global

Lahan gambut merupakan salah satu penyimpan karbon terbesar di bumi. Meski hanya mencakup sebagian kecil permukaan daratan, ekosistem ini menyimpan karbon dalam jumlah yang sangat besar—terakumulasi selama ribuan tahun.

Ketika gambut terbakar, karbon tersebut dilepaskan secara masif ke atmosfer dalam waktu singkat.

Dampaknya tidak hanya mempercepat pemanasan global, tetapi juga memperburuk kualitas udara dan meningkatkan risiko kesehatan bagi manusia.

“Untuk menghindari emisi karbon besar yang memperparah perubahan iklim, kita harus segera melindungi ekosistem kaya karbon ini,” ujar Wang.

Para peneliti menekankan bahwa solusi utama mencakup konservasi gambut, pengelolaan lahan berkelanjutan, serta restorasi ekosistem dalam skala besar.

Rekonstruksi perubahan kebakaran lahan gambut antara abad ke-20 (1900–2000 M) dan periode 0–1900 M. Perubahan ini dinyatakan sebagai selisih dalam proporsi relatif aliran arang yang telah diskalakan antara rata-rata kedua periode tersebut.
Simbol pada peta menunjukkan lokasi situs penelitian, dengan arah simbol menunjukkan peningkatan atau penurunan kebakaran gambut, serta ukuran simbol menunjukkan besarnya tingkat perubahan.
Situs yang saling bertumpang tindih ditampilkan dalam pembesaran pada panel bagian atas.
Warna latar belakang merepresentasikan fraksi area terbakar rata-rata berdasarkan GFED4s dari tahun 1997 hingga 2016 M (Van Der Werf et al. 2017).
Garis pada peta menunjukkan batas wilayah studi dan tidak selalu mencerminkan batas negara yang diakui secara resmi.

Asia Tenggara Jadi Episentrum Kebakaran Gambut Modern

Temuan penelitian ini menempatkan Asia Tenggara sebagai wilayah dengan peningkatan kebakaran paling signifikan di dunia.

Kawasan ini, termasuk Indonesia, memiliki salah satu bentang gambut tropis terbesar—namun juga mengalami tingkat degradasi yang tinggi.

Gambut terbentuk dari akumulasi material organik yang tidak sepenuhnya terurai dalam kondisi basah dan minim oksigen. Dalam kondisi alami, gambut berfungsi sebagai penyimpan air dan karbon.

Namun ketika dikeringkan melalui kanal untuk pertanian atau perkebunan, struktur ini runtuh. Gambut menjadi kering, mudah terbakar, dan sulit dipadamkan karena api dapat menjalar di bawah permukaan tanah.

Kebakaran Gambut Berulang dan Ancaman Ekspansi Lahan

Di Indonesia, kebakaran gambut telah menjadi krisis berulang, terutama di Sumatra dan Kalimantan.

Peristiwa besar seperti kebakaran hutan dan lahan tahun 2015 menunjukkan bagaimana gambut yang kering dapat memicu bencana kabut asap lintas negara, mengganggu kesehatan jutaan orang dan menyebabkan kerugian ekonomi besar.

Kebakaran ini sebagian besar terkait dengan pembukaan lahan untuk perkebunan dan pertanian, yang melibatkan pengeringan gambut dalam skala luas.

Kini, kekhawatiran serupa mulai muncul di wilayah timur Indonesia, khususnya Papua.

Rencana pengembangan kawasan pangan skala besar atau food estate di Papua berpotensi membuka lahan gambut baru. Jika dilakukan dengan pendekatan yang sama—melalui drainase dan konversi lahan—risiko kebakaran di wilayah ini dapat meningkat di masa depan.

Sejumlah kajian sebelumnya telah memperingatkan bahwa ekosistem gambut di Papua masih relatif utuh dan berfungsi sebagai penyerap karbon penting. Kerusakan pada wilayah ini tidak hanya berdampak lokal, tetapi juga global. (Sulung Prasetyo)

Lanjut lagi...

climbing gear

Menurut UIAA, Ini 10 Hal Penting Saat Memilih Peralatan Panjat

evakuasi di everest

Ngeri, Pendaki Everest Diduga Diracuni demi Evakuasi Helikopter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *