20 Mei 2024
Sebuah buku yang lurus sebagai manusia. Tak sebersahaja Gie atau Lulofs memang. Namun paling tidak, buku ini menjadi angin segar bagi genre tulisan perjalanan di tanah air.

Views: 0

Dahulu Soe Hok Gie pernah mempesonakan dengan tulisan perjalanan bertajuk “Menaklukan Gunung Slamet”. Dalam tulisan tersebut dengan gamblang, pria yang meninggal di usia muda itu menjabarkan seluk beluk perjalanan mereka ke gunung tertinggi di Jawa Tengah tersebut.

Pada awal tulisannya Gie menjabarkan latar belakang perjalanan pendakian. Dengan gaya normatif kaku dan ideal, akhirnya Gie itu menemukan apa sebenarnya konsep mereka hingga nekat mendaki gunung berkepala botak itu. “Mencintai secara sehat tak akan mungkin dapat dicapai bila kita tak mengenalnya. Mendaki gunung membuat kami lebih mengenal masyarakat Indonesia dari dekat,” paparnya.

Ungkapan kalimat-kalimat itu yang kemudian masih menggayuti kepala, bila kita bertandang kembali ke gunung-gunung. Karena dengan kalimat-kalimat itu para pendaki gunung seperti memasuki fase berikutnya dari era gagah-gagahan mendaki. Menuju era baru yang lebih bermanfaat. Untuk mengenal masyarakat Indonesia dari dekat. Mendalami dan mengerti masalah-masalahnya. Hingga nanti saat para pemuda itu menjadi para pemegang keputusan, simpanan-simpanan memori itu yang akan menjadi pegangan.

Itu sekelumit hasil dari sebuah tulisan perjalanan. Mengejewantahkan konsep, menjabarkannya hingga menjadi prinsip yang dibutuhkan manusia dalam menjani hidup. Gie baru satu contoh. Bagaimana bila kita membaca tulisan Madelon Lulofs dalam novel “Coolie”. Dari pengembaraan wanita Belanda itu ke negeri Sumatera, ia harus menghadapi kenyataan pahitnya hidup bersama para kuli di perkebunan-perkebunan karet negeri Andalas. Kejahatan kolonialisme jelas memaksa Lulofs membuat novel tersebut. Menjabarkan bagaimana sifat kuli, yang cenderung nrimo dan skenario tak terbuka kaum kolonial, membuat Lulofs merasakan ketidak adilan di dalamnya. Menurut Lulofs para kuli itu juga seharusnya mendapatkan hak yang sama sebagai manusia. Bukannya diperlakukan sebagai boneka peras, yang menyenangkan hati kolonialis saja. Mereka juga butuh pintar, perbaikan masa depan, dan hak untuk memilih. Bukan seperti yang sering ia perhatikan saat ia membuat buku tersebut. Dimana para kuli menjadi sapi perah keuntungan para juragan kolonial. Hanya dianggap aset produksi, tidak diperkenankan memiliki istri dan jahatnya tidak memiliki kesempatan untuk maju.

Lulofs seperti menjadi tahap berikutnya hasil dari tulisan perjalanan. Sebuah paradigma baru tercipta dari tulisan-tulisan tersebut. Memaksa orang berubah diri, dan bersama menuju sebuah harapan lebih baik.

Pada buku yang di tulis oleh Dadang Sukandar dalam tajuk “Berburu Nyali di Tebing Emas” ini, sempat ada harapan seperti itu. Seperti Gie, Dadang juga mencoba menjabarkan apa yang ditemuinya, dalam perjalanan-perjalanan mendaki gunung dan memanjat tebing. Meskipun akhirnya mungkin tak semua dari kita akan merasakannya. Karena apa yang ditulis Dadang terasa lebih renyah.

Idealisme yang sempat terasa, kemudian blur dalam aroma metropolitan. Tak ada yang bisa disalahkan, karena seperti itulah kebanyakan anak muda kita sekarang. Minim keseriusan dan menganggap segala hal tak pernah lepas dari humor.

Penggalan-penggalan artikel di buku ini juga memuat nilai tersebut. Sepertinya pengarang mencoba membawa kita ke arah rasa aman. Memaksa kemudian pada paradigma kegiatan-kegiatan menantang seperti ini hanyalah soal kebiasaan dan bukan hal luar biasa. Ini terlihat jelas di beberapa artikelnya di judul Leyeh-leyeh di Gunung Gede, Panjat Tebing Emas dan lainnya.

Asyiknya buku ini memiliki tulisan tambahan kecil di dalamnya. Yang ditaruh dalam boks –boks tersendiri. Tampaknya justru boks itu yang akan menjadi kekuatan buku ini. Karena kita akan menemukan seorang jati diri petualang didalamnya. Apa adanya. Penuh romantika dan kadang penuh juga dengan cerita-cerita lucu.

Bagaimana tidak, seperti dalam tulisan “Sorry Mulut Asem Nih” tergambar jelas bagaimana persahabatan di alam bebas bukanlah sesuatu hal tabu. Atau “Meratapi Bumi Pasundan” kembali membuat kita terperangah pada kehancuran. Atau “Lupa Ngiket Spanduk” mengingatkan kita pada kebodohan-kebodohan yang kadang kita lakukan secara manusiawi.

Itulah buku ini. Sebuah buku yang lurus sebagai manusia. Tak sebersahaja Gie atau Lulofs memang. Namun paling tidak, buku ini menjadi angin segar bagi genre tulisan perjalanan di tanah air. Dimana para pengarang kini lebih banyak melupakan dasar realis dalam berkata-kata. Namun kini lebih berkutat pada kata-kata berbunga, yang kadang tak banyak dipahami maknanya. Padahal seberapa banyak tulisan metafora bisa berdampak langsung pada perubahan. Sementara tulisan realis seperti Lulofs, Gie, Max Havelar lebih terbukti membawa bangsa ini menuju pemikiran yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *