16 Juli 2024
soe hok gie
“Mereka adalah orang-orang yang berontak terhadap masyarakat yang terlalu dikomersialkan. Tetapi akhirnya mereka menjadi korban komersialisasi.”

Views: 5402

Kepala ini sempat sakit, setelah membaca kembali satu artikel Soe Hok Gie berjudul Hippies, Peace & Love. Sebuah catatan sakit hati mengenai komersialisme yang menimpa kaum Hippies AS era 60-an. Dalam catatan keluyurannya tersebut, Gie mengutarakan kekaguman-kekagumannya pada hippies yang banyak ia temui di AS waktu itu. Sebuah kaum yang menemukan dirinya dengan menolak nilai-nilai masyarakat yang menjerat manusia. Tak peduli akan norma-norma berpakaian, menolak cara-cara beradab.

“Lepaskan dirimu dari masyarakat yang penuh kepalsuan ini dan kau akan menemukan hakikat dirimu kembali,” ujar Gie dalam tulisan-tulisan bisunya.

Kemudian itu terasa satir saat ternyata tak ditemukan kebahagiaan diantara mereka. Sex bebas dan pil anti hamil hanya membuat kosong dunia. Tak ada romantisme tersisa, persetubuhan sama seperti kebelet kencing saja. Ternyata mariyuana, pakaian aneh, yoga, free love tak membawa mereka pada kebahagiaan.

“Namun paling tidak menjadi hippies lebih baik, dari pada menjadi hipokrit masyarakat,” tambah Gie menengahi.

Cerita bertambah satir saat Gie mengungkapkan kegundahannya, ketika ia menyinggahi San Fransisco. Di kota Saulito, tempat banyak hippies berkumpul, Gie terhenyak pada komersialisasi yang menimpa mereka. Biro-biro trip wisata membawa turis ke tempat hippies berkumpul, seperti ‘binatang aneh’ yang patut dilihat. Perhiasan mereka dijual beribu-ribu buah. Pada akhirnya kaum ini menjadi korban komersialisasi.

“Mereka adalah orang-orang yang berontak terhadap masyarakat yang terlalu dikomersialkan. Tetapi akhirnya mereka menjadi korban komersialisasi.”

Terhenyak rasanya batin mendapati kalimat terakhir tersebut. Gie sepertinya kini mendapati dirinya terjebak kini. Jeruk makan jeruk, kalau diungkapkan dalam bahasa kini. Gie yang sebegitu idealisnya kini juga terkomersialisasi. Jiwa perubahannya dijadikan jargon untuk sebuah media terkemuka Indonesia kini. Pemikirannya yang tertuang dalam buku ‘Catatan Harian Seorang Demonstran’, difilmkan. Mengorbankan perwajahan sampul muka, dengan wajah seorang aktornya. Agar lebih bisa laris terjual mungkin alasannya.

Gie telah dikomoditikan. Menjadi objek cari uang oleh kapitalis-kapitalis, seperti yang ia takutkan. Gie yang berbicara mengenai perubahan, keadilan, kebenaran akan menjadi mode. Kaus-kaus akan terjual, film-film akan laris, bukunya akan dicetak ulang, berlembar-lembar banyaknya. Sampaikan resah itu pada Gie.

Berubah

Satu-satunya cara untuk tidak punah adalah berubah. “Berubah atau punah,” ucap mantan Rektor Universitas Indonesia (UI), Oesman Sapta. Pria bersenyum ramah itu coba mengingatkan konsekwensi bertahan hidup lama. Seperti kelompok Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala UI) yang bertahan 40 tahun lamanya. Menurutnya tanpa perubahan, maka akan tinggal menuju binasa.

Gie yang merupakan salah satu konseptor perjalanan budaya Mapala, sebenarnya juga telah menyiratkan bahwa anak Mapala juga tak ubahnya kaum Hippies di AS yang pernah ia lihat. Perjalanan pendakian gunung yang ia pelopori bersama teman-teman angkatannya kala itu di FSUI (sekarang Fakultas Ilmu Budaya UI). Pada kesimpulannya juga mengamini jiwa pemberontakan yang dihembuskan hippies Amerika. Tak percaya pada hipokrisi yang menimpa masyarakat kala itu. Era orde lama yang dipengaruhi mabuk kepayangnya pemimpin pertama Indonesia, Soekarno.

Hippies –hippies itu kini telah beragam banyaknya. Melewati masa-masa yang terekam dalam buku yang baru diedarkan. Berjudul Jejak Kampus di Jalan Alam, buku ini bagai berbagi cerita semua senyum, tangis, canda, ceria yang pernah menghias perjalanan 40 tahun Mapala UI. Mengisi lembar-perlembar kehidupannya. Berganti antar generasi ke generasi, hingga akhirnya tetap pada satu makna, mengenali Indonesia.

Perlukah kita berubah dengan niat seperti itu? Seperti juga yang diungkapkan Oesman Sapta sebelumnya? Seperti juga yang dipasangkan pada diri Gie kini. Sebuah perubahan untuk menuju ketidak punahan. Hippies Mapala kini harus berubah agar tak punah.

Berubah bagaimana? Menerima komersialisasi, dengan pandangan positif ada nilai yang tetap tertular? Atau merubah sedikit bagian atau keseluruhan jalan pikiran budaya? Pokoknya harus berubah, biar tak punah.

Indonesia Jaya

Satu kata yang hingga kini mungkin tak pernah terlepas dari segala kegiatan Mapala. Mengenal Indonesia melalui kegiatan-kegiatannya. Dengan cara itu juga, kita mendapat pandangan yang sehat mengenai bangsa ini. Dengan cara itu juga, kita bisa menyumbangkan segenap pikiran kita untuk kemajuan bangsa.

“Mapala secara diam-diam merupakan contoh nyata pergerakan tersebut. Dengan tanpa hanya berdasarkan teori, namun praktek yang langsung terjun pada masyarakatnya,” ujar Jakob Oetama, Pemimpin Umum harian Kompas menanggapi masalah ini.

Beliau juga mengingatkan mengenai konsep-konsep reinventing Indonesia. Dimana untuk menggali kembali kebesaran bangsa ini, diperlukan tindakan-tindakan serupa. Dan kegiatan mendaki gunung, seperti yang dilakukan Mapala merupakan salah satu contoh konkritnya. Mencintai Indonesia tidak mungkin tanpa mengenalnya. (Sulung Prasetyo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *