16 Juli 2024
kotoran gajah jadi kertas
Kualitas kotoran gajah yang bagus adalah yang masih segar, sedangkan yang sudah didiamkan beberapa hari akan menghasilkan kertas dengan warna berbeda menjadi kecoklatan.

Views: 1587

Seperti sulap, kotoran gajah ternyata bisa disulap menjadi kertas daur ulang. Bukan basa-basi upaya itu dilakukan Taman Safari Indonesia (TSI) dan Bali Safari and Marine Park (BSMP) untuk mencari alternatif pengelolaan limbah, serta turut memberi solusi pengurangan degradasi hutan.

Bisa dibayangkan berapa jumlah kotoran yang keluar dari perut gajah tiap hari? Gajah Sumatera atau Elephas maximus sumatranus merupakan mamalia darat terbesar yang masih bertahan di bumi. Satwa ini dapat memakan berbagai tanaman pakan sekitar 200 kilogram (kg) hingga 270 kg per hari, dan mengeluarkan kotoran lebih dari 20 kg per hari.

Jadi kalau seperti di TSI yang memiliki 51 ekor gajah peliharaan, maka bisa menghasilkan kotoran sekitar 1,020 kg setiap hari. Maka berat kotoran itu sama dengan dua beruang grizzly dewasa, atau empat beruang kutub dewasa, atau dua ekor babi domestik seberat 500 kg. Tapi mau dikemanakan kotoran itu? Dibuang begitu saja, jelas menjadi masalah besar bagi masyarakat sekitar. Menjadi kompos tumbuhan bisa saja, tapi pasti masih tersisa banyak, kalau jumlahnya sampai segitu.

Kertas Daur Ulang

Untung pihak TSI menemukan solusi untuk masalah itu. Dan jawaban permasalahan itu ternyata juga punya efek samping besar untuk pelestarian lingkungan. Ya, kotoran gajah tersebut diolah menjadi kertas daur ulang. Jadi bisa jadi alternatif untuk pemakaian kertas yang tak melulu menggunakan dari pohon dari hutan alam.

“Kotoran gajah sumatera memiliki karakteristik tinggi serat pakan karena pencernaan gajah tersebut hanya mampu menyerap 40 persen nutrisi dari pakan yang dicerna, dan selebihnya akan dibuang menjadi kotoran sehingga bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku kertas ramah lingkungan,” ujar Pengelola Poo Paper Taman Safari Bogor, Taufik Rachman.

Jadilah TSI mulai memproduksi kertas daur ulang tersebut dari tahun 2012. Setiap hari kotoran gajah itu dikumpulkan dan dibawa ke lokasi pengolahan. “Kualitas kotoran gajah yang bagus adalah yang masih segar, sedangkan yang sudah didiamkan beberapa hari akan menghasilkan kertas dengan warna berbeda menjadi kecoklatan”, tambah Taufik lagi.

Dalam sehari, produksinya bisa mencapai 210 lembar kertas berukuran 40 x 50 sentimeter yang dibentuk menjadi buku atau souvenir lainnya. Kertas berukuran 40 x 50 sentimeter itu kemudian dijual dengan harga Rp15 ribu per tiga lembar dan Rp45 ribu per buku.

Pengunjung mencoba membuat kertas daur ulang dari kotoran gajah di Bali Safari and Marine Park (BSMP). (dok. Bali Safari and Marine Park)

Bali Juga Produksi

Tak hanya di Taman Safari Bogor, pengolahan kotoran gajah menjadi kertas daur ulang juga dilakukan di Bali Safari and Marine Park (BSMP). Menurut I Made Widi Artawan, pengelola Poo Paper di BSMP, pihaknya ingin membuat kertas dengan tekstur agak sedikit berserat. Pembuatan kertas dari kotoran gajah dimulai sejak 5 November 2011. Ide ini muncul karena selain ramah lingkungan, kotoran gajah yang berserakan di kandang tidak hanya menjadi limbah.

“Kertas-kertas itu nantinya bisa digunakan untuk menulis dan menggambar karena hasilnya agak tebal. Selain dijadikan suvenir, kertas yang terbuat dari kotoran gajah tersebut juga menjadi bahan dasar pembuatan map untuk digunakan karyawan Bali Safari and Marine Park”, urai I Made Widi Artawan menjelaskan.

Menurut penjelasanya lagi proses pembuatan kertas setelah pengumpulan, kemudian dicuci bersih, dan setelah itu direbus. Kemudian dijemur hingga kering. Proses penjemuran ini memakan menghabiskan waktu 3 – 4 hari, sampai ampas dari kotoran gajah yang direbus mudah untuk digiling. (Sulung Prasetyo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *