Views: 7
Di sebuah pagi yang lembap di jantung hutan tropis, seorang peneliti duduk di depan laptop yang baterainya hampir habis. Di layar, ratusan foto dari kamera jebak muncul satu per satu. Dulu, ia harus menyortir semuanya secara manual. Membuka gambar yang ternyata hanya angin, melewati foto-foto yang buram, lalu akhirnya menemukan seekor kucing hutan yang lewat sekilas. Sekarang, sebelum kopi di cangkirnya dingin, sebuah aplikasi kecerdasan buatan sudah menandai mana foto yang benar-benar berguna. Kecepatan seperti ini masih terasa ajaib bagi sebagian orang di lapangan, meski bagi peneliti yang bekerja dengan tumpukan data, ini lebih seperti sesuatu yang sudah lama ditunggu-tunggu.
Begitulah apa yang terjadi kini pada para peneliti dan pelestari lingkungan. Dengan dukungan aplikasi Artificial Intelligence (AI), banyak pekerjaan yang sebelumnya dianggap sulit, sudah makin terasa mudah. Pekerjaan seperti memilah foto dari kamera jebak, menjadi makin mudah dan terasa cepat. Pekerjaan pemindaian spesies baru, juga bukan perkara sulit lagi. Demikian diungkapkan hasil laporan terbaru dari World Resources Institute (WRI), berjudul AI for Nature: How AI Can Democratize and Scale Action on Nature yang dikeluarkan November 2025 ini.
AI yang Membantu Pelestari Lingkungan
Seperti pada kasus dari aplikasi Wildlife Insights, platform yang mengolah jutaan foto kamera jebak dari seluruh dunia. Dengan database raksasa dan model yang terus dilatih, aplikasi tersebut bisa mengenali ribuan spesies. Kalaupun ada foto yang samar atau setengah gelap, sistem masih bisa memberi petunjuk. Namun tidak semua orang sepenuhnya puas dengan kehebatan tersebut.
Dan Morris dari Microsoft AI for Good—yang ikut mengembangkan banyak model pengenalan satwa—mengaku ada masalah besar yang belum selesai. “Kami punya begitu banyak gambar dari Amerika Utara,” katanya, “dan jauh lebih sedikit dari Afrika atau Asia Tenggara. Jadi model sangat akurat di tempat yang datanya banyak, dan tidak begitu baik di tempat lain.”
Ia mengucapkannya tanpa nada menyalahkan, lebih seperti seseorang yang sadar benar betapa beratnya membangun teknologi global ketika dunia sendiri tidak seimbang.
Di laut, situasinya berbeda lagi. Aplikasi AI Global Fishing Watch, dengan data satelit dan algoritmanya, bisa membaca pola-pola kapal yang sulit dilihat mata manusia. Kapal yang bergerak aneh, berhenti di tengah malam, atau mematikan transponder—semua terekam. Beberapa tahun terakhir, beberapa negara menggunakan analisis ini untuk menangkap kapal asing yang mencuri ikan di kawasan konservasi. Tetapi lagi-lagi, teknologi bukan satu-satunya tantangan.
Jen Louie dari Global Fishing Watch dengan jujur mengungkapkan bahwa kemampuan setiap negara berbeda. “Banyak pemerintah ingin menggunakan data ini,” katanya, “tapi belum tentu mereka punya tim teknis untuk memprosesnya, atau sistem kebijakan yang siap menindaklanjutinya.”
Jadi AI mungkin bisa melihat kejahatan dari luar angkasa, tetapi pada akhirnya, manusia di darat yang harus menentukan apa yang terjadi setelahnya.
Di sisi lain, jutaan orang biasa ikut membantu konservasi tanpa meninggalkan rumah. Mereka memakai aplikasi seperti iNaturalist untuk memotret burung, serangga, atau bahkan jamur yang tumbuh di pot tanaman. AI membantu mengidentifikasi spesiesnya, dan setiap unggahan menjadi titik data yang kelak bisa digunakan ilmuwan.
Aplikasi itu membuat sains terasa lebih dekat, lebih bermain, lebih membumi. Tetapi tentu saja, ada risiko. Data lokasi spesies sensitif bisa berbahaya jika jatuh ke tangan pemburu atau pedagang ilegal. Banyak organisasi kini berhati-hati menyamarkan lokasi atau menyaring informasi sebelum dipublikasikan.

Informasi yang Disalahgunakan
Ketika berbicara soal data, Paul Lamy dari WRI Indonesia melihat peran AI dari sudut yang lebih dalam. Menurutnya, masalah lingkungan bukan hanya soal pohon tumbang atau satwa yang menurun. “Sains bisa merinci apa yang berubah,” ujarnya. “Tapi mengapa hal itu terjadi jauh lebih sulit. AI bisa membantu dengan menyatukan informasi tentang manusia dan ekonomi supaya gambarnya lebih lengkap.”
Pernyataan itu terasa seperti mengingatkan kita bahwa alam tidak bisa dipisahkan dari perilaku manusia yang hidup di sekitarnya.
Namun bagi sebagian peneliti, terutama di wilayah tropis, AI kadang terasa seperti alat yang dibuat untuk orang lain. Andrea Paz dari Wildlife Conservation Society di Kolombia merasakan itu betul. “Kami ingin memetakan tren populasi spesies di Kolombia,” katanya, “tapi tidak ada data satelit gratis yang resolusinya cukup tinggi untuk kami. Ada banyak model global, tapi tidak semuanya cocok untuk kondisi kami.” Kalimatnya terdengar seperti keluhan, namun sebenarnya mencerminkan realitas umum: banyak negara dengan kekayaan alam terbesar justru minim akses teknologi.
Lalu ada soal pengetahuan lokal. Komunitas adat di Amazon, misalnya, punya pengetahuan yang jauh lebih tua daripada model apa pun yang dilatih komputer. Ketika para teknolog mencoba memasukkan sebagian dari pengetahuan itu ke dalam sistem AI, muncul pertanyaan, siapa yang berhak atas data itu? Beberapa komunitas bahkan memilih membangun chatbot rumahan yang hanya berjalan secara lokal agar tidak ada informasi yang bocor keluar tanpa persetujuan mereka. Dalam perspektif seperti ini, AI tidak hanya membutuhkan data—ia membutuhkan etika, kesabaran, dan rasa hormat.
AI Memang Membantu
Meski penuh tantangan, para peneliti di berbagai belahan dunia sepakat bahwa AI punya potensi besar untuk membantu melestarikan lingkungan. Ia bisa melihat pola yang mata manusia lewatkan, menemukan anomali yang analisis manual butuh waktu lama untuk menyadarinya, dan membantu lembaga konservasi bekerja lebih cepat. Krisis ekologis bergerak cepat, dan teknologi ini memberi kita sedikit kecepatan ekstra untuk menyusulnya.
Namun untuk mencapai dampak penuh, AI harus terus dipadukan dengan manusia yang merawat bumi ini—peneliti lapangan yang tidur di gubuk kayu, nelayan kecil yang memahami laut, masyarakat adat yang menjaga hutan, dan analis yang menafsirkan data menjadi kebijakan. AI tidak menggantikan mereka. Ia hanya menambahkan sepasang mata tambahan, yang bekerja tanpa lelah.
Pada akhirnya, penyelamatan alam tetap membutuhkan keputusan manusia. Keberanian politik, solidaritas sosial, dan kesediaan untuk berubah. AI membantu kita melihat, tetapi tidak bisa memilih jalan. Dan barangkali, itu justru menjadikannya alat yang paling bermanfaat—karena ia memberi kita kesempatan untuk membuat pilihan yang lebih baik bagi dunia yang kita tinggali bersama. (Sulung Prasetyo)





