Views: 0
Fenomena migrasi burung merupakan salah satu keajaiban alam terbesar di Bumi. Setiap tahun miliaran burung terbang melintasi gunung, gurun, lautan, dan berbagai batas negara untuk berkembang biak atau mencari sumber makanan. Namun perjalanan yang telah berlangsung selama ribuan tahun itu kini menghadapi ancaman serius. Para ilmuwan memperingatkan bahwa lebih dari separuh spesies burung migrasi dunia sedang mengalami penurunan populasi, sebuah kondisi yang tidak hanya mengancam kelestarian satwa liar, tetapi juga berpotensi memengaruhi kehidupan manusia melalui meningkatnya populasi hama serangga.
Peringatan tersebut disampaikan dalam artikel ilmiah berjudul “Status, Threats and Conservation of Earth’s Migratory Birds” yang dipublikasikan pada 23 Juli 2026 di jurnal Nature Reviews Biodiversity. Kajian tersebut dipimpin oleh Peter P. Marra dari Georgetown University bersama Nathan W. Cooper dari Smithsonian Migratory Bird Center serta melibatkan sejumlah peneliti dari BirdLife International, Cornell University, British Trust for Ornithology, dan berbagai lembaga konservasi internasional.
Mengapa Populasi Burung Migrasi Terus Menurun?
Dalam kajian tersebut, tim peneliti menemukan bahwa sekitar 51 persen spesies burung migrasi di dunia mengalami penurunan populasi. Penurunan itu terjadi hampir di seluruh kawasan dunia dan menjadi salah satu tantangan konservasi paling mendesak saat ini.
Menurut Peter P. Marra dan rekan-rekannya, burung migrasi merupakan salah satu kelompok satwa yang paling penting bagi fungsi ekosistem global. Namun berbeda dengan satwa yang hidup menetap, burung migrasi harus bergantung pada banyak habitat di berbagai negara sepanjang siklus hidupnya. Kondisi inilah yang membuat mereka jauh lebih rentan terhadap perubahan lingkungan dan aktivitas manusia.
Para peneliti menjelaskan bahwa ancaman terhadap burung migrasi muncul hampir di setiap tahap perjalanan mereka. Habitat terus menyusut akibat alih fungsi lahan, lahan basah dan kawasan pesisir mengalami degradasi, sementara perubahan iklim mengubah waktu migrasi dan ketersediaan makanan.
“Selain itu, jutaan burung mati setiap tahun akibat bertabrakan dengan gedung bertingkat, menara komunikasi, jaringan listrik, hingga turbin angin. Ancaman lainnya berasal dari perburuan, perdagangan ilegal, penggunaan pestisida, keberadaan spesies invasif seperti kucing liar, serta penyakit seperti flu burung”, urainya.
Apa Dampaknya Jika Populasi Burung Migrasi Terus Berkurang?
Meski terdengar sebagai persoalan konservasi satwa liar, dampaknya ternyata dapat menjalar hingga ke sektor pertanian. Banyak burung migrasi merupakan pemangsa alami berbagai jenis serangga. Selama musim berkembang biak, mereka mengonsumsi ulat, belalang, kumbang, nyamuk, dan berbagai serangga lain dalam jumlah sangat besar. Kehadiran mereka membantu menjaga keseimbangan populasi serangga secara alami tanpa campur tangan manusia.
Apabila jumlah burung migrasi terus berkurang, kemampuan alam mengendalikan populasi serangga juga ikut melemah. Akibatnya, beberapa spesies hama berpotensi berkembang lebih cepat dan menyerang tanaman budidaya dalam jumlah lebih besar. Kondisi tersebut dapat memaksa petani meningkatkan penggunaan pestisida, menaikkan biaya produksi, sekaligus memperbesar risiko pencemaran lingkungan.
Dalam artikel tersebut, Marra dan timnya menegaskan bahwa burung migrasi memberikan kontribusi besar terhadap fungsi ekosistem dan berbagai jasa lingkungan yang menopang kehidupan manusia. Hilangnya burung migrasi bukan hanya berarti berkurangnya keanekaragaman hayati, tetapi juga hilangnya layanan ekosistem seperti pengendalian hama, penyebaran biji, dan menjaga keseimbangan rantai makanan.

Dari gunung hingga laut, kami kirim langsung ke Anda. Join Saluran WhatsApp Lingkar Bumi sekarang.
Mengapa Ledakan Hama Serangga Bisa Terjadi?
Burung migrasi merupakan predator alami bagi berbagai jenis serangga yang berpotensi menjadi hama pertanian. Ketika populasi burung menurun, tekanan alami terhadap populasi serangga ikut berkurang sehingga peluang berkembang biaknya hama menjadi lebih besar.
Walaupun ledakan hama dipengaruhi banyak faktor, termasuk perubahan iklim dan praktik pertanian, berkurangnya jumlah predator alami seperti burung migrasi dapat memperburuk kondisi tersebut. Oleh karena itu, menjaga populasi burung migrasi berarti juga membantu mempertahankan mekanisme pengendalian hama yang telah disediakan alam selama ribuan tahun.
Para peneliti juga mengingatkan bahwa kondisi sebenarnya kemungkinan lebih mengkhawatirkan daripada yang diketahui saat ini. Mereka menjelaskan bahwa pemantauan burung migrasi masih menghadapi keterbatasan teknis, pendanaan, serta ketimpangan data, terutama di negara-negara Global South. Akibatnya, ilmuwan belum sepenuhnya mengetahui lokasi penurunan populasi maupun penyebab spesifik yang terjadi di setiap wilayah.
Menurut Nathan W. Cooper, kompleksitas perjalanan burung migrasi menjadi tantangan tersendiri bagi upaya konservasi. Seekor burung dapat berkembang biak di Siberia, singgah di Asia Timur, lalu menghabiskan musim dingin di Indonesia atau Australia. Jika salah satu lokasi penting di sepanjang perjalanan tersebut rusak, seluruh siklus hidupnya dapat terganggu.
Bagaimana Cara Menyelamatkan Burung Migrasi?
Tim peneliti merekomendasikan perubahan pendekatan konservasi yang lebih menyeluruh. Perlindungan habitat tetap penting, tetapi harus disertai dengan pemantauan populasi yang lebih baik, perlindungan kawasan singgah, pengurangan ancaman seperti tabrakan dengan infrastruktur dan penggunaan pestisida, serta peningkatan kerja sama internasional.
Peter P. Marra dan rekan-rekannya juga menekankan pentingnya meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai manfaat burung migrasi bagi kehidupan manusia. Menurut mereka, konservasi akan lebih berhasil apabila masyarakat memahami bahwa burung migrasi bukan hanya satwa liar yang menarik untuk diamati, melainkan juga penyedia jasa ekosistem yang bernilai bagi pertanian, hutan, dan keseimbangan alam.
Ketika lebih dari separuh spesies burung migrasi dunia mengalami penurunan populasi, yang dipertaruhkan bukan hanya kelestarian satwa liar, tetapi juga stabilitas lingkungan dan ketahanan pangan di masa depan. Tanpa upaya konservasi yang terkoordinasi di tingkat internasional, ledakan hama serangga mungkin hanyalah salah satu dari banyak dampak yang akan muncul di masa mendatang. (Wage Erlangga)







