Views: 8
Di jalur pendakian yang sempit dan berbatu, beban sering menjadi musuh terbesar para petualang. Tenda, logistik makanan, kamera, baterai, hingga perlengkapan keselamatan bisa membuat ransel pendaki mencapai puluhan kilogram. Dalam perjalanan panjang di pegunungan atau hutan terpencil, setiap kilogram tambahan terasa semakin berat.
Namun dalam beberapa tahun ke depan, beban itu mungkin tidak lagi harus dibawa manusia.
Perusahaan robotika China, Unitree Robotics, memperkenalkan sebuah robot berkaki empat bernama As2, sebuah mesin yang menyerupai anjing dan dirancang untuk berjalan di medan sulit. Robot ini bukan sekadar eksperimen teknologi. Para pengembangnya percaya perangkat semacam ini dapat menjadi alat baru dalam kegiatan luar ruang—mulai dari eksplorasi ilmiah hingga wisata petualangan.
Dengan kombinasi sensor, kecerdasan buatan, dan sistem navigasi modern, robot tersebut mampu bergerak di medan yang sering menjadi tantangan bagi manusia.
Dalam demonstrasi yang ditampilkan oleh perusahaan, robot itu berjalan stabil di atas batu, menaiki tangga, dan melintasi jalur tidak rata yang biasanya hanya dapat dilewati dengan hati-hati oleh pendaki.
Teknologi robot berkaki empat sendiri sebenarnya bukan hal baru. Namun dalam beberapa tahun terakhir, kemajuan dalam kecerdasan buatan dan sensor membuat mesin ini semakin lincah dan mandiri.
Mesin yang Meniru Cara Hewan Bergerak
Salah satu alasan robot berkaki empat semakin populer adalah karena desainnya yang meniru hewan.
Selama jutaan tahun evolusi, makhluk berkaki empat telah mengembangkan cara berjalan yang efisien di medan tidak rata—mulai dari kambing gunung yang dapat berdiri di tebing curam hingga anjing yang berlari lincah di jalur berbatu.
Insinyur robotika mencoba meniru prinsip tersebut.
Robot As2 memiliki berat sekitar 18 kilogram, namun dirancang cukup kuat untuk bergerak di berbagai jenis medan. Dengan motor listrik pada setiap sendi dan sistem sensor yang memetakan lingkungan sekitar, robot ini dapat menyesuaikan langkahnya secara otomatis.
Dalam kondisi tertentu, robot ini bahkan dapat berlari dengan kecepatan hingga sekitar 5 meter per detik—lebih cepat dari sebagian besar manusia yang berjalan cepat di jalur pendakian.
Robot ini juga dilengkapi dengan sistem yang disebut Intelligent Companion System, yang memungkinkan perangkat tersebut mengikuti pemiliknya secara otomatis saat berjalan.
Dalam praktiknya, robot dapat bergerak beberapa meter di belakang pengguna, menapaki jalur yang sama tanpa perlu dikendalikan secara terus-menerus.
Pembawa Beban di Alam Liar
Bagi banyak penjelajah, fungsi paling menarik dari robot ini adalah kemampuannya membawa perlengkapan.
Dalam ekspedisi ilmiah atau perjalanan panjang di daerah terpencil, logistik sering menjadi tantangan besar. Peralatan penelitian, baterai tambahan, atau perlengkapan dokumentasi bisa membuat perjalanan menjadi jauh lebih melelahkan.
Robot seperti As2 berpotensi menjadi semacam “hewan beban digital”.
Alih-alih menggunakan kuda atau bagal seperti dalam ekspedisi tradisional, penjelajah dapat menggunakan robot untuk membawa sebagian perlengkapan mereka.
Dalam kondisi tertentu, robot ini dapat beroperasi hingga sekitar empat jam dalam satu kali pengisian baterai.
Kemampuan tersebut membuatnya berpotensi digunakan dalam perjalanan pendek hingga menengah di alam liar.
Teknologi untuk Penelitian dan Penyelamatan
Selain untuk wisata petualangan, robot berkaki empat juga menarik perhatian peneliti dan tim tanggap darurat.
Di wilayah terpencil atau medan berbahaya, robot dapat digunakan untuk menjelajahi area yang berisiko sebelum manusia masuk.
Dalam operasi pencarian dan penyelamatan, teknologi robotika sudah mulai digunakan untuk memeriksa bangunan runtuh atau lokasi bencana.
Robot berkaki empat memiliki keunggulan karena mampu bergerak di medan yang tidak bisa dilalui kendaraan beroda.
Dengan sensor dan kamera yang terpasang, robot dapat mengirimkan data lingkungan secara langsung kepada operator.
Dalam konteks penelitian lingkungan, teknologi ini juga dapat membantu ilmuwan membawa sensor atau peralatan pengukuran ke wilayah yang sulit dijangkau.

Dari gunung hingga laut, kami kirim langsung ke Anda. Join Saluran WhatsApp Lingkar Bumi sekarang.
Mengapa Robot Berkaki Empat?
CEO Unitree Robotics, Wang Xingxing, mengatakan robot berkaki empat memiliki keunggulan tertentu dibandingkan robot humanoid.
Menurutnya, bentuk robot anjing lebih stabil dan lebih mudah dikembangkan secara teknis.
“Robot anjing telah dikembangkan lebih lama dan bentuknya lebih stabil,” kata Wang dalam wawancara dengan Forbes, 4 Maret 2026.
Ia juga menilai robot jenis ini memiliki peluang besar untuk menjadi teknologi robot biomimetik pertama yang digunakan secara luas dalam kehidupan sehari-hari.
“Robot berkaki empat memiliki peluang terbaik untuk menjadi robot biomimetik pertama yang masuk ke kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Menurut Wang, dalam beberapa tahun ke depan robot kemungkinan akan semakin sering digunakan untuk berbagai tugas—mulai dari pengiriman barang hingga membantu pekerjaan rumah tangga.
Teknologi yang Masih Mahal
Meski menjanjikan, teknologi ini masih memiliki hambatan.
Harga robot As2 diperkirakan sekitar $32.000, atau lebih dari Rp500 juta. Angka tersebut membuat perangkat ini masih jauh dari jangkauan sebagian besar konsumen.
Untuk saat ini, pengguna potensialnya kemungkinan adalah perusahaan teknologi, institusi penelitian, atau operator ekspedisi profesional.
Daya tahan baterai juga menjadi tantangan tersendiri.
Di wilayah terpencil, akses terhadap sumber listrik sering kali terbatas. Robot yang bergantung pada baterai harus dirancang agar cukup efisien untuk perjalanan panjang.
Para pengembang robotika terus berupaya meningkatkan efisiensi energi dan ketahanan perangkat terhadap kondisi lingkungan ekstrem.
Antara Teknologi dan Pengalaman Alam
Kehadiran robot di jalur pendakian juga memunculkan pertanyaan yang lebih luas tentang hubungan manusia dengan alam.
Bagi sebagian orang, petualangan di alam liar adalah pengalaman yang seharusnya sederhana—berjalan kaki, membawa perlengkapan sendiri, dan menghadapi tantangan secara langsung.
Teknologi baru selalu mengubah pengalaman tersebut.
GPS, pakaian teknis modern, dan perangkat komunikasi satelit telah mengubah cara manusia menjelajah alam.
Robot mungkin menjadi langkah berikutnya.
Apakah mesin yang berjalan di jalur pendakian akan menjadi pemandangan biasa di masa depan masih belum jelas.
Namun perkembangan teknologi menunjukkan satu hal, batas antara dunia alam dan teknologi semakin kabur.
Bagi para penjelajah generasi berikutnya, perjalanan di alam liar mungkin tidak lagi sepenuhnya dilakukan sendirian.
Di jalur gunung yang sunyi, mungkin akan ada langkah lain yang mengikuti—bukan dari manusia atau hewan, tetapi dari mesin yang belajar berjalan seperti keduanya. (Wage Erlangga)







