20 Mei 2024
Perbaikan sistem dari berbagai sektor sudah seharusnya dilakukan. Baik dari sistem transportasi, budaya penggunaan transportasi massal, hingga pemberlakukan sanksi bagi masyarakat yang dianggap menyebabkan kondisi polusi udara tersebut makin berat.

Views: 9

Percaya atau tidak, sebuah penelitian baru yang dikeluarkan oleh Institut Kebijakan Energi di Universitas Chicago (EPIC) menyebutkan kalau polusi udara partikulat halus (PM2.5) memperpendek rata-rata harapan hidup penduduk Indonesia sebesar 1,4 tahun. “Bahkan beberapa wilayah di Indonesia memiliki kondisi yang jauh lebih buruk dibandingkan rata-rata, dengan polusi udara yang memperpendek umur sebanyak 2,0 tahun seperti di Deli, Serdang sebagai kabupaten/kota paling berpolusi di Indonesia”, tulis laporan bertajuk Indeks Kehidupan Kualitas Udara (AQLI), hari Selasa (29/8/2023).

Direktur EPIC, Michael Greenstone menyatakan kalau laporan tersebut mengukur hubungan sebab akibat antara paparan polusi udara pada manusia dan berkurangnya harapan hidup. “Kami menggabungkan analisis ini dengan pengukuran polusi yang sangat terlokalisasi akan menghasilkan wawasan yang belum pernah ada sebelumnya mengenai dampak sebenarnya dari polusi udara di masyarakat di seluruh dunia”, urainya.

AQLI sendiri berakar pada penelitan peer-review yang dilakukan oleh tim penelitian internasional. Penelitian yang mendasari AQLI didasarkan pada data polusi dengan konsentrasi sangat tinggi yang terjadi di banyak belahan dunia saat ini.

Disebutkan juga AQLI menggunakan data satelit yang sangat terlokalisasi, sehingga memungkinkan untuk melaporkan dampak harapan hidup pada suatu wilayah atau tingkat serupa di seluruh dunia, dibandingkan tingkat agregat yang lebih banyak seperti yang dilaporkan dalam penelitian sebelumnya.

Dari laporan satelit yang ada juga disebutkan kalau sebanyak 272 juta penduduk Indonesia saat ini, hidup di area yang memiliki level partikulat polusi udara lebih dari pedoman yang diberikan WHO. Khusus untuk daerah DKI Jakarta, sebagai wilayah paling terpolusi udara di Indonesia, 107 juta penduduk yang hidup didalamnya memiliki potensi buruknya kesehatan, karena telah berada dikondisi tersebut lebih dari 14 tahun lamanya.

Wilayah DKI Jakarta menduduki posisi pertama sebagai daerah terpolusi udara di Indonesia, menurut laporan tersebut. Diikuti wilayah Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Lampung dan Riau.

Transpotasi publik menjadi salah satu solusi untuk masalah polusi udara yang kini menjadi masalah di kota-kota besar Indonesia. (photo : jeffrey czum/pexels)

Tak Ada Sistem Pengendalian

Dalam sebuah perbincangan yang dilakukan sebelumnya, Umiyatun Haryati Triastuti sebagai Ahli Utama Kementerian Perhubungan menyatakan kalau tidak ada yang mengendalikan polusi udara di Indonesia dalam sektor perhubungan. “Baik di kota besar maupun kota kecil”, ucapnya.

Umiyatun menyebutkan harus ada visi dan misi pimpinan, dalam urusan polusi udara ini. Koordinasi antar instansi pemerintah untuk misi pengurangan polusi udara juga diperlukan. “Selain juga harus memberikan apresiasi terhadap pemerintah daerah yang akan menata transportasi lebih ramah lingkungan”, papar Umiyatun lagi.

Ahmad Safrudin dari Komite Pembatasan Bensin Bertimbel (KPBB) menyatakan kalau seharusnya para pelaku penyebab polusi udara tidak menganggap pemikiran environmentalist tidak dianggap sebagai penghalang. “Justru seharusnya pemikiran lebih ramah lingkungan tersebut dianggap sebagai trigger untuk kehidupan yang lebih baik”, ujarnya.

Menurut Safrudin juga perbaikan sistem dari berbagai sektor sudah seharusnya dilakukan. Baik dari sistem transportasi, budaya penggunaan transportasi massal, hingga pemberlakukan sanksi bagi masyarakat yang dianggap menyebabkan kondisi polusi udara tersebut makin berat. (Sulung Prasetyo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *