Views: 4
Dua spesies belalang sembah asing, Hierodula patellifera dan Hierodula tenuidentata, menunjukkan dampak awal yang signifikan terhadap keanekaragaman hayati di Eropa, termasuk memangsa spesies lokal dan mengganggu proses reproduksi belalang sembah asli, menurut penelitian terbaru yang dipublikasikan di Journal of Orthoptera Research, 9 Februari 2026.
Penelitian tersebut menemukan bahwa kedua spesies asal Asia itu telah menyebar cepat di sejumlah wilayah Eropa dan memperlihatkan tingkat reproduksi tinggi serta pola predasi yang luas. Dalam salah satu temuan kunci, H. tenuidentata dilaporkan mampu menghasilkan rata-rata sekitar 209 nimfa per ootheca atau kantung telur, jumlah yang dinilai lebih tinggi dibandingkan spesies lokal seperti Mantis religiosa.
Belalang Sembah Asing Menyebar Cepat di Eropa
Penelitian yang dipimpin oleh Roberto Battiston mencatat bahwa kedua spesies menunjukkan kemampuan kolonisasi yang kuat dalam beberapa tahun terakhir. Penyebaran terjadi di berbagai habitat, termasuk taman kota, kebun, dan kawasan permukiman.
“Kami mendokumentasikan bukti awal adanya dampak terhadap spesies asli, baik melalui kompetisi maupun predasi langsung,” kata Battiston dalam laporan tersebut.
Menurut penelitian, kemampuan bertahan di lingkungan yang dimodifikasi manusia mempercepat ekspansi populasi dan meningkatkan peluang spesies ini menjadi dominan di wilayah baru.
Salah satu temuan utama adalah adanya interferensi reproduktif dengan spesies asli. Jantan Mantis religiosa dilaporkan tertarik pada betina Hierodula, tetapi dalam sejumlah kasus dimangsa sebelum proses kawin terjadi.
Menurut Battiston, kondisi ini dapat menurunkan keberhasilan reproduksi populasi lokal. “Interaksi ini dapat berdampak pada dinamika populasi spesies lokal dalam jangka panjang,” ujarnya.
Peneliti menyebut gangguan reproduksi sebagai indikator penting dalam menilai risiko spesies invasif terhadap keseimbangan ekosistem.

Dari gunung hingga laut, kami kirim langsung ke Anda. Join Saluran WhatsApp Lingkar Bumi sekarang.
Penelitian Ungkap Pola Predasi dan Ancaman bagi Penyerbuk
Berdasarkan lebih dari 2.300 laporan observasi berbasis ilmu warga, kedua spesies Hierodula diketahui memangsa berbagai jenis serangga, termasuk penyerbuk, serta beberapa vertebrata kecil yang dilindungi oleh regulasi Uni Eropa.
Sifat predator generalis memungkinkan mereka memanfaatkan berbagai sumber makanan. Hal ini dinilai meningkatkan potensi dampak terhadap rantai makanan lokal.
Pendekatan berbasis laporan publik membantu peneliti memetakan distribusi spesies secara cepat. Model pengumpulan data serupa sebelumnya digunakan dalam isu lingkungan lain, termasuk analisis berbasis laporan masyarakat untuk menjawab pertanyaan seperti negara mana yang penduduknya banyak digigit hiu. Dalam konteks penelitian ini, metode tersebut memperluas cakupan data tanpa survei lapangan berskala besar.
Kriteria Spesies Invasif dan Risiko Ekologi
Tim peneliti menggunakan survei lapangan, analisis data observasi, serta telaah literatur untuk mengevaluasi dampak ekologis awal. Mereka juga membandingkan produktivitas reproduksi dan perilaku kedua spesies asing dengan spesies lokal.
Berdasarkan kriteria yang dirujuk dari International Union for Conservation of Nature (IUCN), suatu spesies dapat dikategorikan invasif jika menunjukkan kemampuan menyebar luas, bertahan hidup di habitat baru, dan menimbulkan dampak negatif terhadap ekosistem.
Dalam kajian ini, kedua spesies Hierodula dinilai memenuhi sejumlah indikator tersebut, meskipun peneliti menekankan perlunya pemantauan jangka panjang untuk memastikan dampak populasi secara menyeluruh.
Introduksi spesies asing di Eropa kerap dikaitkan dengan perdagangan internasional dan pergerakan tanaman hias. Telur atau individu muda dapat terbawa tanpa terdeteksi dan kemudian berkembang biak di habitat baru.
Menurut Battiston, deteksi dini dan koordinasi antar lembaga konservasi menjadi langkah penting untuk mencegah dampak lebih luas. “Kami masih berada pada tahap awal memahami konsekuensi penuh dari kehadiran kedua spesies ini,” katanya.
Penelitian ini menegaskan bahwa meningkatnya mobilitas global dan perubahan iklim dapat memperbesar risiko penyebaran spesies non-asli. Pemantauan berbasis sains dan kebijakan pengelolaan yang terukur dinilai penting untuk menjaga stabilitas keanekaragaman hayati Eropa di masa mendatang. (Wage Erlangga)







