Views: 5
Aktivitas pendaratan penyu hijau (Chelonia mydas), salah satu spesies penyu laut yang dilindungi dan dikategorikan terancam punah, menunjukkan tren menurun di Pantai Sindangkerta, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Data penelitian ilmiah terbaru mengungkapkan penurunan jumlah individu penyu yang mendarat untuk bertelur serta berkurangnya jumlah telur yang dihasilkan selama periode pengamatan 2010 hingga 2017. Penurunan tersebut dikaitkan dengan perubahan kondisi lingkungan pesisir dan meningkatnya tekanan aktivitas manusia di sekitar kawasan pantai.
Penelitian berjudul Assessment of Green Turtle Nesting under Environmental Pressure at Sindangkerta Beach, West Java, Indonesia, Januari 2026 menganalisis data deret waktu pendaratan penyu dan produksi telur selama tujuh tahun. Hasil analisis menunjukkan bahwa jumlah penyu hijau yang mendarat setiap tahun berfluktuasi antara sekitar 13 hingga 44 individu. Sementara itu, jumlah telur yang dihasilkan berkisar antara 1.129 hingga 3.422 butir per tahun. Meski angka tersebut sempat menunjukkan variasi tahunan, tren di akhir periode pengamatan memperlihatkan penurunan yang konsisten baik pada jumlah pendaratan maupun produksi telur.
“Data kami menunjukkan bahwa penyu hijau yang datang untuk bertelur semakin sedikit, yang mencerminkan tantangan serius terhadap kelangsungan populasi lokal,” urai Mujiyanto, peneliti utama dalam studi tersebut dalam laporan.
Ia menegaskan bahwa penurunan ini bukan sekadar fluktuasi musiman, melainkan sinyal meningkatnya tekanan lingkungan terhadap habitat peneluran penyu hijau di kawasan tersebut.

Penyebab Penurunan
Para peneliti mengidentifikasi abrasi pantai sebagai faktor utama yang berkontribusi terhadap penurunan aktivitas pendaratan dan peneluran penyu hijau. Proses erosi garis pantai secara bertahap telah mengikis area pasir yang sebelumnya menjadi lokasi ideal bagi penyu untuk mendarat dan bertelur. Perubahan morfologi pantai tersebut menyebabkan berkurangnya ruang yang aman dan sesuai bagi penyu hijau untuk membuat sarang.
Kondisi ini diperparah oleh hilangnya vegetasi pantai. Vegetasi alami seperti pandan laut, terminalia, dan ipomoea yang berfungsi menjaga kestabilan pasir serta menciptakan lingkungan mikro bagi sarang penyu terus berkurang. Akibatnya, sarang penyu menjadi lebih rentan terhadap suhu ekstrem, genangan air, serta gangguan predator, yang pada akhirnya menurunkan tingkat keberhasilan penetasan telur.
Tekanan terhadap penyu hijau juga datang dari aktivitas manusia di sekitar kawasan pesisir. Peningkatan pencahayaan buatan di malam hari dan kebisingan dari lalu lintas kendaraan diketahui dapat mengganggu orientasi penyu saat naik ke pantai maupun ketika kembali ke laut. Penyu hijau merupakan satwa yang sangat sensitif terhadap cahaya dan suara, sehingga gangguan kecil sekalipun dapat membuat mereka gagal bertelur.
Selain itu, aktivitas nelayan dan gangguan predator alami seperti biawak turut mengancam telur-telur penyu yang diletakkan di pantai. Tanpa perlindungan yang memadai, sarang penyu menjadi sangat rentan terhadap kerusakan dan pemangsaan. “Penyu hijau pada dasarnya sensitif terhadap gangguan di pantai. Suara, cahaya, dan rusaknya pasir pantai bisa menyebabkan mereka mengurungkan niat untuk bertelur,” tambah Mujiyanto.

Pola Musiman Masih Bertahan
Meski tren tahunan menunjukkan penurunan, penelitian ini menemukan bahwa penyu hijau di Pantai Sindangkerta masih mempertahankan pola musiman yang relatif konsisten. Aktivitas bertelur cenderung meningkat pada dua periode utama dalam setahun, yaitu antara Februari hingga April dan kembali meningkat pada Oktober hingga November. Pola ini menunjukkan bahwa siklus reproduksi penyu hijau masih selaras dengan kondisi iklim dan musim di wilayah pesisir selatan Jawa, meskipun jumlah individunya terus berkurang.
Penyu hijau merupakan salah satu spesies yang dilindungi secara internasional dan nasional akibat tekanan perburuan di masa lalu, degradasi habitat, serta rendahnya tingkat keberhasilan penetasan telur di alam. Penurunan aktivitas pendaratan di lokasi penting seperti Pantai Sindangkerta dinilai dapat memperburuk kondisi populasi penyu hijau di masa depan jika tidak ditangani secara serius.
Saat ini, Suaka Margasatwa Sindangkerta masih menjadi salah satu lokasi penting konservasi penyu hijau di Jawa Barat. Upaya pelestarian dilakukan melalui patroli pantai selama musim pendaratan, pengamanan sarang, relokasi telur ke sarang semi-alami, serta pembesaran tukik sebelum dilepas kembali ke laut. Meski demikian, para ahli menilai upaya ini perlu dibarengi dengan perlindungan habitat pesisir secara lebih menyeluruh.
“Habitat penyu terus berubah akibat tekanan alam dan aktivitas manusia. Kita memerlukan pendekatan yang lebih holistik, yang tidak hanya fokus pada perlindungan sarang, tetapi juga pemulihan habitat pantai dan keterlibatan masyarakat setempat,” ujar Dr. Lestari Widya, ahli konservasi biota laut yang telah lama mengamati kondisi pesisir Jawa Barat.
Para peneliti menekankan bahwa pemantauan jangka panjang menjadi kunci untuk memahami dinamika populasi penyu hijau di Pantai Sindangkerta. Tanpa intervensi yang tepat, tren penurunan ini berpotensi berdampak pada kelangsungan generasi penyu di masa depan, terlebih dengan adanya ancaman tambahan dari perubahan iklim yang memicu kenaikan permukaan laut dan cuaca ekstrem.
Dengan data ilmiah yang semakin kuat, pemerhati lingkungan berharap adanya peningkatan komitmen dari masyarakat dan pembuat kebijakan untuk menjaga habitat pesisir secara berkelanjutan. Perlindungan penyu hijau tidak hanya menyangkut kelestarian satu spesies, tetapi juga mencerminkan upaya menjaga keseimbangan ekosistem laut yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat pesisir di Indonesia. (Sulung Prasetyo)





