Views: 12
Selama hampir 700 tahun, sebuah lokasi bernama Bergstrom di Montana bagian tengah menjadi tempat berburu dan mengolah bison bagi masyarakat pemburu di Great Plains Amerika Utara. Situs ini digunakan berulang kali dalam rentang waktu panjang, menunjukkan bahwa ia bukan sekadar titik persinggahan, melainkan bagian penting dari sistem subsistensi mereka. Namun sekitar 1.100 tahun lalu, lokasi tersebut ditinggalkan dan tidak pernah digunakan kembali. Yang menarik, keputusan itu bukan karena bison menghilang atau ekosistem runtuh. Hewan buruan tetap tersedia dan vegetasi relatif stabil. Lalu apa yang berubah?
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Conservation Science, 10 Februari 2026 menunjukkan bahwa faktor kunci kemungkinan adalah kekeringan berulang dalam skala dekade yang memengaruhi ketersediaan air di sekitar lokasi tersebut. Situs Bergstrom terletak dekat anak sungai kecil yang selama ratusan tahun mendukung aktivitas pemrosesan bison. Air di sana bukan sekadar kebutuhan minum, melainkan elemen vital untuk membersihkan, menguliti, dan mengolah hewan besar dalam jumlah signifikan. Ketika pola kekeringan berkepanjangan membuat aliran air menjadi tidak stabil, fungsi praktis lokasi itu pun melemah.
“Kami menemukan bahwa para pemburu berhenti menggunakan situs ini sekitar 1.100 tahun yang lalu,” kata Dr. John Wendt, paleoekolog dari New Mexico State University dan penulis utama studi tersebut. Ia menjelaskan bahwa kekeringan parah yang terjadi berulang kali kemungkinan mengurangi ketersediaan air di sungai kecil dekat lokasi, yang penting untuk memproses hewan buruan. “Pengabaian ini tampaknya merupakan respons terhadap tekanan lingkungan serta perubahan sosial dan ekonomi,” ujarnya.

Dari gunung hingga laut, kami kirim langsung ke Anda. Join Saluran WhatsApp Lingkar Bumi sekarang.
Bukan Karena Bison Menghilang
Tim peneliti tidak hanya mengandalkan artefak arkeologi. Mereka menggunakan penanggalan radiokarbon, analisis serbuk sari dan arang untuk merekonstruksi kondisi vegetasi dan kebakaran masa lalu, serta data paleoklimat untuk memahami pola kekeringan regional selama ribuan tahun terakhir. Hasilnya menunjukkan bahwa populasi bison tetap ada di kawasan tersebut dan tidak ada perubahan vegetasi besar yang dapat menjelaskan penghentian penggunaan situs. Dengan kata lain, pengabaian Bergstrom bukan akibat kelangkaan mangsa atau degradasi ekosistem secara drastis.
Temuan ini menantang asumsi sederhana bahwa komunitas pemburu selalu berpindah semata-mata mengikuti pergerakan hewan. Dalam kasus ini, faktor logistik dan stabilitas sumber daya justru lebih menentukan dibandingkan keberadaan mangsa itu sendiri.
Penelitian juga menunjukkan adanya perubahan dalam organisasi berburu pada periode tersebut. Praktik berburu di Great Plains mulai bergeser dari kelompok kecil yang relatif mobile menjadi operasi komunal yang lebih besar dan terkoordinasi. Sistem berburu massal memungkinkan pembantaian dalam jumlah besar serta produksi surplus untuk cadangan musim dingin dan kemungkinan pertukaran antar-kelompok. Namun model yang lebih besar dan kompleks ini membawa konsekuensi berupa kebutuhan sumber daya yang lebih stabil, terutama air dan bahan bakar untuk pengolahan.
“Operasi yang lebih besar ini menghasilkan surplus untuk perdagangan dan penyimpanan musim dingin,” jelas Wendt. “Tetapi juga berarti ketergantungan yang lebih besar pada sumber daya tertentu seperti air, pakan, dan bahan bakar untuk api pengolahan.”
Dalam konteks tersebut, situs seperti Bergstrom—yang secara hidrologi tergolong marginal—menjadi kurang ideal. Kekeringan berulang membuat aliran sungai kecil di dekatnya tidak lagi cukup dapat diandalkan untuk mendukung skala operasi yang makin besar.

Tidak Pernah Kembali
Salah satu temuan penting adalah bahwa situs tersebut tidak pernah digunakan kembali, bahkan setelah kondisi iklim membaik. Ini menunjukkan bahwa keputusan meninggalkan Bergstrom bukan sekadar respons sementara terhadap satu episode kekeringan, melainkan bagian dari reorganisasi sosial yang lebih luas. Begitu sistem berburu komunal berskala besar menjadi norma dan lokasi lain yang lebih stabil dipilih, situs lama kehilangan relevansinya secara permanen.
Studi ini memperlihatkan bahwa adaptasi manusia terhadap perubahan lingkungan tidak selalu berbentuk migrasi besar-besaran atau keruntuhan dramatis. Kadang yang berubah adalah cara manusia mengatur sistem produksi dan organisasinya. Kekeringan tidak langsung memusnahkan bison, tetapi ia menggeser keseimbangan antara kebutuhan sosial dan kapasitas lingkungan. Ketika kebutuhan meningkat sementara daya dukung lokal menjadi kurang stabil, lokasi yang selama ratusan tahun memadai bisa tiba-tiba terasa tidak lagi cocok.
Kisah Bergstrom menunjukkan bahwa perubahan iklim dapat memicu penyesuaian struktural dalam masyarakat, bukan hanya perubahan perilaku sesaat. Para pemburu itu merespons ketidakpastian dengan mengubah pilihan lokasi dan kemungkinan juga pola kerja sama mereka. Fleksibilitas inilah yang memungkinkan sistem mereka bertahan dalam jangka panjang.
Dalam konteks modern, temuan ini memberi perspektif bahwa tantangan perubahan iklim bukan semata soal ada atau tidaknya sumber daya, melainkan soal kesesuaian antara sistem sosial yang dibangun dan kapasitas lingkungan yang menopangnya. Seperti 1.100 tahun lalu di Montana, perubahan besar bisa dipicu oleh detail yang tampak kecil—dalam hal ini, aliran air dari sebuah sungai kecil. (Sulung Prasetyo)







