hiking in japan mountain

Tiap Tahun Ribuan Orang Tersesat Saat Mendaki Gunung di Jepang

Views: 9

Di pegunungan Jepang yang tampak tertata dan terpetakan dengan baik, ribuan orang setiap tahun menghadapi satu risiko yang sering diremehkan, tersesat.

Data Februari 2026 yang dikeluarkan International Climbing and Mountaineering Federation (UIAA) menyatakan bahwa jumlah kecelakaan gunung di Jepang telah melonjak lebih dari tiga kali lipat sejak pertengahan 1990-an. Dari kurang dari seribu kasus pada 1994, angka itu kini menembus lebih dari 3.300 kasus per tahun. Yang paling mencolok, sebagian besar kecelakaan tersebut bukan disebabkan oleh jatuh, kelelahan, atau penyakit, melainkan karena satu hal sederhana, kehilangan arah.

Fenomena ini bukan sekadar soal salah jalan. Bagi banyak pendaki, tersesat bisa berarti berhari-hari tanpa makanan, mengalami halusinasi, hingga mendekati kematian.

Bahaya yang Diremehkan

Dalam imajinasi banyak orang, tersesat di gunung mungkin terasa seperti tersesat di kota—membingungkan, tetapi tidak mematikan. Kenyataannya jauh berbeda.

Wawancara dengan puluhan korban menunjukkan bahwa hanya dalam satu hingga dua jam setelah kehilangan arah, seseorang bisa mulai mengalami gangguan psikologis. Ketakutan dan kecemasan dapat memicu halusinasi suara. Jika tersesat lebih lama, kondisi fisik memburuk dengan cepat akibat kelaparan dan dehidrasi.

Dalam satu kasus, seorang pendaki ditemukan setelah tujuh hari, dalam kondisi lemah dan mengalami halusinasi visual serta pendengaran.

“Masalahnya bukan hanya Anda tidak tahu di mana berada,” kata Chiaki Aoyama, seorang peneliti dari UIAA Accident Reporting Working Group yang terlibat dalam studi kecelakaan ini. “Anda juga sering yakin bahwa Anda benar, padahal sebenarnya salah.”

Photo salah satu kejadian pendaki gunung yang hilang saat mendaki gunung di Jepang, yang baru ditemukan tujuh hari setelah dinyatakan hilang. (Photo: UIAA/Chiaki Aoyama)

Dari gunung hingga laut, kami kirim langsung ke Anda. Join Saluran WhatsApp Lingkar Bumi sekarang.

Kesalahan yang Terasa Benar

Penelitian menunjukkan bahwa banyak pendaki yang tersesat justru memiliki tingkat kepercayaan diri tinggi terhadap keputusan mereka.

Dalam eksperimen navigasi yang melibatkan ratusan peserta, sebagian besar pendaki membawa peta dan kompas, tetapi tetap gagal menentukan posisi mereka dengan benar. Lebih mengejutkan lagi, mereka sering kali tetap yakin bahwa interpretasi mereka akurat, bahkan ketika bukti di lapangan menunjukkan sebaliknya.

Fenomena ini dikenal sebagai kesalahan manusia dalam navigasi—ketika seseorang menyesuaikan realitas dengan apa yang ingin ia lihat di peta, bukan sebaliknya.

Dalam satu eksperimen, seorang peserta melihat aliran air kecil selebar satu meter dan meyakini bahwa itu adalah sungai besar yang tertera di peta. Keputusan itu membuatnya “memindahkan” posisinya beberapa kilometer dari lokasi sebenarnya—tanpa ia sadari.

Ketika Alam Mengaburkan Arah

Selain faktor manusia, lingkungan pegunungan Jepang sendiri memperumit situasi.

Kabut tebal, badai salju, atau kegelapan dapat menghilangkan visibilitas sepenuhnya. Namun bahkan dalam kondisi cerah, bahaya tetap ada. Banyak pegunungan rendah di Jepang memiliki lanskap yang monoton—hutan lebat tanpa ciri khas yang membuat orientasi menjadi sulit.

Dalam kondisi seperti itu, seseorang dapat berjalan melingkar tanpa menyadarinya, menjauh dari jalur utama sedikit demi sedikit hingga akhirnya benar-benar tersesat.

Vegetasi yang rapat juga dapat menutup jalur resmi, memaksa pendaki keluar dari rute tanpa disadari.

Jalur yang Menyesatkan

Salah satu temuan paling signifikan sebagai penyebab tersesat dalam penelitian ini adalah peran “back trails”—jalur tidak resmi yang tidak tercantum di peta, tetapi tampak jelas di lapangan.

Jalur-jalur ini terbentuk dari berbagai aktivitas, pendaki, pekerja hutan, pemancing, hingga teknisi. Beberapa di antaranya bahkan lebih lebar dan lebih jelas daripada jalur resmi.

Bagi pendaki yang tidak waspada, perbedaan antara jalur resmi dan jalur tidak resmi hampir tidak terlihat.

Di satu wilayah pegunungan dekat kota Kobe, analisis menunjukkan bahwa hampir 30% jalur yang ada adalah back trails. Sebagian besar kecelakaan tersesat di wilayah tersebut terjadi justru di jalur-jalur ini.

“Begitu Anda mengikuti jalur yang salah, peta Anda tidak lagi relevan,” kata peneliti tersebut. “Dan pada titik itu, Anda sebenarnya sudah berada dalam situasi berbahaya.”

Salah satu temuan paling signifikan sebagai penyebab tersesat dalam penelitian ini adalah peran “back trails”—jalur tidak resmi yang tidak tercantum di peta, tetapi tampak jelas di lapangan.. (Photo: UIAA)

Teknologi yang Tidak Selalu Menyelamatkan

Dengan semakin populernya aplikasi GPS dan navigasi digital, banyak pendaki kini mengandalkan teknologi untuk menemukan jalan.

Namun penelitian ini memperingatkan bahwa ketergantungan berlebihan pada GPS justru dapat meningkatkan risiko.

Peta digital yang tidak diperbarui, sinyal yang hilang di area pegunungan, atau baterai yang habis di suhu dingin dapat membuat perangkat menjadi tidak berguna. Dalam kondisi seperti itu, pendaki yang tidak memiliki keterampilan navigasi dasar akan kesulitan untuk kembali ke jalur yang benar.

Upaya Mengurangi Risiko

Pemerintah daerah dan organisasi pendakian di Jepang telah mengambil berbagai langkah untuk mengurangi jumlah kecelakaan.

Beberapa prefektur mewajibkan pendaki untuk mendaftarkan rencana perjalanan mereka sebelum mendaki. Kampanye nasional juga diluncurkan untuk mengurangi jumlah kasus tersesat, dengan target menurunkan angka hingga seribu kasus.

Di lapangan, upaya dilakukan dengan memasang rambu tambahan di titik-titik rawan, termasuk di persimpangan antara jalur resmi dan back trails. Dalam beberapa kasus, pagar sederhana dipasang untuk mencegah pendaki masuk ke jalur berbahaya.

Langkah-langkah ini terbukti efektif di beberapa wilayah, dengan penurunan signifikan jumlah kecelakaan.

Pelajaran dari Gunung

Pada akhirnya, penelitian ini menyimpulkan bahwa tersesat bukanlah kecelakaan yang terjadi secara kebetulan. Ini adalah hasil dari interaksi kompleks antara manusia, lingkungan, dan informasi.

Pendaki yang tidak memiliki keterampilan navigasi memadai—terutama di jalur yang tidak terawat atau kondisi cuaca buruk—memiliki risiko jauh lebih tinggi untuk tersesat.

Dan ketika itu terjadi, bahaya sebenarnya bukan hanya pada medan yang keras, tetapi pada keyakinan yang salah.

Di pegunungan, kesalahan kecil dalam membaca arah bisa berkembang menjadi situasi yang mengancam jiwa. Dan sering kali, orang yang tersesat tidak menyadari kesalahan itu sampai semuanya sudah terlambat. (Sulung Prasetyo)

Lanjut lagi...

falling cat

Kucing Jatuh Selalu Mendarat dengan Kaki? Ternyata Bukan Cuma Skill, Tapi Settingan Pabrik

climbing gear

Menurut UIAA, Ini 10 Hal Penting Saat Memilih Peralatan Panjat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *