ngengat laut

Baru Dikenal Ngengat Laut Sudah Terancam Punah

Views: 7

Perubahan iklim berpotensi meningkatkan risiko kepunahan ngengat laut, kelompok ikan laut kecil berlapis tulang keras, akibat menyusut dan bergesernya habitat yang sesuai bagi kelangsungan hidup mereka. Hal ini terungkap dalam sebuah penelitian ilmiah terbaru yang menilai bahwa dampak perubahan iklim belum sepenuhnya tercermin dalam penilaian konservasi saat ini.

Temuan tersebut berasal dari penelitian berjudul Elevated extinction risk of sea moths under climate change yang dipublikasikan dalam jurnal Global Ecology and Conservation pada 2025. Studi ini dipimpin oleh Shuaishuai Liu dari South China Sea Institute of Oceanology, Chinese Academy of Sciences, bersama tim peneliti internasional.

Dalam laporan penelitian, Liu dan rekan-rekannya menjelaskan bahwa ngengat laut merupakan spesies yang sangat bergantung pada perairan dangkal. Para peneliti menulis bahwa ngengat laut adalah “spesialis perairan dangkal dengan kemampuan penyebaran yang terbatas”.

Menurut laporan tersebut, karakteristik ini membuat ngengat laut memiliki toleransi lingkungan yang sempit. Para penulis menjelaskan bahwa spesies dengan kemampuan penyebaran rendah akan lebih sulit beradaptasi terhadap perubahan kondisi lingkungan, terutama ketika perubahan tersebut terjadi secara cepat akibat pemanasan laut.

Peta persebaran Ngengat Laut di seluruh dunia ermasuk di Indonesia.

Dari gunung hingga laut, kami kirim langsung ke Anda. Join Saluran WhatsApp Lingkar Bumi sekarang.

Habitat Diproyeksi Menurun

Untuk menilai dampak perubahan iklim, tim peneliti menggunakan pemodelan distribusi spesies berbasis variabel lingkungan dan skenario iklim masa depan. Dalam laporan penelitian, Liu dan rekan-rekannya menyatakan bahwa “kesesuaian habitat yang diproyeksikan untuk sebagian besar spesies ngengat laut menurun secara signifikan di bawah skenario iklim masa depan”.

Penurunan kesesuaian habitat ini terutama terjadi di wilayah tropis dan subtropis. Para peneliti mencatat bahwa wilayah-wilayah tersebut diperkirakan mengalami peningkatan suhu laut yang lebih cepat, sehingga mempersempit area perairan dangkal yang masih layak dihuni oleh ngengat laut.

Selain menyusut, habitat yang tersisa juga diproyeksikan akan bergeser secara geografis. Namun, menurut laporan penelitian, pergeseran ini tidak serta-merta menurunkan risiko kepunahan. Para penulis menekankan bahwa keterbatasan kemampuan penyebaran membuat ngengat laut tidak selalu mampu mengikuti perubahan lokasi habitat yang sesuai.

Penelitian ini juga menyoroti potensi ketidaksesuaian antara status konservasi saat ini dan risiko kepunahan di masa depan. Liu dan rekan-rekannya menuliskan bahwa “penilaian konservasi saat ini dapat meremehkan risiko kepunahan apabila kehilangan habitat akibat perubahan iklim di masa depan tidak diperhitungkan”.

Menurut para peneliti, sebagian besar penilaian konservasi masih didasarkan pada kondisi lingkungan saat ini, tanpa memasukkan proyeksi perubahan iklim jangka panjang. Hal ini berpotensi membuat sejumlah spesies ngengat laut tampak aman dalam kategori konservasi, padahal menghadapi risiko yang meningkat di masa depan.

Dalam laporan penelitian, para penulis juga menjelaskan bahwa spesies laut kecil dengan sebaran terbatas dapat mencerminkan perubahan lingkungan secara lebih cepat. Mereka menuliskan bahwa spesies seperti ngengat laut dapat berfungsi sebagai penanda perubahan lingkungan di ekosistem laut dangkal.

Perubahan distribusi dan kesesuaian habitat ngengat laut, menurut para peneliti, dapat mengindikasikan tekanan yang lebih luas pada ekosistem pesisir, termasuk perubahan sedimen dasar laut dan degradasi habitat perairan dangkal.

Keberadaan Ngengat Laut di Indonesia

Indonesia berada di kawasan Indo-Pasifik yang juga merupakan wilayah persebaran ngengat laut. Spesies ini tercatat menghuni perairan dangkal, terutama di pesisir berpasir dan kawasan padang lamun.

Namun, hingga kini data populasi ngengat laut di Indonesia masih terbatas. Spesies ini jarang menjadi fokus pemantauan karena ukurannya kecil dan tidak memiliki nilai ekonomi langsung. Di sisi lain, ekosistem pesisir Indonesia menghadapi tekanan yang meningkat akibat pemanasan laut, degradasi padang lamun, perubahan garis pantai, dan aktivitas manusia.

Temuan Liu dan rekan-rekannya menunjukkan bahwa tanpa pendekatan konservasi yang mempertimbangkan dampak perubahan iklim, ngengat laut di berbagai wilayah, termasuk di perairan Indonesia, berisiko menghadapi peningkatan tekanan kepunahan dalam beberapa dekade mendatang. Studi ini menegaskan bahwa perubahan iklim tidak hanya mengancam spesies laut besar dan ikonik, tetapi juga organisme kecil yang selama ini jarang mendapat perhatian, namun memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut. (Wage Erlangga)

Lanjut lagi...

seks di luar angkasa

Bisakah Manusia Berhubungan Seks di Luar Angkasa?

pohon akasia

Hutan Masa Depan Akan Didominasi Pohon Cepat Tumbuh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *