14 Juli 2024
kayak laut teluk jakarta
Matahari yang kami kejar tadi pagi seperti menghilang begitu saja. Meruap ke angkasa, bersama dengan panas yang setia menemani.

Views: 132

Rasanya sulit sekali meyakinkan diri untuk memulai. Debur ombak yang masih terasa asing ditelinga, lengkap dengan angin tanpa henti. Seperti membuat jiwa menolak untuk kembali mulai mengenalinya. Padahal ada beberapa yang lain seperti sangat menikmatinya. Bermain diatas alunan ombak, dengan menggunakan kayak laut.

Sampai terus berbagai kesempatan itu hadir di mata dan telinga. Berulang kali, dan memantapkan hati di awal bulan Mei 2023 untuk meraihnya. Kali ini hati mulai menetap, percobaan untuk kembali berada diatas laut harus bisa dilakukan.

Di Archipelago Kayaking Club Indonesia, ketetapan hati itu sepertinya bisa dilakukan. Klub yang mulai ada sejak 2018 itu, menawarkan dua jenis perjalanan regular yang bisa dilakukan. Pertama mencoba menyusuri lautan menuju wilayah Ancol di pagi hari. Kedua menikmati matahari tenggelam hingga ke tengah lautan.

Keduanya memiliki teknik yang sama, menikmati lautan dengan menggunakan wahana kayak laut. Bedanya adalah di karakter lautnya, yang satu akan membuat laut terasa lebih bersahabat, karena pagi hari biasanya tak banyak ombak tinggi tercipta. Sementara yang satu lagi, saat sore hari, tantangan petualangan akan lebih terasa, karena ombak besar membuat perahu kayak seperti mainan saja.

Perahu pipih, yang membuat penumpang seperti berada tertelan didalamnya. Tersisa hanya setengah badan, dari perut ke atas yang terlihat pandangan mata. Sisanya, bagian bawah perut dan kaki, dalam posisi duduk dengan tungkai seperti menyelonjor dibagian dalam perahu.

Permukaan laut yang lebih tenang membuat berkayak lebih terasa bersahabat di pagi hari. (photo; Fikri Mufti)

Mengejar Matahari Pagi

Mengayuh dayung dipagi hari, tak terlalu sulit sebenarnya. Permukaan laut cenderung rata, rasanya seperti mendayung di atas permukaan danau luas saja. Namun, saat pagi menjadi saat yang tepat untuk memulai mengenali kayak laut. Sebab badan bisa cepat beradaptasi dengan keseimbangan, dan cara mengayuh dilautan.

Tidak perlu waktu lama, sampai akhirnya titik start di lokasi Indonesia National Sailing Club (INSC) mulai hilang dari pandangan mata. Arah kayak terus menuju ke timur, sementara dibagian selatan pesisir teluk Jakarta terus menemani. Mulai dari deretan perumahan mewah pinggir laut, kanal-kanal, hingga akhirnya batas keluar pelabuhan Marina Ancol, dan Jakarta International Stadion (JIS) terlihat dikejauhan.

Kami mendaratkan kayak di pasir putih pantai reklamasi yang menjadi batas Taman Impian Jaya Ancol (TIJA) dengan lautan. Panas mulai terasa menyengat, tapi segera hilang dibalik keteduhan beberapa pohon tak berapa besar yang mulai tumbuh disana. Didepan mata sekarang terbentang lautan luas utara Jakarta. Dengan pasir putih diatasnya, merupakan sebuah kemewahan sebenarnya, disepanjang pesisir teluk Jakarta yang notabene berwarna kelam.

Matahari yang kami kejar tadi pagi seperti menghilang begitu saja. Meruap ke angkasa, bersama dengan panas yang setia menemani. Tak banyak hiburan yang ada, saat kembali ke titik start untuk menyelesaikan pengejaran matahari ini. Selain fisik yang makin terkuras, dan gelombang ombak yang makin lama makin terasa membuat kayak bergoyang.

Namun setidaknya rasa ini membuat hati kembali bergolak, untuk mencari sesuatu yang lebih daripada pagi hari ini. Tak lain merupakan mencicip rasa mengejar matahari pada sore hari, dilokasi yang sama, dengan tantangan yang berbeda.

Berkayak sore hari di Teluk Jakarta bisa menuju ke pelabuhan Sunda Kelapa yang penuh dengan kapal tradisional yang berlabuh. (Photo: Emil/Archipelago Kayaking Indonesia)

Mengejar Matahari Sore

Berada diatas kayak laut pada sore hari, rasaya seperti gelembung busa atau gabus, yang mudah diombang-ambing ombak. Angin yang makin kencang berhembus, menjadikan air laut bergelombang. Kayak jadi seperti naik turun dibawa gelombang. Repotnya kalau tak seimbang, bisa saja kayak terbalik.

Namun, bermain kayak di sore hari buat beberapa orang mengandung nilai romantis. Mungkin karena suasana sore yang temaram dan angin yang menyegarkan. Bisa juga dianggap romantis karena menumbuhkan semangat kerjasama mendalam. Mengingat bisa saja kayak yang terlalu liar untuk ditunggangi.

Kalau start dari INSC, berperahu kayak di sore hari bisa menuju ke tengah lautan atau bisa juga kearah barat, dimana matahari terbenam. Kalau ke tengah lautan sebenarnya tak ada yang bisa dijadikan tujuan, selain menikmati matahari yang tenggelam di kejauhan, sambil diombang-ambing ombak.  

Tapi kalau ke arah barat, bisa saja menikmati perjalanan sampai ke gerbang pelabuhan tradisional Sunda Kelapa. Patokannya dua menara besar dipintu masuk, salah satu menara berwarna merah mencolok, sangat terlihat jelas dari tengah laut.

Kalau iseng bisa saja terus masuk ke kanal Sunda Kelapa. Disana bisa melihat deretan kapal kayu tradisional berukuran besar bersandar. Kabarnya kapal-kapal itu datang dari Kalimantan dan Sulawesi. Muatannya bisa macam-macam, kalau pergi ke Sulawesi membawa berbagai kebutuhan rumah tangga dan penumpang. Sementara kalau datang dari Kalimantan, bisa saja memuat kayu yang dibutuhkan untuk berbagai hal.

Repotnya kalau kembali dari Sunda Kelapa ke laut akan terasa berat mengayuh, karena arus dan ombak yang menghadang. Hanya dengan ketenangan dan kesabaran, semua halangan itu bisa dilewati. Namun perlu diingat, bisa saja ombak datang terlalu besar pada musim tertentu. Sampai-sampai mungkin membuat kepayahan sekali atau sama sekali tak bisa melewatinya. Untuk menghindari hal tersebut, harus sering update informasi dari nelayan, dan aplikasi ramalan angin dan gelombang, untuk memprediksinya.

Secara keseluruhan bermain kayak di pagi dan sore hari di Teluk Jakarta pada akhirnya menumbuhkan rasa tersendiri. Bisa jadi pengalaman tak terlupakan, karena memiiki karakter petualangan alam bebas yang berbeda dari yang lain. Enaknya lagi, untuk menikmati itu semua tak perlu repot-repot menempuh perjalanan jauh, seperti ke gunung, goa atau sungai. Masih berada di wilayah Jakarta juga, yang sekarang lebih mudah dicapai karena sistem transportasi yang makin baik. Jadi proyek mengejar matahari teluk Jakarta, menjadi hal yang bukan mustahil dilakukan. (Sulung Prasetyo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *