gigi hiu

Sejak Kapan Manusia Memakan Hiu? Dari Bertahan Hidup Hingga Kini Dilarang

Views: 6

Sejak kapan manusia memakan hiu? Pertanyaan ini membawa peneliti menelusuri jejak ribuan tahun ke belakang, ke komunitas pesisir awal yang mulai menggantungkan hidup pada laut. Bukti arkeologis terbaru menunjukkan bahwa konsumsi hiu bukan praktik modern, melainkan bagian dari strategi bertahan hidup manusia sejak era Neolitik.

Studi berjudul The first collective Neolithic megalithic tomb in Oman yang dipublikasikan dalam jurnal Antiquity pada 15 Agustus 2025 mengungkap temuan penting dari sebuah makam kolektif di wilayah Wadi Nafūn, Oman. Penelitian ini dipimpin oleh arkeolog Alžběta Danielisová bersama tim internasional, termasuk Jiří Šneberger, yang meneliti praktik pemakaman dan pola makan masyarakat pesisir sekitar milenium ke-5 hingga ke-4 sebelum Masehi.

Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan menganalisis isotop stabil pada enamel gigi manusia yang dimakamkan di situs itu. Hasilnya menunjukkan kadar nitrogen tinggi yang konsisten dengan konsumsi protein dari predator laut pada puncak rantai makanan. Temuan ini mengindikasikan bahwa masyarakat Neolitik Oman kemungkinan mengonsumsi hiu atau ikan besar lainnya secara rutin.

“Kami melihat bukti kuat adanya ketergantungan pada sumber daya laut,” tulis para peneliti dalam laporan tersebut. Menurut mereka, komunitas ini memiliki kemampuan maritim yang cukup maju untuk mengeksploitasi fauna laut besar, bukan sekadar mengumpulkan kerang atau ikan kecil di pesisir.

Dari gunung hingga laut, kami kirim langsung ke Anda. Join Saluran WhatsApp Lingkar Bumi sekarang.

Asia Tenggara dan Penggunaan Gigi Hiu

Hubungan manusia dengan hiu juga tercatat di Asia Tenggara. Penelitian berjudul Shark-tooth artefacts from middle Holocene Sulawesi yang juga diterbitkan dalam jurnal Antiquity pada 24 Oktober 2023 menunjukkan bahwa masyarakat prasejarah di Sulawesi Selatan memanfaatkan gigi hiu sebagai bagian dari peralatan mereka.

Penelitian yang dipimpin oleh Michelle C. Langley bersama tim peneliti Indonesia dan Australia menemukan gigi hiu yang dimodifikasi menjadi bilah tajam dan dilekatkan pada gagang menggunakan perekat alami. Artefak tersebut berasal dari komunitas Toalean yang hidup sekitar 7.000 hingga 5.000 tahun lalu.

Langley menyatakan bahwa penggunaan gigi hiu ini menunjukkan pemahaman teknis yang kompleks terhadap material laut. Meski penelitian ini lebih menekankan aspek teknologi dan simbolik, temuan tersebut memperlihatkan kedekatan manusia prasejarah dengan hiu sebagai bagian dari lingkungan hidup mereka.

Kombinasi bukti dari Oman dan Sulawesi memperkuat gambaran bahwa hiu bukan makhluk asing bagi manusia purba. Mereka ditangkap, dimanfaatkan, dan kemungkinan dikonsumsi dalam konteks sosial yang berbeda-beda.

Perbandingan artefak gigi hiu budaya Toalean dengan contoh mata panah Maros yang ditemukan di Leang Panninge (kiri bawah) dan Leang Pajae (kanan atas dan kanan bawah) (foto mata panah Maros oleh Y. Perston; ilustrasi oleh M. Langley).

Jejak Lebih Tua di Afrika

Hubungan manusia dengan sumber daya laut bahkan lebih tua lagi. Penelitian berjudul Marine resource use during the Middle Stone Age at Pinnacle Point, South Africa yang diterbitkan dalam jurnal Nature pada Oktober 2007 menunjukkan bahwa manusia modern awal telah memanfaatkan sumber daya laut sejak sekitar 160.000 tahun lalu.

Situs Pinnacle Point di Afrika Selatan memberikan bukti konsumsi kerang, moluska, dan fauna laut lainnya. Meski fokus penelitian tersebut bukan khusus pada hiu, temuan itu memperlihatkan bahwa Homo sapiens telah lama mengandalkan laut sebagai sumber nutrisi penting.

Para peneliti menyimpulkan bahwa akses terhadap protein laut mungkin memainkan peran penting dalam perkembangan kognitif manusia modern. Nutrisi dari sumber laut dinilai berkontribusi terhadap pertumbuhan populasi dan ketahanan manusia pada masa perubahan iklim ekstrem.

Dengan demikian, meski bukti langsung konsumsi hiu yang jelas muncul pada periode lebih muda seperti Neolitik Oman, interaksi manusia dengan ekosistem laut sudah berlangsung jauh lebih lama.

Perubahan Drastis dari Masa Purba ke Era Modern

Ketika bukti arkeologis menunjukkan bahwa manusia telah memakan hiu atau memanfaatkan bagian tubuhnya ribuan tahun lalu, situasi saat ini sangat berbeda. Pada masa lalu, interaksi manusia dengan hiu terjadi dalam komunitas kecil dengan teknologi sederhana, dan tekanan terhadap populasi hiu relatif kecil. Pola hidup berburu dan mengumpulkan lebih berdampingan dengan ritme alam.

Namun sejak abad kedua puluh, industrialisasi perikanan dan permintaan global terhadap produk hiu — khususnya sirip hiu — mendorong penangkapan dalam skala besar. Kapal modern dengan peralatan canggih mampu menangkap hiu dalam jumlah besar, jauh melampaui kapasitas alami regenerasi spesies tersebut. Kondisi ini mempercepat penurunan populasi hiu di banyak perairan dunia.

Organisasi konservasi internasional mencatat bahwa beberapa spesies hiu kini mengalami penurunan populasi yang signifikan. Sebagian besar spesies tersebut kini mendapat perlindungan di bawah ÂCITES — perjanjian internasional yang mengatur perdagangan spesies terancam — untuk membatasi ekspor dan impor bagian tubuh hiu yang bernilai tinggi di pasar global.

Praktik “finning,” yaitu memotong sirip hiu dan membuang tubuhnya kembali ke laut, kini dilarang di banyak negara karena dianggap kejam dan berkontribusi besar terhadap penurunan populasi hiu. Beberapa negara juga memberlakukan larangan atau pembatasan langsung terhadap konsumsi daging hiu, terutama untuk spesies-spesies yang dianggap rentan atau terancam punah.

Kebijakan perlindungan tersebut bukan semata-mata untuk menghapus tradisi, tetapi sebagai respons terhadap data ilmiah yang menunjukkan bahwa tanpa intervensi konservasi, beberapa spesies hiu berisiko mengalami kepunahan dalam beberapa dekade mendatang.

Ahli biologi kelautan menegaskan bahwa hiu memainkan peran penting sebagai predator puncak dalam ekosistem laut. Ketika predator semacam ini hilang, rantai makanan dapat terganggu dan populasi spesies lain bisa melonjak tak terkendali, yang justru berujung pada kerusakan ekosistem yang lebih luas.

Praktik “finning,” yaitu memotong sirip hiu dan membuang tubuhnya kembali ke laut, kini dilarang di banyak negara karena dianggap kejam dan berkontribusi besar terhadap penurunan populasi hiu. (Photo: www.shark.org)

Sejarah dan Tantangan Masa Depan

Bukti arkeologis dari Oman, Sulawesi, dan Afrika menunjukkan bahwa hubungan manusia dengan laut telah berlangsung sejak masa purba. Konsumsi hiu oleh manusia mungkin bermula sekitar 7.000 tahun lalu di Arabia, sedang hubungan teknis dan simbolik dengan bagian tubuh hiu ditemukan di Asia Tenggara, dan gambaran interaksi dengan ekosistem laut jauh lebih tua lagi di Afrika.

Namun, tantangan utama saat ini bukan sekadar merekam sejarah tersebut, melainkan bagaimana mengatur hubungan itu secara berkelanjutan di era modern. Larangan dan pembatasan yang diberlakukan hari ini mencerminkan upaya komunitas global untuk menjaga agar hubungan antara manusia dan hiu tidak berakhir dengan kepunahan salah satu pihak.

Sejarah menunjukkan bahwa manusia mampu beradaptasi — pada masa Neolitik melalui eksploitasi sumber daya laut yang inovatif, dan kini melalui upaya konservasi yang intensif. Cara manusia menghadapi tantangan ini akan menentukan bagaimana cerita panjang hubungan manusia dengan lautan berlanjut di masa depan. (Sulung Prasetyo)

Lanjut lagi...

everest

Nepal Wajibkan Pengalaman 7.000 Meter untuk Mendaki Everest

padang lamun

Gelombang Panas Laut Ancam Padang Lamun Tropis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *