Views: 9
Para ilmuwan mengembangkan teknologi baru yang memungkinkan identifikasi satwa liar hanya melalui jejak kaki, sebuah terobosan yang berpotensi mengubah cara peneliti memantau keanekaragaman hayati tanpa harus menangkap atau menyentuh hewan.
Metode ini dikenal sebagai Footprint Identification Technology atau FIT, sebuah pendekatan non-invasif yang menggabungkan analisis jejak kaki dengan teknik statistik modern. Dalam sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal Frontiers in Ecology and Evolution, Januari 2026 teknologi ini terbukti mampu membedakan spesies mamalia kecil yang secara visual hampir tidak bisa dibedakan, dengan tingkat akurasi mencapai 96 persen.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa jejak kaki—yang selama ribuan tahun digunakan oleh pelacak tradisional—kini dapat diterjemahkan menjadi data ilmiah yang presisi dan dapat diulang.
Tantangan Mengamati Satwa yang Sulit Dilihat
Mamalia kecil merupakan salah satu kelompok satwa yang paling sulit dipantau di alam liar. Banyak di antaranya aktif pada malam hari, bergerak cepat, dan memiliki bentuk tubuh serta warna bulu yang hampir identik antarspesies. Dalam banyak kasus, satu-satunya cara memastikan identitas spesies adalah dengan menangkap hewan tersebut dan melakukan analisis genetik.
Penelitian terbaru ini berfokus pada sengi, atau yang dikenal juga sebagai celurut gajah, mamalia kecil pemakan serangga yang hidup di Afrika. Beberapa spesies sengi memiliki perbedaan morfologi yang sangat halus sehingga sulit dikenali bahkan oleh peneliti berpengalaman di lapangan.
“Spesies-spesies kecil ini sering terlewatkan dalam survei keanekaragaman hayati, padahal perannya dalam ekosistem sangat penting,” kata Zoë Jewell, salah satu penulis studi dan peneliti di Nicholas School of the Environment, Duke University. “Kami ingin menemukan metode yang akurat, etis, dan tidak membebani satwa.”
Peneliti menguji FIT pada dua spesies sengi yang hidup di wilayah Afrika bagian selatan, yaitu Eastern Rock sengi dan Bushveld sengi. Kedua spesies ini diketahui memiliki sebaran habitat yang saling tumpang tindih dan sangat sulit dibedakan dengan pengamatan visual.
Alih-alih mengandalkan ciri fisik tubuh atau DNA, tim peneliti mengumpulkan jejak kaki satwa tersebut. Hewan diarahkan secara singkat melintasi media khusus yang mampu merekam jejak kaki dengan jelas, tanpa melukai atau menahan hewan dalam waktu lama. Setelah itu, satwa dilepaskan kembali ke habitatnya.
Jejak-jejak tersebut kemudian difoto dengan resolusi tinggi dan dianalisis menggunakan perangkat lunak yang mengukur berbagai parameter geometris, seperti jarak antar jari, sudut tapak kaki, serta luas dan bentuk keseluruhan jejak.
Perbedaan yang nyaris tak terlihat oleh mata manusia ternyata menghasilkan pola yang konsisten ketika dianalisis secara statistik. Dengan menggunakan model analisis diskriminan, para peneliti mampu mengidentifikasi spesies pembuat jejak hanya dari satu gambar jejak kaki.
“Hasilnya menunjukkan bahwa setiap spesies meninggalkan ‘sidik jari’ yang unik di tanah,” urai Nico Avenant, mamaliawan di National Museum Afrika Selatan dan salah satu penulis studi. “Bahkan pada hewan yang ukurannya sangat kecil.”

Dari gunung hingga laut, kami kirim langsung ke Anda. Join Saluran WhatsApp Lingkar Bumi sekarang.
Temuan Baru tentang Sebaran Spesies
Selain membuktikan efektivitas metode FIT, penelitian ini juga mengungkap temuan ekologis yang tidak terduga. Di salah satu kawasan konservasi, kedua spesies sengi ditemukan hidup berdekatan dengan jarak hanya sekitar 120 meter satu sama lain.
Jarak tersebut jauh lebih dekat dibandingkan asumsi sebelumnya mengenai wilayah jelajah masing-masing spesies. Hal ini menunjukkan bahwa peta sebaran satwa yang selama ini digunakan mungkin belum sepenuhnya akurat.
“Tanpa teknologi seperti ini, keberadaan dua spesies tersebut dalam satu lokasi kemungkinan besar tidak akan terdeteksi,” ujar Avenant. “Ini memberi kita gambaran baru tentang bagaimana spesies berbagi ruang dan beradaptasi.”
Mamalia kecil sering dianggap sebagai indikator awal perubahan lingkungan. Penurunan atau pergeseran populasinya dapat menjadi sinyal awal tekanan ekologis yang lebih luas, termasuk degradasi habitat dan perubahan iklim.
Para peneliti menyebut FIT sebagai teknologi yang relatif murah, mudah diterapkan, dan memiliki potensi besar untuk digunakan secara luas. Tidak seperti metode konvensional yang membutuhkan perangkap, peralatan laboratorium, dan tenaga ahli, FIT hanya memerlukan media jejak kaki dan kamera.
Hal ini membuka peluang bagi petugas taman nasional, peneliti lokal, hingga warga yang terlibat dalam program sains warga untuk ikut berkontribusi dalam pemantauan satwa liar.
“Teknologi ini memungkinkan lebih banyak orang ikut mengamati dan melindungi keanekaragaman hayati,” ungkap Sky Alibhai, salah satu penulis dan direktur organisasi konservasi WildTrack. “Semakin banyak data yang kita miliki, semakin cepat kita bisa merespons ancaman terhadap satwa.”
Bagaimana FIT Bekerja
Footprint Identification Technology bekerja dengan menggabungkan prinsip pelacakan tradisional dan analisis ilmiah modern. Prosesnya dimulai dari pengambilan jejak kaki satwa pada media yang dirancang untuk menghasilkan cetakan yang jelas. Jejak tersebut kemudian didokumentasikan secara visual dengan standar yang konsisten.
Gambar jejak kaki dianalisis menggunakan metode morfometrik untuk mengukur berbagai aspek geometris. Data ini kemudian diproses menggunakan model statistik yang telah dilatih dengan jejak-jejak dari spesies yang telah teridentifikasi sebelumnya.
Dalam studi ini, teknik analisis diskriminan linier digunakan untuk menentukan kombinasi variabel yang paling efektif membedakan satu spesies dari yang lain. Hasilnya menunjukkan bahwa pendekatan ini sangat akurat meskipun hanya menggunakan satu jejak kaki.
Ke depan, para peneliti berencana mengembangkan FIT dengan pendekatan pembelajaran mesin, sehingga identifikasi dapat dilakukan secara otomatis dan lebih cepat di lapangan. (Wage Erlangga)







