salju kilimanjaro

Dunia Menuju Era Pegunungan Tanpa Salju

Views: 7

Di banyak puncak pegunungan dunia, es abadi yang selama ribuan tahun menjadi penanda lansekap kini berada di ambang kepunahan. Bukan dalam hitungan abad, tetapi dekade. Sebuah studi terbaru yang diterbitkan di jurnal Nature Climate Change, Desember 2025 menunjukkan bahwa dunia sedang bergerak menuju periode gletser-gletser kecil di pegunungan akan menghilang dalam jumlah terbesar, sepanjang sejarah manusia.

Penelitian tersebut memperkenalkan konsep “puncak kepunahan gletser”, yakni masa ketika jumlah gletser yang lenyap setiap tahun mencapai titik tertinggi. Berdasarkan pemodelan iklim global, puncak itu diperkirakan terjadi pada pertengahan abad ke-21, sekitar 2041 hingga 2055. Pada periode ini, ribuan gletser kecil di berbagai belahan dunia diproyeksikan akan hilang setiap tahun.

“Yang paling rentan adalah gletser kecil di pegunungan,” kata Fabien Maussion, salah satu penulis studi tersebut dan peneliti bidang glasiologi yang terlibat dalam pemodelan gletser global. “Gletser-gletser ini memiliki volume es yang kecil, permukaan luas terhadap panas, dan sangat sensitif terhadap perubahan suhu.”

Korban Pertama

Berbeda dengan lapisan es raksasa di Greenland atau Antarktika, sebagian besar gletser dunia berukuran kecil dan berada di pegunungan. Jumlahnya sangat banyak—lebih dari 200.000—tetapi secara volume hanya menyimpan sebagian kecil es global. Justru karena ukurannya kecil inilah, gletser-gletser ini menjadi korban pertama pemanasan global.

Model yang digunakan dalam studi tersebut menggabungkan inventaris gletser dunia dengan tiga model gletser independen, lalu mensimulasikan responsnya terhadap berbagai tingkat kenaikan suhu global, mulai dari 1,5 derajat Celsius hingga 4 derajat Celsius di atas tingkat praindustri. Dalam semua skenario, hasilnya konsisten, gletser kecil menghilang lebih cepat dan lebih awal dibandingkan gletser besar.

Pada skenario pemanasan yang paling rendah sekalipun, yakni 1,5 derajat Celsius, laju kepunahan gletser tetap mencapai puncaknya di pertengahan abad ini. Bedanya, jumlah total gletser yang hilang jauh lebih sedikit dibandingkan skenario pemanasan tinggi. Dalam skenario terburuk, ketika pemanasan global mendekati 4 derajat Celsius, dunia dapat kehilangan hingga sekitar 4.000 gletser per tahun pada masa puncak tersebut.

Bukan Akhir Gletser

Namun para peneliti menegaskan bahwa puncak kepunahan bukan berarti akhir dari seluruh gletser. Setelah periode tersebut, laju kepunahan menurun bukan karena kondisi membaik, melainkan karena sebagian besar gletser kecil sudah lebih dulu lenyap. Yang tersisa adalah gletser besar dan lebih tebal, yang membutuhkan waktu jauh lebih lama untuk mencair sepenuhnya.

Bagi kawasan pegunungan, implikasinya sangat nyata. Pegunungan Alpen di Eropa, misalnya, diperkirakan akan kehilangan hampir seluruh gletser kecilnya dalam beberapa dekade ke depan. Pola serupa terlihat di Pegunungan Andes, Pegunungan Rocky, Kaukasus, hingga wilayah tropis seperti Pegunungan Papua dan Afrika Timur, tempat gletser berada pada ketinggian ekstrem namun tetap sangat rentan terhadap kenaikan suhu.

“Bagi banyak pegunungan, pertengahan abad ini kemungkinan akan menandai berakhirnya keberadaan gletser kecil,” kata Maussion. “Ini bukan lagi proyeksi abstrak, tetapi sesuatu yang sedang berlangsung sekarang.”

Hilangnya gletser kecil membawa dampak yang melampaui sekadar perubahan lanskap. Di banyak wilayah, gletser berfungsi sebagai penyangga air musiman, melepaskan lelehan es secara perlahan saat musim kering. Ketika gletser menghilang, aliran air menjadi lebih ekstrem—melimpah sesaat, lalu mengering lebih cepat—mengancam pasokan air bagi jutaan orang di hilir.

Dampak Sosial Budaya

Dampak sosial dan budaya juga signifikan. Di sejumlah komunitas pegunungan, gletser memiliki makna spiritual dan identitas lokal. Hilangnya gletser sering dipersepsikan bukan hanya sebagai krisis lingkungan, tetapi juga kehilangan simbol sejarah dan warisan budaya.

Studi ini juga menekankan bahwa laju kepunahan gletser sangat bergantung pada keputusan manusia hari ini. Setiap pengurangan pemanasan global, sekecil apa pun, dapat menyelamatkan ribuan gletser dari kepunahan total. Meskipun beberapa gletser kecil sudah berada di titik tanpa kembali, banyak lainnya masih dapat bertahan lebih lama jika emisi gas rumah kaca ditekan secara signifikan.

“Perbedaannya nyata,” kata Maussion. “Dunia dengan pemanasan 1,5 derajat Celsius akan terlihat sangat berbeda dibandingkan dunia dengan pemanasan 3 atau 4 derajat, terutama di pegunungan.”

Para peneliti mengingatkan bahwa hilangnya gletser kecil sering luput dari perhatian publik karena tidak sebesar runtuhnya lapisan es raksasa. Namun secara kumulatif, dampaknya bisa sama besar, terutama bagi ekosistem pegunungan dan masyarakat yang bergantung padanya.

Jika tren pemanasan global saat ini berlanjut, pertengahan abad ke-21 kemungkinan akan dikenang sebagai periode ketika dunia memasuki era baru—era ketika gletser kecil di puncak-puncak gunung, yang selama ini dianggap abadi, berubah menjadi kenangan dalam satu generasi manusia. (Sulung Prasetyo)

Baca juga:

Artikel Dari Penulis Yang Sama

domestikasi serigala

Manusia Lebih Dulu Dekat dengan Serigala Sebelum Anjing

dampak pemanasan global terhadap anak

Pemanasan Global Tak Sekadar Mematikan, Kini Mengancam Kecerdasan Anak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *