20 Mei 2024
Fenomena ini yang kemudian menjadi bukti mengapa tampaknya kini dunia petualangan sepertinya juga mengalami kondisi menurun.

Views: 0

Teramat miris membaca analisis Muhammad Safrinal, Mahasiswa tingkat akhir jurusan Biologi Universitas Negeri Yogyakarta, dalam kolom buku di Kompas minggu ini. Dengan lugas ia coba menjabarkan kemungkinan berakhirnya ilmu pengetahuan, yang didapatnya setelah membaca buku bertajuk The End of Science karangan John Horgan. Ibarat kurva, ia menjelaskan makin menurunnya kadar penggalian ilmu pengetahuan saat ini. Semenjak penemuan Darwin yang spektakuler, serta analisa mengangumkan Einstein mengenai relativitas, praktis telah menjadi akhir dari penggalian ilmu pengetahuan secara progresif.

“Ilmu pengetahuan saat ini hanya menjadi catatan kaki,” sirat kesimpulan resensi buku ini. Mengingat gagalnya teori-teori lain memberontak terhadapnya.

Resensi ini juga sepertinya membenarkan adanya potensi penurunan atau akhir dari sebuah fenomena. “Seperti hidup ini juga,” ungkapnya. “Ada kelahiran, tumbuh, memudar dan kemudian berakhir.” Ilmu pengetahuan juga tampaknya serupa itu. Dalam bidang fisika, tampaknya sulit seorang ilmuwan sekarang menandingi relativitas Einstein. Di bidang Biologi, pemberontakan yang dilakukan Stephen Jay Gould melalui teori puctuated equilibrium. Dimana mahluk hidup bukanlah tumbuh dengan bertahap, melainkan teramat cepat. Tak membawa efek banyak pada para penggila evolusi. Karena diakui bahwa memang disitulah letak kebenaran sesungguhnya.

Entah nada ini terdengar pesimistis atau tidak. Pada kenyataanya memang kita akan menghadapi hal-hal serupa ini. Seperti juga nada satir yang diungkapkan Jim Morrison melalui tembang ‘The Ends’ nya. Jelas bahwa yang namanya manusia akan, mau tak mau, menghadapi sebuah keberakhiran.

Bukan cuma manusia, paham ini juga kemudian diadopsi pada hasil-hasil karya ciptaannya. Seperti ilmu pengetahuan dan banyak lagi hal lainnya. Termasuk juga kemungkinan berakhirnya satu kawasan permainan mengenai petualangan.

Ini bukan berarti tak kuat tanpa bukti-bukti. Fenomena kurva tertinggi yang ditunjukan dalam dunia ilmu pengetahuan, melalui kelahiran evolusi dan relativitas, bisa disamakan dengan pencapaian tertinggi kalangan manusia di dunia petualangan. Dimana pencapaian Hillary dan Tenzing di puncak Everest, rasanya bisa menjadi ikonnya. Secara tak sengaja kita di Indonesia juga telah memahfumi hal tersebut. Pencapaian kedua orang tersebut merupakan puncak dari kelahiran dunia petualangan. Hasrat seseorang untuk berpetualang sepertinya memancar saat membicarakannya. Hingga kemudian meredup ketika seseorang lain dalam satu nasion telah melewatinya.

Di dunia petualangan mungkin hal tersebut juga tergambar jelas. Pencapaian Hillary dan Tenzing merupakan titik akhir petualangan seseorang. Belum ada mungkin yang bisa menandinginya hingga saat ini. Bahkan Costeau dalam konteks pencarian kemampuan titik terdalam manusia di bawah laut. Atau kemampuan Fosset mengelilingi bumi dengan balon. Karena serupa juga dengan pemberontakan yang dilakukan Gould diatas, semua dari kita yang menyebut diri kaum petualang juga setuju karena disitulah letak kebenaran sesungguhnya.

Catatan Kaki

Otomatis, kini notabene petualangan yang dilakukan manusia hanyalah merupakan catatan kaki. Aksi Messner dalam menggapai 14 puncak tertinggi kemudian juga hanya tenggelam dalam fanatisme semata. Aksi-aksi Richard Bang dalam situs adventure.yahoo.com, juga semakin menguatkan hal tersebut. Mengulang jejak bajak laut, melihat kehidupan gorrilla, atau lain-lainnya betul seperti jejak catatan kaki. Tambahan dari eksklusifitas pencapaian puncak petualangan Hillary dan Tenzing ke puncak dunia.

Apa yang dilakukan banyak orang kini dalam mengubah rel petualangan, makin saja menambah kekuatan pandangan akan berakhirnya dunia petualangan. Upaya-upaya kita untuk mencapai sebuah tempat, kebanyakan terselimuti oleh fenomena penelitian. Aksi menolong sesama manusia, ataupun mengulang jejak-jejak serupa.

Fenomena ini yang kemudian menjadi bukti mengapa tampaknya kini dunia petualangan sepertinya juga mengalami kondisi menurun. Dunia petualangan kini sudah berada disisi kurva yang makin miring menurun. Hingga akhirnya kemudian kita sadari, bahwa dunia petualangan telah mencapai akhir masanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *