Views: 11
Ada tempat di dunia yang diam-diam menyimpan sejarah alamnya bukan di buku catatan ilmiah, melainkan dalam bait-bait puisi, nyanyian kuno, dan kisah yang dituturkan dari generasi ke generasi. Savana tropis di Western Maharashtra, India, adalah salah satunya—hamparan tanah luas yang selama berabad-abad dianggap banyak orang sebagai “hutan yang hilang”, padang rumput yang rusak, atau sekadar ruang kosong menunggu ditanami pohon kembali. Namun penelitian terbaru membuktikan sesuatu yang berbeda: savana ini sebenarnya adalah lanskap alami yang telah hidup jauh sebelum era kolonial, bahkan sebelum beberapa karya sastra tertua di kawasan itu ditulis.
Judul penelitian itu sendiri, Utilizing traditional literature to triangulate the ecological history of a tropical savanna, seperti membuka jendela ke masa lalu yang tak pernah kita saksikan langsung. Penelitian ini dilakukan oleh Ashish N. Nerlekar dan Digvijay Patil, dan dipublikasikan di jurnal People and Nature pada November 2025. Premisnya radikal: deskripsi alam dalam sastra tradisional—dari hagiografi hingga lagu rakyat—dapat digunakan untuk memetakan sejarah ekologis savana tropis.
Nerlekar, seorang ahli tumbuhan, mengatakan, “Pesan yang saya ambil adalah betapa sedikitnya yang berubah.”
Ia kagum pada kesamaan antara catatan kuno dan vegetasi yang terlihat hari ini. Bayangkan seorang penggembala abad ke-15 yang bersajak tentang rerumputan yang menari di bawah matahari, atau kijang yang melintas padang rumput, atau pohon acacia yang berduri namun hidup subur di tanah yang gelap karena musim kemarau panjang. Dalam bait-bait ini ada lebih dari sekadar simbolisme, ada informasi nyata tentang jenis tanaman yang tumbuh di lingkungan itu.
Para peneliti menemukan 44 spesies tumbuhan liar yang disebut dalam sastra, dan mayoritas—27 di antaranya—adalah indikator khas savana, bukan hutan. Hanya sedikit yang menunjukkan ciri khas hutan, sementara sisanya adalah spesies generalis yang bisa hidup di berbagai tipe lanskap. Fakta ini menunjukkan bahwa savana tropis di India Barat bukan sekadar produk degradasi atau sisa hutan, melainkan lanskap alami yang telah terbentuk selama berabad-abad.

Dari gunung hingga laut, kami kirim langsung ke Anda. Join Saluran WhatsApp Lingkar Bumi sekarang.
Savana Bukan Sisa Hutan
Temuan ini menantang narasi dominan yang selama ini menghantui kebijakan konservasi dan persepsi publik, bahwa savana adalah hasil degradasi hutan akibat aktivitas manusia. Pandangan ini mendorong berbagai program penanaman pohon massal untuk ‘mengembalikan hutan’, namun kenyataannya hal ini justru bisa membahayakan ekosistem savana itu sendiri. Bukti dari teks tradisional, lukisan arsip, catatan pendapatan tanah kolonial, fosil flora dan fauna, serta filogeni molekuler semuanya mendukung kesimpulan bahwa savana ini telah ada jauh sebelum era kolonial Inggris.
Sebuah catatan dari karya Marathi abad ke-16 menggambarkan lembah Sungai Nira sebagai lanskap “kosong dan berduri” yang dipenuhi rumput, bukan bekas hutan yang diratakan. Legenda tentang seorang pujangga abad ke-15 menggambarkan pohon taraṭī, yang menyukai cahaya, tumbuh di tempat kudus yang kini menjadi situs ziarah. Pohon acacia berbunga putih yang disebut dalam teks kuno muncul berkali-kali, menunjukkan keberadaannya di landscape di masa lalu sebagaimana di masa kini. Dengan bukti ini, Nerlekar dan Patil menyimpulkan bahwa literatur tradisional bisa menjadi saksi hidup sejarah ekologis savana.
Penelitian ini bukan sekadar soal tumbuhan, ia juga tentang bagaimana manusia hidup berdampingan dengan alam selama berabad-abad. Orang-orang yang menulis atau melantunkan syair itu bukan ilmuwan botani, tapi mereka tahu rumput mana yang baik untuk ternak, pohon mana yang tahan kemarau panjang, dan musim apa yang tepat untuk mencari madu liar. Dalam hal ini, tradisi lisan dan tulisan lokal menjadi arsip biokultural—rekaman sejarah alam yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia.
“Keanekaragaman hayati savana juga bersifat sakral,” kata Nerlekar, mencatat hubungan yang erat antara budaya dan alam. Banyak komunitas lokal di India memandang savana bukan sebagai tanah rusak, melainkan tempat suci dan bagian dari identitas mereka.
Implikasi untuk Konservasi
Kenapa penting memahami savana sebagai lanskap tua, bukan produk degradasi? Karena cara kita menjaga alam bergantung pada pemahaman kita. Jika savana dianggap “lahan hutan yang hilang”, solusi yang muncul biasanya penanaman pohon massal—yang sering kali mengganggu flora dan fauna yang telah beradaptasi dengan ekosistem savana selama ratusan tahun. Savana tropis di India adalah rumah bagi berbagai spesies endemik yang unik, lebih dari 200 spesies tumbuhan yang hanya ditemukan di sana, kini terancam oleh ekspansi pertanian, pembangunan, dan perubahan iklim.
Mengakui lanskap ini sebagai sesuatu yang berharga berarti kita harus menata ulang cara berpikir tentang konservasi—dari fokus pada “menghijaukan setiap meter tanah” menjadi menjaga keanekaragaman hayati dan integritas ekologis yang telah ada selama berabad-abad.
Beberapa karya sastra yang digunakan Nerlekar dan Patil berasal dari abad ke-13, lebih dari tujuh abad lalu. Nama penulis asli mungkin hilang oleh waktu, tetapi puisi dan lagu mereka terus bergema di desa-desa, menjadi bukti kehidupan masa lalu. Nerlekar dan Patil menghabiskan berbulan-bulan mengumpulkan fragmen cerita ini, merekonstruksi lanskap dari ayat demi ayat. Proses ini ibarat arkeologi teks. Menyusun ulang gambaran sawah, padang rumput, dan pohon-pohon dari masa lampau untuk memahami apa yang tumbuh jauh sebelum peta modern digambar.

Kredit foto (a–c): Ashish Nerlekar.
Harmoni yang Rapuh
Hari ini, savana di Western Maharashtra masih mempertahankan banyak aspek yang sama seperti yang digambarkan dalam literatur kuno. Hamparan rumput terbentang luas, berayun anggun di bawah sinar matahari monsun, berubah menjadi warna emas saat musim kering tiba—simfoni warna yang tak kenal henti dari tahun ke tahun. Namun ancaman modern nyata adanya. Urbanisasi, konversi lahan pertanian, pembangunan, dan perubahan iklim mengancam integritas savana. Rumput mulai digantikan tanaman semusim atau pemukiman, dan pola api alami yang dulu menyuburkan tanah kini terganggu.
Tetapi savana tetap berdiri—bukan sebagai lanskap kosong, bukan sebagai hutan yang gagal, tetapi sebagai entitas ekologis yang berakar kuat dalam sejarah alam dan budaya. Rumput-rumputnya masih menari di bawah matahari, dan suara masa lalu masih terdengar dalam nyanyian angin yang melewati padang luas itu.
Savana bukan sekadar rumput; ia adalah arsip hidup, terekam di bait puisi dan lagu rakyat, di kaki orang yang menggembala ternak, dan di tanah itu sendiri yang telah menyimpan banyak musim. Ketika kita membaca sejarah alam melalui lensa budaya, kita menemukan bahwa alam dan manusia tidak pernah benar-benar terpisah—mereka tumbuh bersama, menceritakan kisah yang sama dari masa lalu hingga hari ini. (Sulung Prasetyo)







