paus paruh

Siapa Lebih Jago Menyelam, Paus Paruh atau Pari Manta?

Views: 6

Paus paruh, salah satu mamalia laut paling misterius di dunia, ternyata secara rutin menyelam hingga hampir satu kilometer ke bawah permukaan laut saat berburu. Temuan ini terungkap dalam studi akustik terbaru yang dilakukan di Teluk Meksiko, yang memberikan gambaran rinci tentang perilaku menyelam spesies yang jarang terlihat tersebut.

Penelitian tersebut dipublikasikan pada 4 Februari 2026 di jurnal ilmiah PLOS One. Studi ini menggunakan jaringan hidrofon atau mikrofon bawah laut yang ditempatkan sekitar 1.100 meter di bawah permukaan laut, di lepas pantai Louisiana, Amerika Serikat.

“Paus paruh sangat sulit dipelajari karena mereka menghabiskan sebagian besar hidupnya jauh di bawah permukaan,” kata peneliti kelautan Héloïse Frouin-Mouy, salah satu ilmuwan yang terlibat dalam penelitian tersebut. “Dengan pemantauan akustik pasif, kami dapat mengamati perilaku menyelam mereka tanpa harus memasang alat pelacak langsung pada tubuh paus.”

Menyelam Rutin ke Zona Gelap

Dalam studi ini, para peneliti mengidentifikasi tiga spesies utama paus paruh di wilayah Teluk Meksiko, yaitu paus paruh angsa (Ziphius cavirostris), paus paruh Gervais (Mesoplodon europaeus), dan paus paruh Blainville (Mesoplodon densirostris).

Data akustik menunjukkan bahwa paus paruh angsa melakukan penyelaman berburu pada kedalaman rata-rata sekitar 983 meter, dengan kisaran kedalaman antara 888 hingga 1.208 meter. Dalam beberapa kasus, hewan ini tercatat mendekati dasar laut yang berada di kedalaman sekitar 1.100 meter di lokasi penelitian.

Paus paruh Gervais tercatat menyelam hingga kedalaman rata-rata sekitar 865 meter, dengan kedalaman maksimum mendekati 910 meter. Sementara itu, paus paruh Blainville memiliki kedalaman rata-rata sekitar 795 meter, dengan kedalaman maksimum sekitar 861 meter.

Kedalaman tersebut berada di zona laut dalam yang hampir sepenuhnya gelap, dengan suhu rendah dan tekanan lebih dari 100 kali tekanan di permukaan laut. Pada kedalaman sekitar 1.000 meter, cahaya matahari praktis tidak lagi menembus air. Namun bagi paus paruh, wilayah ekstrem ini justru merupakan area berburu utama mereka.

Yang membuat temuan ini penting bukan hanya soal seberapa dalam mereka mampu menyelam, tetapi juga frekuensinya. Penyelaman hingga hampir satu kilometer bukanlah rekor sesekali, melainkan bagian dari rutinitas harian untuk mencari makan.

Ilustrasi yang menunjukkan seekor paus paruh angsa memancarkan klik ekolokasi saat sedang mencari makan, dengan gelombang suara mencapai hidrofon pada perekam akustik pada waktu yang berbeda-beda. Perbedaan waktu kedatangan ini memungkinkan peneliti memperkirakan posisi paus dalam tiga dimensi (3D) serta merekonstruksi profil penyelamannya selama proses berburu.

Dari gunung hingga laut, kami kirim langsung ke Anda. Join Saluran WhatsApp Lingkar Bumi sekarang.

Mengandalkan “Pendengaran” di Laut Dalam

Alih-alih memasang alat pelacak satelit pada tubuh paus, peneliti menggunakan metode pemantauan akustik pasif. Paus paruh menghasilkan klik ekolokasi khas saat berburu mangsa di kedalaman. Dengan menempatkan beberapa hidrofon di dasar laut dan menganalisis perbedaan waktu kedatangan suara klik tersebut, peneliti dapat merekonstruksi jalur penyelaman paus dalam tiga dimensi.

Menurut Héloïse, pola klik biasanya dimulai setelah paus turun beberapa ratus meter. Fase klik ini menandakan dimulainya aktivitas berburu di laut dalam. Setelah selesai berburu, paus menghentikan klik dan kembali naik ke permukaan untuk bernapas.

Satu kali penyelaman berburu dapat berlangsung lebih dari satu jam. Di antara penyelaman dalam, paus biasanya melakukan penyelaman yang lebih dangkal sebagai fase pemulihan sebelum kembali turun ke kedalaman ekstrem.

Metode akustik ini juga membantu peneliti memahami sejauh mana suara paus dapat terdeteksi di laut dalam. Informasi tersebut penting untuk pemantauan populasi serta perencanaan konservasi, terutama di wilayah yang berdekatan dengan aktivitas industri seperti eksplorasi minyak dan gas serta penggunaan sonar militer.

Adaptasi untuk Tekanan Ekstrem

Paus paruh dikenal sebagai salah satu mamalia penyelam terdalam di dunia. Studi-studi sebelumnya di wilayah lain bahkan mencatat spesies dalam kelompok ini mampu menyelam lebih dari 2.900 meter. Meskipun studi di Teluk Meksiko tidak mencatat kedalaman sedalam itu—kemungkinan karena keterbatasan kedalaman dasar laut—hasilnya tetap menegaskan kemampuan fisiologis luar biasa hewan ini.

Untuk bertahan pada tekanan ekstrem, paru-paru paus paruh dapat kolaps saat mencapai kedalaman tertentu, sehingga mengurangi penyerapan nitrogen dan menekan risiko penyakit dekompresi. Otot mereka juga mengandung konsentrasi mioglobin tinggi untuk menyimpan oksigen, sementara detak jantung melambat selama penyelaman guna menghemat energi dan cadangan oksigen.

“Setiap penyelaman dalam adalah keseimbangan antara penggunaan oksigen, ketersediaan mangsa, dan keselamatan saat kembali ke permukaan,” kata Héloïse. “Mereka benar-benar beradaptasi untuk hidup di lingkungan yang hampir tidak pernah kita lihat.”

Dibandingkan dengan Pari Manta

Kemampuan paus paruh ini semakin menonjol jika dibandingkan dengan hewan laut besar lainnya. Pada Oktober 2025, artikel di Lingkar Bumi berjudul Pari Manta Menyelam Sedalam Tiga Kali Tinggi Menara Eiffel melaporkan bahwa pari manta samudra tercatat menyelam hingga sekitar 1.250 meter.

Menurut artikel tersebut, kedalaman itu setara dengan tiga kali tinggi Menara Eiffel yang ditumpuk dari dasar hingga puncak. Bagi ikan besar yang dikenal sebagai penyaring plankton di permukaan laut, capaian tersebut tergolong luar biasa.

Namun perbedaannya terletak pada pola dan tujuan penyelaman. Berdasarkan laporan, penyelaman dalam pari manta tampaknya bersifat sesekali dan kemungkinan terkait navigasi, perubahan suhu, atau faktor lingkungan lainnya, bukan sebagai rutinitas berburu di laut dalam.

Sebaliknya, paus paruh menjadikan penyelaman ekstrem sebagai bagian inti dari strategi mencari makan mereka. Sebagai mamalia yang bernapas dengan paru-paru, mereka harus mengelola cadangan oksigen dengan cermat dan menahan tekanan luar biasa sebelum kembali ke permukaan.

Baik paus paruh maupun pari manta menunjukkan bahwa laut dalam bukanlah wilayah kosong. Namun dalam hal frekuensi, durasi, serta adaptasi fisiologis khusus untuk berburu di kedalaman hampir satu kilometer, paus paruh tetap menjadi salah satu penyelam paling ekstrem di dunia laut. (Wage Erlangga)

Lanjut lagi...

turtle

Studi 17 Tahun Ungkap Dampak Iklim pada Produktivitas Penyu

everest

Nepal Wajibkan Pengalaman 7.000 Meter untuk Mendaki Everest

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *