Views: 10
Sebuah studi ilmiah terbaru memberikan wawasan penting tentang bagaimana pengelolaan limbah organik yang tepat dapat menekan emisi gas rumah kaca dan bau tak sedap, sekaligus meningkatkan kualitas produk akhir seperti pupuk organik.
Penelitian ini diterbitkan secara daring pada 27 Januari 2026 di jurnal Environmental and Biogeochemical Processes, berjudul “Synthesis of air pollution patterns and nutrient composition during organic fertilizer production: a meta‑analytical study”. Penelitian ini dilakukan oleh tim ilmuwan internasional yang dipimpin oleh Yousif Abdelrahman Yousif Abdellah dan Jianou Gao, dengan kolaborasi Zhaoji Shi, Xiaofei Shi, Wei Liu, Chengmo Yang, Katharina Maria Keiblinger, Xinyue Zhao, Elsiddig A. E. Elsheikh, Shahid Iqbal, Shanshan Sun, Dong Liu, dan Fuqiang Yu.
Tim peneliti melakukan meta‑analisis terhadap 135 studi independen, mencakup 1.683 observasi eksperimen dari berbagai fasilitas komposting limbah organik. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi pola emisi polutan udara dan perubahan komposisi nutrien selama proses pengolahan, serta menilai efektivitas berbagai metode kendali yang diterapkan dalam pengolahan limbah. Para ilmuwan menyimpulkan bahwa tindakan pengelolaan yang sistematis mampu menekan emisi gas berbahaya dan senyawa berbau, sambil mempertahankan nutrien yang berguna dalam produk akhir.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa emisi metana (CH₄) turun rata-rata 69 persen, oksida nitrous (N₂O) turun 83 persen, amonia (NH₃) turun 78 persen, dan karbon dioksida (CO₂) turun 78 persen ketika langkah-langkah kendali diterapkan secara konsisten. Emisi hidrogen sulfida (H₂S) dan senyawa organik volatil (VOC) juga menurun secara signifikan. Suhu proses komposting meningkat rata-rata 48 persen, retensi nitrogen dalam produk akhir meningkat hingga 89 persen, dan indeks kecambah, yang menjadi indikator fitotoksisitas pupuk, meningkat 73 persen. Rasio karbon terhadap nitrogen (C/N) menurun sekitar 38 persen, menunjukkan stabilitas produk yang lebih baik.
“Kami menemukan bukti kuat bahwa penerapan langkah-langkah kendali dalam pengolahan limbah organik tidak hanya meningkatkan kualitas produk akhir, tetapi secara bersamaan mengekang pelepasan gas-gas yang berkontribusi terhadap perubahan iklim dan bau tidak sedap,” kata Yousif Abdelrahman Yousif Abdellah, peneliti dari Yunnan Key Laboratory for Fungal Diversity and Green Development di Kunming Institute of Botany.
Salah satu faktor kunci yang menonjol adalah karakteristik bahan baku, terutama kandungan karbon dan nitrogen awal serta rasio C/N. Para peneliti menekankan bahwa rasio ini sering kali memengaruhi tingkat emisi lebih kuat dibandingkan beberapa intervensi kontrol yang diterapkan.
“Memahami komposisi awal bahan baku memungkinkan kita menyesuaikan strategi pengolahan sehingga proses dekomposisi berlangsung lebih stabil dan terkontrol,” urai Jianou Gao, rekan peneliti utama dalam studi tersebut.
Selain pengaturan bahan baku, penelitian juga menyoroti efektivitas berbagai metode kendali yang dapat diaplikasikan. Pendekatan biologis seperti penambahan mikroba pengurai terbukti meningkatkan degradasi organik dan menekan produksi gas berbau. Pendekatan kimia, misalnya dengan menambahkan biochar atau gypsum, membantu menyerap amonia dan gas sulfur, sementara teknik fisik dan mekanis, seperti pengaturan aerasi dan frekuensi pembalikan, memastikan kondisi aerobik yang lebih optimal. Fuqiang Yu, salah satu penulis senior, menambahkan bahwa kombinasi teknik biologis, kimia, dan mekanis secara signifikan menurunkan emisi sekaligus menjaga kualitas nutrien pupuk.
Para peneliti juga menekankan bahwa strategi ini tidak hanya relevan untuk komposting pupuk organik, tetapi prinsip-prinsipnya dapat diterapkan lebih luas pada pengolahan limbah lain yang mengandung bahan organik. “Kontrol dekomposisi, aerasi, dan penggunaan bahan tambahan seperti biochar adalah langkah-langkah yang dapat mengurangi produksi gas berbau dan emisi secara signifikan,” kata Zhaoji Shi, peneliti dari College of Resources and Environment di Southwest University, Chongqing.

Dari gunung hingga laut, kami kirim langsung ke Anda. Join Saluran WhatsApp Lingkar Bumi sekarang.
Solusi Bau RDF Rorotan?
Hasil penelitian ini muncul di tengah perhatian publik terhadap fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF) Rorotan di Jakarta Utara, yang baru-baru ini memicu keluhan warga karena bau menyengat dari pengolahan sampah. RDF Rorotan merupakan fasilitas yang mengubah sampah menjadi bahan bakar industri, termasuk campuran organik dan anorganik. Aktivitas pengolahan sampah organik yang tidak sepenuhnya terkendali diyakini menjadi sumber utama aroma busuk yang menyebar ke permukiman sekitar. Warga melaporkan aroma tajam yang muncul dari dekomposisi sampah organik selama transportasi dan pengolahan.
Mengacu pada hasil penelitian, ada sejumlah strategi yang bisa diterapkan untuk mengurangi bau di fasilitas RDF. Penambahan bahan pengikat seperti biochar dapat menyerap amonia dan gas sulfur, sehingga menekan pelepasan bau tajam. Pengaturan aerasi yang lebih baik juga dapat meningkatkan kondisi aerobik pada tumpukan sampah, mencegah fermentasi anaerob yang menghasilkan bau H₂S. Pengendalian kelembapan sampah, pemilahan awal organik dan anorganik secara lebih ketat, serta frekuensi pengadukan atau pembalikan bahan yang tepat, dapat membantu menjaga proses dekomposisi tetap terkendali.
Selain itu, rasio C/N awal dari bahan organik yang masuk ke fasilitas RDF perlu diperhitungkan agar bahan tersebut tidak menghasilkan gas berlebihan selama dekomposisi. Penanganan air lindi atau cairan sampah basah juga krusial; sistem pengumpul lindi yang tertutup dan wadah penyimpanan yang rapat dapat mencegah penyebaran bau ke lingkungan sekitar. Secara keseluruhan, kombinasi pengaturan bahan baku, penggunaan bahan tambahan, aerasi, dan kontrol mekanis diyakini dapat mengurangi intensitas bau yang muncul dari proses RDF tanpa menghentikan operasional fasilitas.
Dengan penerapan strategi-strategi ini, masalah bau yang mengganggu masyarakat di sekitar RDF Rorotan dapat diminimalkan, sekaligus menjaga keberlanjutan pengolahan sampah berbasis RDF sebagai solusi pengurangan limbah kota. Hasil penelitian meta-analisis ini memberikan kerangka ilmiah yang jelas bagi pengelola fasilitas RDF untuk mengadaptasi praktik pengolahan limbah yang lebih ramah lingkungan dan efektif mengurangi bau, sehingga proses pengolahan tetap berjalan efisien tanpa menimbulkan gangguan bagi warga. (Sulung Prasetyo)







