Views: 5
Setiap golongan angka memiliki cerita, tetapi di balik deretan statistik global tentang kelaparan, ada jutaan manusia yang tak pernah terlihat. Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal Nature Food, 12 Desember 2025 mengungkap bahwa sistem global untuk menghitung jumlah orang yang mengalami kelaparan akut — ketika kekurangan makanan mengancam kesehatan, keselamatan, dan kehidupan — sering meremehkan skala krisisnya. Dengan kata lain, sekitar satu dari lima orang yang kelaparan tidak pernah masuk dalam laporan resmi dunia.
Penelitian ini dilakukan oleh tim ilmuwan internasional, termasuk Erin Lentz dari Lyndon B. Johnson School of Public Affairs di University of Texas dan rekan-rekannya Kathy Baylis, Hope Michelson, dan Chungmann Kim. Mereka menilai lebih dari 10.000 analisis sub-nasional dari Integrated Food Security Phase Classification (IPC) antara 2017 dan 2023 — sebuah sistem yang menjadi standar global untuk menilai ketidakamanan pangan.
Ketika Data “Terlalu Aman”
IPC dirancang untuk memberikan gambaran tentang siapa yang membutuhkan bantuan paling mendesak, membantu pemerintah, PBB, dan lembaga kemanusiaan memutuskan alokasi dana bantuan sekitar US$6 miliar per tahun. Analisis tim Lentz dan kolega menunjukkan bahwa IPC cenderung konservatif dalam menilai siapa yang mengalami krisis makanan.
Menurut data mereka, IPC mengklasifikasikan bahwa sekitar 226,9 juta orang berada dalam fase krisis atau lebih parah — fase 3 atau lebih tinggi, yang menandakan kebutuhan bantuan segera. Namun ketika indikator makanan yang mendasarinya dianalisis ulang, angka yang seharusnya diklasifikasikan dalam kategori ini mungkin mencapai sekitar 293,1 juta — sekitar 29% lebih banyak daripada yang dilaporkan secara resmi. Itu berarti sekitar 66 juta orang yang mengalami kelaparan akut tidak tercatat dalam data resmi.
“Temuan kami menunjukkan bahwa angka resmi bisa terlalu rendah,” kata Erin Lentz, peneliti utama studi dan pakar kebijakan pangan global. “Itu berarti ada jutaan manusia yang terlewat dari radar bantuan kemanusiaan saat mereka benar-benar membutuhkan dukungan.”
Mengapa Banyak Orang Terlewat?
Analisis Lentz menunjukkan bias sistematis dalam bagaimana IPC menetapkan batas antara kondisi “tertekan” dan “krisis.” Ketika tim teknis yang melakukan penilaian menghadapi data yang tidak pasti atau bervariasi, mereka cenderung memilih klasifikasi yang lebih rendah — mungkin karena kekhawatiran akan dampak politis, kekurangan data yang kuat, atau tekanan institusional yang tidak terlihat.
Pengelompokan indikator yang digunakan IPC — seperti Food Consumption Score maupun Household Hunger Scale — sering kali memberi gambaran beragam tentang kondisi nyata di lapangan. Dalam konteks di mana data kurang lengkap, para analis mungkin cenderung menghindari kategori tertinggi yang akan langsung memicu respons darurat, sehingga fenomena kelaparan akut bisa “tersembunyi” di balik angka yang lebih rendah.
Sementara itu, penilaian konservatif ini kian diperparah oleh fakta bahwa IPC bekerja di lingkungan yang penuh tantangan: daerah konflik, daerah dengan data yang jarang, dan komunitas yang terus berubah kondisinya. “Mengukur kelaparan bukan tugas mudah,” ujar Lentz. “Namun ketika sistem yang seharusnya memberi tahu kita tentang krisis justru terlalu hati-hati, korban nyata dari kekurangan pangan itu sendiri yang paling menderita.”
Krisis Global yang Lebih Besar dari Laporan
Angka yang tidak akurat bukan hanya soal statistik di atas kertas — itu berdampak langsung pada hidup jutaan orang. Di 2023 sendiri, data resmi menyebut sekitar 282 juta orang di seluruh dunia mengalami kelaparan akut yang membahayakan hidup mereka. Dalam situasi seperti itu, pengalokasian bantuan sering kali bergantung pada klasifikasi IPC untuk menentukan siapa yang paling “layak” menerima dukungan.
Data yang meremehkan jumlah yang membutuhkan dapat menghasilkan respons bantuan yang tidak memadai, menimbulkan risiko kesehatan yang lebih besar, kematian, dan keruntuhan mata pencaharian bagi mereka yang tidak pernah tercatat dalam sistem resmi. Organisasi kemanusiaan sering kali sudah berjuang untuk memenuhi kebutuhan berdasarkan angka yang ada — jika angka itu terlalu rendah, dunia bisa gagal merespons krisis yang sedang berlangsung.
Temuan dari jurnal Nature Food juga sejalan dengan laporan internasional lain yang menunjukkan tren kelaparan dunia yang memburuk, didorong oleh konflik, perubahan iklim, dan guncangan ekonomi. Sementara laporan resmi PBB mencatat lonjakan jumlah orang dengan ketidakamanan pangan akut di banyak negara, keterbatasan data yang tepat dan perbedaan metodologis terus menyulitkan perhitungan yang akurat.
Sistem IPC tetap menjadi alat penting dalam respons kemanusiaan internasional — tetapi penelitian seperti yang dilakukan Lentz dan rekan-rekannya menegaskan bahwa kita tidak boleh menerima angka yang ada begitu saja. Ketika orang yang paling rentan jatuh di luar radar data global, mereka juga terpinggirkan dari perhatian dunia dan dukungan yang sangat dibutuhkan.
Awal Perubahan
Para peneliti tidak menyerukan agar IPC ditinggalkan. Sebaliknya, mereka menekankan kebutuhan akan data lebih baik, lebih transparan, dan pemahaman yang lebih dalam terhadap proses di balik angka yang digunakan untuk mengukur kelaparan. Partisipasi masyarakat lokal, metode pengumpulan data yang lebih kuat, dan pengakuan atas ketidakpastian dalam penilaian bisa membantu memberikan gambaran yang lebih akurat.
“Kita perlu memastikan bahwa setiap orang yang mengalami kelaparan benar-benar terhitung,” kata Lentz. “Karena setiap angka yang hilang bukan sekadar statistik — itu adalah jiwa yang tak mendapatkan bantuan yang mereka perlukan.”
Analisis terbaru menunjukkan bahwa ketidakamanan pangan global lebih besar dari yang diklaim laporan internasional. Ketika sekitar 20% orang yang kelaparan tidak masuk dalam statistik resmi, dunia menghadapi tantangan serius dalam memahami dan merespons krisis yang terus berkembang ini. (Wage Erlangga)





