Bukan Abal-Abal, Ini Alasan Mengapa Orang Kembali Mencoba Arung Jeram?

Views: 1

Air sungai mengalir deras di antara tebing kapur Köprülü Canyon, Antalya, Turki. Suara dayung memecah permukaan air, disusul teriakan kecil antara takut dan gembira. Di atas perahu karet yang menari mengikuti arus, para wisatawan mendapati diri mereka berada di batas antara ketakutan dan kesenangan.

Bagi sebagian orang, arung jeram hanya hiburan. Tapi bagi yang lain, ini seperti bentuk pernyataan. Inilah saya.

Sebuah penelitian yang diterbitkan di jurnal Nature Humanities and Social Sciences Communications (Juli 2025) mencoba menjawab pertanyaan sederhana tapi menarik. Apa yang sebenarnya dicari orang ketika mereka berpetualang? Apakah semata-mata kesenangan, atau ada sesuatu yang lebih dalam — semacam pencarian jati diri?

Antara Hiburan dan Identitas

Dalam penelitian tersebut, hampir 300 peserta rafting di Köprülü Canyon diminta mengisi survei. Pertanyaannya menggali hal-hal yang tampak sepele. Seperti mengapa mereka datang, apa yang mereka rasakan, apakah mereka ingin kembali. Tapi dari jawaban-jawaban sederhana itu, muncul gambaran kompleks tentang manusia dan petualangan.

Bagi banyak wisatawan, terutama yang baru pertama kali mencoba, dorongan utama adalah hiburan: keluar dari rutinitas, tertawa bersama teman, menikmati percikan air sungai yang dingin. Namun, di balik itu, tersimpan sesuatu yang lebih halus. Rasa ingin menguji diri.

“Banyak orang datang bukan hanya untuk bersenang-senang,” tulis Mustafa Gülmez, peneliti dari Universitas Sivas Cumhuriyet, Turki menjelaskan. “Mereka ingin merasa hidup, merasa berani, merasa menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri.”

Inilah yang disebut para psikolog sebagai self-image congruity — kesesuaian antara pengalaman dan citra diri. Saat seseorang merasa petualangannya mencerminkan siapa dirinya, ia akan lebih mudah jatuh cinta pada pengalaman itu, dan lebih mungkin untuk kembali.

Hasil penelitian menunjukkan pola menarik. Bagi pemula, arung jeram adalah kejutan menyenangkan: campuran antara tawa gugup dan rasa bangga karena berhasil menaklukkan ketakutan. Dorongan “fun” dan “escape” sangat kuat di kelompok ini. Mereka mudah terpikat, bercerita kepada teman, lalu memicu gelombang word-of-mouth — cerita dari mulut ke mulut yang bisa menggerakkan orang lain untuk ikut mencoba.

Namun, bagi mereka yang sudah berulang kali datang, arusnya berubah arah. Petualangan bukan lagi tentang hiburan. Ia menjadi ritual, cara mereka mengingatkan diri siapa mereka sebenarnya.
Seseorang yang sudah lama berkecimpung dalam dunia rafting datang bukan karena ingin mencoba hal baru, tetapi karena tempat itu sudah menjadi bagian dari dirinya.

Pria, Wanita, dan Cara Berbeda Menikmati Risiko

Dalam dunia petualangan, motivasi sering kali dipengaruhi oleh cara pandang terhadap diri sendiri — dan di sini, gender memainkan peran yang menarik.

Para peneliti menemukan bahwa wanita cenderung datang karena daya tarik emosional. Kesenangan, kebebasan, dan keindahan alam. Mereka menikmati momen di sungai seperti menikmati tarian air — intens tapi penuh harmoni.

Sebaliknya, pria lebih banyak mencari pembuktian. Arung jeram adalah panggung kecil di mana mereka bisa menegaskan keberanian, kekuatan, dan kendali diri. Mereka juga lebih aktif menceritakan pengalaman mereka, mengunggah foto, atau mengajak teman lain untuk ikut.

“Bagi pria, pengalaman ini adalah cermin dari jati diri. Bagi wanita, ia lebih seperti percakapan dengan alam,” simpul penelitian itu.

Angka-angka penelitian memang kadang tak menarik, tapi di baliknya ada wajah-wajah yang hidup.
Dalam analisis lebih lanjut, para peneliti menemukan bahwa wisatawan berulang umumnya adalah pria lokal Turki — mereka yang sudah berkali-kali mengarungi sungai yang sama dan tak pernah bosan.

Sebaliknya, wisatawan pemula kebanyakan datang dari Rusia, terutama perempuan muda. Mereka datang mencari pengalaman baru, sensasi, dan kisah untuk dibawa pulang. Setelah itu, mereka mungkin tak kembali — bukan karena kecewa, tapi karena dunia masih luas untuk dijelajahi.

Sementara itu, wisatawan dari Eropa Barat tampak paling “dingin” dalam hubungan emosional dengan petualangan ini. Bagi mereka, rafting hanyalah salah satu aktivitas liburan, bukan pengalaman spiritual atau simbol diri.

Baca juga:

Dari gunung hingga laut, kami kirim langsung ke Anda. Join Saluran WhatsApp Lingkar Bumi sekarang.

Menyentuh Jantung Petualangan

Temuan-temuan ini memberi pelajaran penting bagi dunia wisata petualangan. Jika ingin menarik pendatang baru, promosi sebaiknya menonjolkan unsur hiburan dan keindahan alam — warna air, tawa di tengah jeram, rasa lega saat perahu kembali ke tepian. Namun, untuk mereka yang sudah lama jatuh cinta pada dunia petualangan, pendekatannya harus berbeda. Berbicara kepada jati diri mereka.

Misalnya, melalui program khusus bagi “member veteran”, pelatihan lanjutan, atau kesempatan untuk berkontribusi dalam konservasi alam tempat mereka bermain.

Dan tentu, jangan lupakan kekuatan cerita. Pengalaman yang dibagikan lewat foto, video, atau testimoni wisatawan, terbukti lebih berpengaruh daripada iklan mana pun.

Pada akhirnya, penelitian ini menyiratkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar perilaku wisatawan. Ia menunjukkan bahwa di balik setiap petualangan, ada dorongan manusiawi untuk menemukan arti hidup.

Mungkin itulah mengapa orang kembali ke sungai yang sama, gunung yang sama, jalur yang sama. Bukan karena ingin menaklukkan alam, tapi karena di sanalah mereka menemukan diri yang pernah hilang.

Air terus mengalir di Köprülü Canyon, seperti waktu yang tak henti berjalan. Dan di antara percikan jeram itu, manusia modern terus berusaha menjawab pertanyaan lama. Apakah kita berpetualang untuk bersenang-senang, atau untuk merasa hidup? (Wage Erlangga)

Lanjut lagi...

motor listrik

6.000 Kilometer Menembus Afrika dengan Motor Tenaga Matahari

desa wisata bali

Desa Wisata Bali Kehilangan Arah di Tengah Modernisasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *