Views: 0
Bahan kimia dari layar LCD yang dibuang sebagai limbah elektronik ditemukan terakumulasi di tubuh mamalia laut yang terancam punah, memicu kekhawatiran baru tentang ancaman tersembunyi terhadap kesehatan satwa laut. Temuan ini dipublikasikan pada 25 Februari 2026 dalam jurnal Environmental Science & Technology yang diterbitkan oleh American Chemical Society.
Penelitian tersebut mengungkap bahwa monomer kristal cair atau liquid crystal monomers (LCM), komponen utama dalam layar televisi, laptop, dan telepon pintar, telah terdeteksi dalam jaringan beberapa spesies cetacea di Laut China Selatan. Zat kimia ini sebelumnya jarang dipantau di lingkungan laut karena perhatian ilmiah lebih banyak tertuju pada mikroplastik dan logam berat.
Polusi Baru dari Limbah Elektronik
Studi ini dipimpin oleh Yuhe He dari City University of Hong Kong. Ia mengatakan temuan tersebut menunjukkan bahwa bahan kimia dari perangkat elektronik sehari-hari kini telah memasuki ekosistem laut dan terakumulasi di organisme puncak rantai makanan.
“Penelitian kami mengungkap bahwa LCM dari perangkat elektronik sehari-hari bukan sekadar polusi — zat ini terakumulasi di otak lumba-lumba dan porpoise yang terancam punah,” kata He dalam pernyataan resminya.
Ia menambahkan bahwa kondisi ini harus menjadi peringatan serius bagi dunia. “Ini adalah panggilan darurat. Bahan kimia yang menggerakkan perangkat kita kini menyusup ke kehidupan laut, dan kita harus segera bertindak terhadap limbah elektronik untuk melindungi kesehatan laut dan pada akhirnya diri kita sendiri,” ujarnya.
Penelitian dilakukan dengan menganalisis sampel jaringan dari lumba-lumba Indo-Pasifik dan porpoise tanpa sirip yang diperoleh melalui program pemantauan konservasi dan investigasi hewan terdampar. Para ilmuwan mengidentifikasi dua hingga empat jenis LCM dominan dengan konsentrasi terukur di berbagai organ tubuh.
Terdeteksi hingga ke Otak
Salah satu temuan paling mengkhawatirkan adalah keberadaan LCM di jaringan otak. Hal ini menunjukkan kemampuan senyawa tersebut menembus sawar darah-otak, sistem perlindungan biologis yang biasanya mencegah zat berbahaya mencapai otak.
Selain analisis jaringan, tim juga melakukan uji laboratorium menggunakan kultur sel lumba-lumba. Hasilnya menunjukkan bahwa beberapa jenis LCM dapat memengaruhi aktivitas gen yang berkaitan dengan fungsi neurologis dan metabolisme. Perubahan ekspresi gen ini dipandang sebagai indikator potensi risiko biologis, meskipun dampak klinis langsung pada hewan liar masih memerlukan penelitian lanjutan.
Para peneliti menekankan bahwa keberadaan LCM di organ vital menunjukkan paparan jangka panjang. Akumulasi ini berpotensi memperburuk kondisi spesies yang sudah berada di bawah tekanan lingkungan.
Biomagnifikasi di Rantai Makanan
LCM diduga memasuki laut melalui limbah elektronik yang tidak dikelola dengan baik. Perangkat yang dibuang dapat terurai dan melepaskan komponen kimianya ke tanah dan badan air, kemudian terbawa arus ke laut.
Di laut, senyawa tersebut diserap oleh organisme kecil dan bergerak naik melalui rantai makanan. Ketika ikan kecil dimakan predator yang lebih besar, konsentrasi bahan kimia meningkat melalui proses biomagnifikasi. Mamalia laut seperti lumba-lumba dan porpoise yang berada di puncak rantai makanan menjadi pihak yang paling terdampak.
Temuan ini memperluas daftar polutan laut yang perlu diawasi. Selama ini perhatian publik lebih banyak tertuju pada plastik dan logam berat, sementara komponen kimia dari perangkat elektronik relatif jarang diperiksa dalam konteks kelautan.
Implikasi Konservasi
Kedua spesies yang diteliti telah menghadapi berbagai tekanan, termasuk degradasi habitat pesisir, kebisingan bawah laut akibat lalu lintas kapal, serta penangkapan tidak sengaja dalam jaring perikanan. Tambahan paparan bahan kimia sintetis berpotensi memperparah tantangan yang sudah ada.
Para peneliti menyebutkan bahwa meskipun studi ini belum menyimpulkan dampak kesehatan spesifik seperti gangguan reproduksi atau kematian massal, akumulasi di organ penting tetap menjadi sinyal peringatan dini. Mereka mendorong peningkatan sistem pengelolaan limbah elektronik dan pemantauan bahan kimia baru di lingkungan laut.
Lumba-lumba pesisir di Asia Timur dan Asia Tenggara saat ini berada dalam kondisi rentan. Populasi lumba-lumba Indo-Pasifik di sejumlah wilayah dilaporkan menurun akibat kombinasi aktivitas manusia dan degradasi lingkungan. Habitat pesisir yang menjadi tempat mencari makan dan berkembang biak semakin terfragmentasi oleh pembangunan, polusi, dan lalu lintas kapal.
Spesies ini memiliki tingkat reproduksi yang relatif lambat, sehingga pemulihan populasi membutuhkan waktu lama. Ancaman tambahan, termasuk polutan kimia seperti LCM, dapat memperburuk tekanan terhadap sistem imun dan kesehatan secara keseluruhan.
Dalam beberapa tahun terakhir, laporan mengenai lumba-lumba yang terdampar atau ditemukan dalam kondisi lemah meningkat di sejumlah pesisir Asia. Para ahli menyebutkan bahwa stres lingkungan yang berlapis-lapis membuat mamalia laut ini semakin rentan terhadap penyakit dan gangguan fisiologis. (Wage Erlangga)
Dari gunung hingga laut, kami kirim langsung ke Anda. Join Saluran WhatsApp Lingkar Bumi sekarang.







