joseph dituri

Joseph Dituri, 100 Hari Tinggal di Bawah Laut

Views: 7

Ketika Joseph Dituri muncul ke permukaan laut pada 9 Juni 2023, ia bukan hanya memecahkan rekor dunia. Ia juga menutup satu bab eksperimen pribadi yang memadukan disiplin militer, rasa ingin tahu ilmiah, dan dedikasi sebagai pendidik.

Profesor dari University of South Florida itu menghabiskan 100 hari tinggal di habitat bawah laut di lepas pantai Florida Keys — durasi terlama seseorang hidup di bawah laut tanpa dekompresi. Misinya dimulai pada 1 Maret 2023 dan menjadi sorotan internasional bukan semata karena lamanya waktu, tetapi karena tujuan ilmiah di baliknya.

Dituri, 55 tahun saat itu, bukan petualang dadakan. Ia menghabiskan 28 tahun berkarier di Angkatan Laut Amerika Serikat, termasuk sebagai penyelam eksperimental. Pengalaman itu membentuk ketertarikannya pada fisiologi tekanan tinggi — bagaimana tubuh manusia bereaksi dalam kondisi ekstrem.

“Batas manusia itu sering kali lebih mental daripada fisik,” katanya dalam salah satu pembaruan selama misi.

Dari gunung hingga laut, kami kirim langsung ke Anda. Join Saluran WhatsApp Lingkar Bumi sekarang.

Guru Sebagai Subjek Penelitian

Habitat yang ia tempati adalah Jules’ Undersea Lodge, sebuah fasilitas penelitian yang berada sekitar tujuh meter di bawah permukaan laut dekat Key Largo. Ruangannya sempit, kira-kira seluas kamar kecil, dengan tempat tidur, meja kerja, komputer, dan peralatan medis.

Tekanan udara di dalam habitat lebih tinggi daripada di permukaan — kondisi hiperbarik yang konstan selama lebih dari tiga bulan.

Dituri tidak hanya “tinggal” di sana. Ia menjadikan dirinya subjek penelitian. Ia memantau tanda vital, mengambil sampel darah, mencatat pola tidur, dan menguji perubahan fisiologis akibat paparan tekanan jangka panjang. Tim medis di permukaan ikut mengawasi perkembangan kesehatannya.

Namun ia tetap menjalankan peran sebagai pengajar. Dari bawah laut, ia mengajar kelas teknik biomedis secara daring, memandu mahasiswa, serta berbicara dengan ribuan siswa sekolah tentang sains dan eksplorasi.

Ia menyebut pendekatan itu sebagai cara “mendemokratisasi sains” — membawa penelitian keluar dari laboratorium tertutup dan menjadikannya pengalaman langsung yang bisa disaksikan publik.

Disiplin dan Ketahanan Mental

Rutinitas hariannya terstruktur ketat. Ia bangun pagi, berolahraga menggunakan resistance band untuk menjaga massa otot, mengajar, membaca, meneliti, lalu bermeditasi. Makanan dikirim oleh penyelam pendukung. Satu-satunya cara keluar masuk habitat adalah dengan menyelam.

Tantangan terbesar, katanya, bukan tekanan fisik melainkan isolasi.

Tanpa sinar matahari langsung, tanpa berjalan-jalan bebas, dan tanpa interaksi tatap muka rutin, ia harus menjaga stabilitas mentalnya sendiri. Ia mengandalkan komunikasi video dengan keluarga dan jadwal yang konsisten untuk menghindari disorientasi waktu.

Selama misi, tinggi badannya berkurang sekitar satu sentimeter akibat kompresi tulang belakang dalam tekanan tinggi. Namun beberapa indikator kesehatan menunjukkan perubahan positif, termasuk perbaikan kualitas tidur dan penurunan kadar kolesterol.

Para peneliti kini menelaah apakah paparan hiperbarik jangka panjang memiliki potensi terapeutik, termasuk kemungkinan membantu pemulihan cedera otak traumatis atau kondisi neurologis tertentu. Dituri berhati-hati dalam menyimpulkan, menekankan bahwa analisis data masih berlangsung.

Masa Depan Manusia

Bagi Dituri, eksperimen ini juga memiliki implikasi lebih luas. Lingkungan bawah laut yang terisolasi dan bertekanan tinggi memiliki kesamaan dengan habitat luar angkasa. Studi tentang adaptasi manusia dalam kondisi ekstrem dapat membantu mempersiapkan misi jangka panjang, termasuk eksplorasi antariksa.

Meski demikian, ia menolak narasi bahwa dirinya ingin menjadi “manusia super,” sebuah istilah yang sempat muncul dalam pemberitaan awal proyeknya. Ia lebih memilih menyebut dirinya seorang guru yang ingin menunjukkan bahwa pembelajaran bisa melampaui ruang kelas.

Ketika hari ke-100 tiba, proses kembali ke permukaan tidak langsung. Karena tubuhnya berada dalam tekanan tinggi selama berbulan-bulan, ia harus menjalani dekompresi lebih dari 18 jam sebelum benar-benar menghirup udara bebas.

Momen itu disambut tepuk tangan tim pendukung. Tetapi Dituri segera mengingatkan bahwa pencapaian sesungguhnya bukanlah rekor, melainkan data yang dikumpulkan.

Kini kembali ke kampus, ia melanjutkan penelitian dan mengajar. Rekor dunia mungkin suatu hari akan terlampaui. Namun bagi Joseph Dituri, 100 hari di bawah laut bukan tentang memecahkan angka.

Itu tentang memahami seberapa jauh tubuh dan pikiran manusia dapat beradaptasi — dan bagaimana pengetahuan itu dapat membantu masa depan. (Wage Erlangga)

Lanjut lagi...

rumput pegunungan

Pemanasan Global Ubah Padang Rumput Pegunungan Jadi Tak Produktif

htuan tropis

Hutan Tropis Hasilkan Air Sebanyak Kolam Olimpiade Per Hektare

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *