hutan pegunungan

Pegunungan Kehilangan Hutan Seluas Lebih dari Jerman

Views: 8

Dunia telah kehilangan lebih dari 356.000 kilometer persegi hutan pegunungan selama dua dekade terakhir. Total kehilangan yang setara dengan luas negara Jerman, bahkan lebih. Demikian diungkapkan sebuah studi global baru yang diterbitkan di Nature Communications pada November 2025. Penelitian ini mengungkap bahwa penurunan tersebut, setara dengan 1,9 persen dari total vegetasi pegunungan dunia pada tahun 2000.

Studi berjudul Global loss of mountain vegetated landscapes and its impact on biodiversity conservation ini dilakukan oleh tim ilmuwan internasional yang menggunakan citra satelit Landsat beresolusi tinggi. Citra satelit digunakan untuk memetakan perubahan vegetasi di wilayah pegunungan dunia dari tahun 2000 hingga 2020.

“Sekitar 57 persen dari vegetasi yang hilang terdiri dari hutan, diikuti oleh padang rumput sebesar 25 persen dan semak belukar sebesar 18 persen,” tulis Chao Yang dari Universitas Shenzhen, salah satu penulis penelitian.

Mereka mencatat bahwa hutan pegunungan merupakan ekosistem yang paling kaya secara biologis dan paling sensitif terhadap perubahan lingkungan. Selain juga menopang banyak spesies endemik sekaligus mengatur siklus air dan karbon global.

Manusia Menjadi Penyebab Utama

Para peneliti menemukan bahwa aktivitas manusia menyumbang hampir 89 persen dari total kehilangan vegetasi, sementara peristiwa alam seperti kebakaran hutan, kekeringan, banjir, dan longsor hanya berkontribusi sekitar 11 persen.

Ekspansi pertanian muncul sebagai penyebab utama, bertanggung jawab atas sekitar 83 persen dari seluruh kehilangan vegetasi. Pertumbuhan perkotaan dan kegiatan pertambangan juga memainkan peran penting, terutama di negara berkembang di mana kawasan pegunungan banyak diubah menjadi lahan pertanian atau pemukiman.

“Tekanan terhadap ekosistem pegunungan meningkat dengan kecepatan yang mengkhawatirkan, terutama di wilayah yang menjadi sumber air penting dan pusat keanekaragaman hayati,” kata Chao seperti dikutip dalam laporan tersebut.

Hutan Pegunungan dalam Bahaya

Penelitian ini menyoroti bahwa kehilangan hutan pegunungan tidak terjadi secara merata. Lebih dari 90 persen kehilangan global terjadi di tujuh wilayah utama: Asia Timur, Amerika Utara, Timur Tengah, Eropa dan Rusia, Afrika Sub-Sahara, Amerika Latin, dan Asia Tenggara.

Secara proporsional, Timur Tengah mencatat tingkat kehilangan tertinggi, dengan sekitar 6,2 persen vegetasi pegunungannya menghilang antara tahun 2000 dan 2020. Afrika Sub-Sahara menyusul dengan penurunan sebesar 3,2 persen. Sementara Asia menyumbang porsi yang lebih kecil dari total kehilangan. Asia Tenggara — termasuk Indonesia — berkontribusi sekitar 10,5 persen dari angka global, menyoroti meningkatnya kerentanan kawasan ini.

Hutan Pegunungan Sindoro di Jawa Tengah, Indonesia, terbakar. Lebih dari 10 persen hutan pegunungan di Asia Tenggara telah hilang selama satu dekade terakhir. (Foto: Badung Regency Environmental Agency)

“Tingkat dan luas kehilangan vegetasi di pegunungan tropis sangat mengkhawatirkan,” tulis laporan tersebut. “Ekosistem ini menyimpan cadangan karbon dalam jumlah besar dan menjadi rumah bagi beberapa spesies tumbuhan dan hewan paling unik di dunia.”

Salah satu temuan paling mencolok adalah bahwa lebih dari setengah (56 persen) dari seluruh vegetasi pegunungan yang hilang terjadi di area yang secara hukum dilindungi atau ditetapkan sebagai zona prioritas keanekaragaman hayati. Sekitar 12,6 persen kehilangan terjadi di dalam kawasan lindung resmi, sementara 43 persen terjadi di wilayah dengan konsentrasi tinggi spesies pegunungan yang terancam.

“Hal ini menunjukkan bahwa perlindungan hukum saja tidak cukup tanpa pengelolaan dan penegakan yang efektif,” para peneliti memperingatkan. Mereka menekankan perlunya tata kelola konservasi yang lebih kuat dan partisipasi masyarakat lokal untuk mencegah degradasi lebih lanjut.

Seruan untuk Kebijakan dan Pemantauan

Penelitian ini mendesak para pembuat kebijakan untuk memperkuat regulasi penggunaan lahan di wilayah pegunungan serta menyeimbangkan antara pembangunan pertanian dan perlindungan ekologi. Para penulis merekomendasikan penerapan sistem pemantauan berbasis satelit untuk melacak perubahan vegetasi secara real-time, memperkuat penegakan hukum di kawasan lindung, dan memperluas jaringan konservasi agar mencakup zona keanekaragaman hayati tinggi yang belum terlindungi.

Mereka juga mengusulkan strategi “land-sparing”, yaitu memusatkan produksi pertanian di area yang sudah dikembangkan, sambil melestarikan wilayah pegunungan yang penting secara ekologis.

“Pegunungan adalah benteng terakhir keanekaragaman hayati di planet ini,” simpul Chao. “Jika laju kehilangan vegetasi saat ini terus berlanjut, konsekuensinya akan melampaui ekosistem pegunungan — memengaruhi stabilitas iklim global, pasokan air tawar, dan ketahanan kehidupan itu sendiri.” (Wage Erlangga)

Baca juga:

Artikel Dari Penulis Yang Sama

perlengkapan arung jeram

Diajak Arung Jeram? Harus Bawa Perlengkapan Apa Biar Tak Dianggap Cupu…

liburan

Liburan Ternyata Tak Membawa Dampak Bahagia Berkepanjangan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *