seks di luar angkasa

Bisakah Manusia Berhubungan Seks di Luar Angkasa?

Views: 6

Manusia selalu punya kebiasaan yang sama setiap kali menembus batas baru. Saat kaki pertama menginjak puncak gunung, pertanyaan berikutnya bukan lagi “bisakah kita sampai,” melainkan “bisakah kita tinggal.” Begitu pula dengan ruang angkasa. Setelah roket berhasil membawa manusia keluar dari atmosfer Bumi, pertanyaan berikutnya perlahan berubah: bagaimana manusia hidup sepenuhnya di luar sana?

Pertanyaan itu bukan cuma soal oksigen, makanan, atau tempat tidur. Ada hal yang lebih mendasar dan sangat manusiawi, hubungan intim dan reproduksi. Bisakah manusia melakukan hubungan seks di luar angkasa? Dan jika bisa, apa dampaknya bagi tubuh dan masa depan manusia itu sendiri?

Pertanyaan ini mulai dibahas serius oleh para ilmuwan, seiring meningkatnya misi jangka panjang dan rencana tinggal permanen di luar Bumi. Dalam sebuah kajian ilmiah yang dipublikasikan Februari 2026 di jurnal Reproductive Biomedicine Online, sekelompok peneliti internasional menyatakan bahwa lingkungan luar angkasa masih menjadi wilayah yang sangat berisiko bagi sistem reproduksi manusia.

Penelitian berjudul Reproductive biomedicine in space: implications for gametogenesis, fertility and ethical considerations in the era of commercial spaceflight itu dipimpin oleh Fathi Karouia, ilmuwan NASA yang meneliti dampak penerbangan antariksa terhadap tubuh manusia. Bersama para peneliti lain seperti J. Cohen, C.E. Mason, V. Wotring, P.R. Wolpe, B.T. Stocks, J.A. Jones, B.A. Mathyk, dan G.A. Palmer, mereka mengulas berbagai bukti ilmiah tentang bagaimana tubuh bereaksi terhadap kondisi ekstrem di luar angkasa.

Dua faktor utama menjadi sorotan, radiasi kosmik dan mikrogravitasi. Di Bumi, manusia dilindungi oleh atmosfer dan medan magnet yang menyaring sebagian besar radiasi berbahaya. Di luar angkasa, perlindungan itu nyaris tidak ada. Radiasi kosmik dapat merusak DNA, termasuk DNA sperma dan sel telur. C.E. Mason menjelaskan bahwa kerusakan genetik ini berpotensi menimbulkan mutasi yang berbahaya jika terjadi pembuahan.

Astronaut National Aeronautics and Space Administration (NASA), Tracy Caldwell Dyson (kanan) dan Shannon Walker, bersiap memasukkan sampel biologis ke dalam baki dewar di Minus Eighty Laboratory Freezer yang berada di Laboratorium Kibo, Stasiun Luar Angkasa Internasional. Dokumentasi milik NASA, 2010.

Dari gunung hingga laut, kami kirim langsung ke Anda. Join Saluran WhatsApp Lingkar Bumi sekarang.

Mikrogravitasi, kondisi hampir tanpa gaya tarik, juga membawa dampak besar. Tubuh manusia berevolusi selama jutaan tahun dalam gravitasi Bumi. Ketika gaya ini hilang, keseimbangan hormon, aliran darah, dan kerja organ berubah. J.A. Jones dan B.A. Mathyk mencatat bahwa perubahan fisiologis tersebut berpotensi mengganggu fungsi sistem reproduksi, baik pada pria maupun perempuan.

Penelitian sebelumnya pada hewan dan sel menunjukkan bahwa tahap awal perkembangan embrio sangat rentan terhadap kondisi luar angkasa. Proses implantasi embrio dan pembelahan sel dapat terganggu dalam lingkungan mikrogravitasi. Meski belum ada data langsung tentang kehamilan manusia di luar angkasa, temuan-temuan ini menjadi peringatan serius.

Lalu bagaimana dengan hubungan seks itu sendiri? Apakah dilarang? Secara formal, tidak ada aturan tertulis yang secara eksplisit melarang hubungan intim di luar angkasa. Namun dalam praktiknya, aktivitas tersebut tidak pernah difasilitasi maupun diteliti. Lingkungan stasiun luar angkasa dirancang untuk efisiensi dan keselamatan, bukan untuk kehidupan domestik. Ruang terbatas, privasi minim, dan seluruh aktivitas diatur ketat demi keberhasilan misi.

V. Wotring, pakar farmakologi antariksa dalam tim peneliti, menekankan bahwa bahkan dari sisi fisiologis, hubungan seksual di kondisi mikrogravitasi belum pernah dikaji secara ilmiah. Tidak ada data tentang bagaimana respons jantung, hormon, atau koordinasi tubuh selama aktivitas tersebut di luar angkasa.

Isu ini menjadi semakin kompleks ketika menyentuh aspek etika. P.R. Wolpe, ahli bioetika yang ikut menulis kajian tersebut, menyoroti tanggung jawab moral jika hubungan seksual sampai menghasilkan kehamilan. Siapa yang bertanggung jawab atas keselamatan janin? Bagaimana jika terjadi komplikasi medis di lingkungan dengan fasilitas terbatas? Pertanyaan-pertanyaan ini, menurut Wolpe, belum memiliki jawaban yang jelas.

J. Cohen, salah satu penulis senior penelitian ini, menulis bahwa eksplorasi luar angkasa selama ini terlalu fokus pada teknologi, sementara dimensi kemanusiaan sering tertinggal. Padahal, jika manusia benar-benar ingin menetap di luar Bumi, kebutuhan biologis dan sosial tidak bisa diabaikan begitu saja.

Loker/inkubator penelitian eksperimen mikrogravitasi dalam posisi terbuka. Perangkat ini menyediakan lingkungan yang dikontrol secara termal untuk eksperimen ilmiah, dan mampu menjaga suhu antara −20°C hingga +48,5°C. Dokumentasi milik National Aeronautics and Space Administration, 2017.

Kesimpulan penelitian ini tidak menyatakan bahwa hubungan seksual di luar angkasa mustahil secara fisik. Namun para peneliti sepakat bahwa, dengan pengetahuan saat ini, aktivitas seksual yang berpotensi menghasilkan kehamilan tidak disarankan. Risiko biologisnya masih terlalu besar, dan ilmu pengetahuan belum cukup untuk menjamin keselamatan jangka panjang.

Ruang angkasa mungkin menjadi tujuan baru manusia, tetapi tubuh kita masih sepenuhnya milik Bumi. Evolusi belum menyiapkan kita untuk bereproduksi di lingkungan tanpa gravitasi dan penuh radiasi. Setidaknya untuk saat ini, jika manusia ingin tetap menjadi manusia seutuhnya, Bumi masih menjadi satu-satunya rumah yang benar-benar aman. (Sulung Prasetyo)

Lanjut lagi...

sampah perairan

Perairan Dunia Hampir Seluruhnya Tersentuh Sampah Manusia

ngengat laut

Baru Dikenal Ngengat Laut Sudah Terancam Punah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *