penyelam wanita korea

Penyelam Perempuan Korea Tantang Batas Hipoksia

Views: 3

Para ilmuwan melaporkan temuan baru tentang penyelam tradisional perempuan Korea, haenyeo. Mereka menunjukkan kapasitas menyelam yang ekstrem. Kemampuan itu menantang pemahaman lama tentang batas fisiologi manusia.

Studi tersebut dipublikasikan di jurnal Current Biology pada 18 Agustus 2025. Penelitian itu mendokumentasikan perilaku menyelam para haenyeo. Para perempuan ini menghabiskan proporsi waktu yang sangat tinggi di bawah air. Mereka melakukannya tanpa menunjukkan respons kardiovaskular yang drastis. Respons seperti itu biasanya ditemukan pada mamalia laut saat menyelam.

Penelitian yang dipimpin oleh J. Chris McKnight itu dilakukan di Jeju Island, wilayah pesisir South Korea yang menjadi rumah bagi tradisi menyelam bebas napas tersebut selama berabad-abad.

Menguji Batas Tubuh

Haenyeo dikenal sebagai penyelam bebas napas yang mengumpulkan abalon, gurita, dan hasil laut lainnya tanpa bantuan tabung oksigen. Banyak dari mereka berusia lanjut, bahkan hingga 60 atau 70 tahun, namun tetap aktif menyelam dalam perairan yang dingin.

Penelitian ini berangkat dari pertanyaan sederhana namun mendasar, bagaimana tubuh manusia mampu mentoleransi paparan berulang terhadap hipoksia — kondisi kekurangan oksigen — selama aktivitas menyelam intensif setiap hari?

Dalam studi lapangan tersebut, tim peneliti memantau pola penyelaman dan respons fisiologis para haenyeo saat bekerja seperti biasa. Mereka mengukur durasi menyelam, waktu pemulihan di permukaan, serta perubahan denyut jantung selama siklus penyelaman berulang.

Hasilnya mengejutkan para ilmuwan.

Waktu di Bawah Air yang Luar Biasa

Menurut McKnight, para haenyeo menunjukkan proporsi waktu berada di bawah air tertinggi yang pernah tercatat pada populasi manusia. Dalam sehari kerja, mereka berulang kali menyelam dan hanya beristirahat singkat di permukaan sebelum kembali turun.

“Yang benar-benar mencolok adalah seberapa besar porsi waktu mereka habiskan di bawah air dibandingkan waktu pemulihan di permukaan,” kata McKnight dalam keterangan penelitian tersebut. Ia menjelaskan bahwa secara kumulatif, waktu menyelam mereka melampaui banyak catatan komunitas penyelam bebas lainnya di dunia.

Penelitian ini menyoroti bahwa kemampuan tersebut bukan hanya soal teknik, tetapi juga kemungkinan hasil dari adaptasi jangka panjang — baik melalui latihan intensif bertahun-tahun maupun faktor biologis yang lebih kompleks.

penyelam wanita korea
Haenyeo generasi baru sedang bersiap sebelum menyelam, (Photo: Erin Henderson)

Dari gunung hingga laut, kami kirim langsung ke Anda. Join Saluran WhatsApp Lingkar Bumi sekarang.

Respons Jantung yang Tidak Biasa

Secara umum, ketika manusia menyelam dan menahan napas, tubuh memicu apa yang dikenal sebagai “diving reflex,” termasuk perlambatan denyut jantung untuk menghemat oksigen. Mamalia laut seperti anjing laut atau paus menunjukkan penurunan fungsi kardiovaskular yang sangat signifikan selama menyelam.

Namun dalam studi ini, para haenyeo tidak menunjukkan penurunan kardiovaskular yang drastis selama penyelaman berulang. Denyut jantung mereka memang berubah, tetapi tidak dengan pola ekstrem yang terlihat pada mamalia laut.

“Temuan kami menunjukkan bahwa meskipun mereka sangat terlatih, respons fisiologis mereka tidak identik dengan mamalia penyelam yang sangat teradaptasi,” kata McKnight.

Bagi para peneliti, ini menunjukkan bahwa manusia mungkin memiliki fleksibilitas fisiologis yang lebih besar daripada yang diperkirakan sebelumnya. Alih-alih mengandalkan satu respons ekstrem, tubuh para haenyeo tampaknya mengelola keseimbangan antara efisiensi oksigen dan keberlanjutan kerja jangka panjang.

Adaptasi atau Latihan?

Salah satu pertanyaan utama yang muncul adalah apakah kemampuan luar biasa ini bersifat genetik atau hasil latihan seumur hidup.

Tradisi haenyeo diwariskan secara turun-temurun, dengan banyak perempuan mulai belajar menyelam sejak usia muda. Paparan jangka panjang terhadap penyelaman berulang dapat membentuk respons fisiologis yang berbeda dibandingkan individu yang baru berlatih menyelam bebas dalam waktu singkat.

McKnight dan timnya tidak menyimpulkan adanya adaptasi genetik spesifik dalam penelitian ini, tetapi mereka menekankan bahwa kombinasi antara budaya, lingkungan, dan pengalaman hidup memainkan peran penting dalam membentuk kapasitas menyelam tersebut.

Penelitian ini juga membuka peluang untuk memahami bagaimana tubuh manusia beradaptasi terhadap stres lingkungan yang ekstrem, termasuk implikasi bagi studi medis tentang hipoksia dan ketahanan kardiovaskular.

Warisan Budaya dan Ilmu Pengetahuan

Di luar temuan fisiologis, studi ini juga menyoroti pentingnya menjaga tradisi haenyeo yang kini menghadapi penurunan jumlah praktisi akibat perubahan sosial dan ekonomi.

Bagi komunitas di Jeju, menyelam bukan sekadar pekerjaan, melainkan identitas budaya. Bagi ilmuwan, mereka adalah contoh hidup tentang bagaimana manusia dapat mendorong batas kemampuan biologisnya melalui kombinasi tradisi, latihan, dan ketahanan.

“Haenyeo menunjukkan bahwa kapasitas manusia untuk beradaptasi sering kali diremehkan,” kata McKnight.

Dengan publikasi di Current Biology pada Agustus 2025, penelitian ini memperkaya pemahaman global tentang fisiologi penyelaman manusia. Studi tersebut juga memberikan gambaran bahwa batas kemampuan manusia mungkin lebih luas daripada yang selama ini diasumsikan — terutama ketika budaya dan lingkungan membentuk tubuh selama puluhan tahun.

Bagi dunia sains, haenyeo bukan hanya simbol warisan maritim Korea, tetapi juga jendela untuk memahami bagaimana manusia bertahan, beradaptasi, dan terus menantang batas biologisnya di bawah permukaan laut. (Wage Erlangga)

Lanjut lagi...

slack line di angels falls

Sejumlah Petualang Pecahkan Rekor Dunia Slackline di Atas Air Terjun Tertinggi Dunia

summit attack

Apa Itu Summit Attack? Arti dan Strategi Menuju Puncak dalam Pendakian Gunung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *