cheetah

Ditemukan di Gua, Jejak Cheetah Mengungkap Sejarah Kelam Arab Saudi

Views: 11

Jauh sebelum jalan raya membelah gurun dan kota-kota modern tumbuh pesat di Jazirah Arab, cheetah pernah berlari bebas di wilayah yang kini dikenal sebagai Arab Saudi. Hewan darat tercepat di dunia itu bukan sekadar singgah, melainkan hidup dan berburu di lanskap kering yang sekarang tampak mustahil menopang predator besar.

Fakta tersebut terungkap melalui penelitian ilmiah terbaru yang menemukan sisa-sisa cheetah termumifikasi secara alami di gua-gua wilayah barat laut Arab Saudi. Temuan ini membuka kembali sejarah ekologi kawasan tersebut sekaligus menegaskan bahwa cheetah pernah menjadi bagian penting dari ekosistem Arab, sebelum akhirnya menghilang sepenuhnya dari alam liar.

Penelitian ini dipimpin oleh paleogenetikus Universitas Oxford, Greger Larson, bersama tim ilmuwan internasional yang memadukan analisis arkeologi, penanggalan radiokarbon, dan genomik purba. Menurut para peneliti, kondisi gua yang kering dan stabil telah mengawetkan jaringan lunak, tulang, dan DNA cheetah selama ribuan tahun.

“Gua-gua ini berfungsi seperti kapsul waktu,” kata Dr. Michela Leonardi, salah satu penulis utama studi tersebut. “Di wilayah kering seperti Arab Saudi, gua menjadi arsip alami yang menyimpan sejarah biodiversitas yang hampir tidak tercatat.”

Para peneliti menemukan tujuh individu cheetah yang termumifikasi secara alami, bersama lebih dari 50 kerangka cheetah dan tulang mangsanya. Penanggalan radiokarbon menunjukkan usia temuan itu sangat beragam, mulai dari sekitar 4.000 tahun lalu hingga hanya sekitar satu abad yang lalu. Artinya, cheetah bertahan di Arab Saudi hingga periode sejarah modern.

Studi ini dipublikasikan dengan judul Mummified cave cheetahs inform rewilding actions in Saudi Arabia dalam jurnal Nature Communications Earth & Environment, dan dirilis pada Januari 2026.

Peta lokasi penemuan mummi cheetah di gua-gua wilayah Arab Saudi.

Dari gunung hingga laut, kami kirim langsung ke Anda. Join Saluran WhatsApp Lingkar Bumi sekarang.

Analisis genom memberikan temuan penting lainnya. Cheetah yang lebih tua memiliki kedekatan genetik dengan cheetah Afrika, sementara individu yang lebih muda menunjukkan hubungan kuat dengan cheetah Asia (Acinonyx jubatus venaticus), subspesies yang kini berada di ambang kepunahan dan hanya tersisa dalam jumlah kecil di Iran.

“Arabia tampaknya menjadi wilayah perlintasan dan percampuran populasi cheetah selama ribuan tahun,” kata Larson. “Ini bukan daerah pinggiran, melainkan bagian dari sejarah evolusi cheetah.”

Namun, gambaran masa lalu tersebut sangat kontras dengan kondisi saat ini. Tidak ada lagi cheetah liar di Arab Saudi. Para ahli memperkirakan spesies ini punah secara lokal pada 1970-an, akibat kombinasi perburuan, hilangnya habitat, menyusutnya populasi mangsa, dan ekspansi manusia yang cepat.

Pada abad ke-20, senjata api semakin mudah diakses, sementara padang terbuka tempat cheetah berburu berubah menjadi wilayah berpagar, jalan, dan permukiman. Cheetah, yang membutuhkan area jelajah luas dan memiliki tingkat reproduksi rendah, tidak mampu bertahan dalam lanskap yang terfragmentasi.

“Begitu habitatnya menyempit dan mangsanya hilang, cheetah tidak punya banyak pilihan,” kata Abdulrahman Al-Shehri, ekolog satwa liar Arab Saudi yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut. “Kepunahan lokal hampir tak terelakkan.”

A, B Citra radiografi dan rekonstruksi virtual 3D pada tengkorak, C Jaringan lunak di dalam rongga kranium. D Bagian toraks dari mumi 2. E Mumi 1 di lokasi penemuan di dalam gua.

Hilangnya cheetah juga berarti hilangnya predator puncak yang berperan menjaga keseimbangan ekosistem. Fenomena ini mencerminkan pola yang lebih luas di Timur Tengah, di mana singa Asia, macan tutul, dan cheetah secara bertahap lenyap dari wilayah jelajah historis mereka.

Dalam beberapa tahun terakhir, Arab Saudi mulai meluncurkan program konservasi berskala besar, termasuk pembentukan kawasan lindung, pemulihan habitat, dan reintroduksi satwa seperti oryx Arab dan gazelle. Temuan tentang cheetah purba kini memunculkan diskusi baru mengenai kemungkinan rewilding, atau pengembalian spesies ke habitat asalnya.

Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa reintroduksi cheetah bukan perkara sederhana. Spesies ini memerlukan bentang alam luas, populasi mangsa yang stabil, serta penerimaan sosial dan komitmen jangka panjang dari pemerintah.

“Rewilding bukan soal menghidupkan romantisme masa lalu,” ujar Leonardi. “Ini tentang kesiapan ekosistem dan tanggung jawab jangka panjang.”

Lebih dari sekadar kisah tentang cheetah, penelitian ini menegaskan pentingnya memahami kondisi ekologi masa lalu sebagai dasar konservasi masa depan. Tanpa mengetahui apa yang pernah ada, manusia berisiko menetapkan standar konservasi yang terlalu rendah.

Cheetah yang kini hanya tersisa dalam bentuk tulang dan DNA di gua-gua Arab Saudi menjadi pengingat bahwa gurun tidak selalu sunyi dan kosong. Di masa lalu, wilayah ini pernah menopang salah satu pelari tercepat di planet ini — dan pertanyaan besar ke depan adalah apakah ia akan tetap menjadi bagian dari sejarah, atau suatu hari kembali menjadi bagian dari lanskap hidup Arabia. (Wage Erlangga)

Lanjut lagi...

teknologi selam

Teknologi Baru Ini Bikin Menyelam Tambah Aman, Bisa Lacak Panas Tubuh di Bawah Air

amungme

Di Balik Kilau Emas Papua, Masyarakat Adat Komoro dan Amungme Menanggung Luka Lingkungan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *