Views: 7
Kita selalu senang bila tiba saat berlibur. Terbayang di kepala segala hal yang menyenangkan. Sepertinya tak ada hal tercela dalam sebuah liburan. Namun, sebuah riset baru dari Belanda justru menantang anggapan itu. Menurut penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Sage Open (2024) oleh Adam T. Nissen dan timnya, bepergian memang bisa meningkatkan suasana hati, tapi efeknya ternyata tidak bertahan lama.
Peneliti menganalisis data dari lebih dari 12.000 orang dewasa di Belanda selama delapan tahun. Mereka diharapkan menjawab pertanyaan sederhana. Apakah orang yang rutin bepergian untuk rekreasi lebih bahagia dibanding mereka yang tidak, dan apakah rasa bahagia itu bertahan lama?
Hasilnya mengejutkan. Tidak ada perbedaan berarti dalam kepuasan hidup jangka panjang antara mereka yang sering bepergian dan yang jarang atau tidak sama sekali. Memang benar, orang yang berlibur — terutama yang bepergian lebih sering atau ke luar negeri — melaporkan tingkat kebahagiaan lebih tinggi pada tahun mereka melakukan perjalanan. Namun, efek itu menghilang setelahnya.
“Perjalanan waktu luang memberikan dorongan suasana hati yang bersifat sementara,” tulis Adam T Nissen peneliti utama laporan tersebut. “Namun tidak mengubah arah kepuasan hidup seseorang dalam jangka panjang,” tambahnya.
Mengapa Rasa Bahagia Cepat Hilang?
Para ahli menjelaskan fenomena ini dengan istilah “hedonic treadmill” — kecenderungan manusia untuk kembali ke tingkat kebahagiaan semula setelah mengalami hal menyenangkan atau menyedihkan. Artinya, seminggu liburan di Bali mungkin terasa luar biasa, tapi setelah kembali ke rutinitas, suasana hati pun perlahan kembali seperti semula.
Dalam studi tersebut, lonjakan kepuasan hidup hanya tampak pada tahun ketika partisipan melakukan perjalanan. Setahun kemudian, kebahagiaan itu menghilang, seolah tubuh dan pikiran “menyetel ulang” perasaannya.

Dari gunung hingga laut, kami kirim langsung ke Anda. Join Saluran WhatsApp Lingkar Bumi sekarang.
Temuan ini menjadi tamparan halus bagi industri perjalanan yang kerap menjual mimpi “bahagia lewat liburan”. Dari slogan escape the ordinary hingga find yourself abroad, pesan yang disampaikan selalu sama, perjalanan liburan adalah jalan menuju kebahagiaan.
Padahal, riset ini membuktikan sebaliknya. Menurut Nissen dan timnya, kebahagiaan dari liburan bersifat situasional. Bergantung pada momen baru, istirahat, dan interaksi sosial selama perjalanan. Semua itu akan hilang ketika kita kembali ke rutinitas.
Bukan berarti kita harus berhenti berlibur. Justru sebaliknya, riset ini mengingatkan agar kita lebih sadar makna perjalanan. Bukan sekadar pelarian dari kehidupan, tapi pengalaman untuk memperkaya diri.
Cara Bepergian yang Benar-Benar Membahagiakan
Menurut sejumlah psikolog, cara terbaik menikmati perjalanan adalah dengan menekankan keterlibatan dan makna. Kebahagiaan sejati tidak datang dari jarak yang ditempuh, melainkan dari bagaimana kita meresapi pengalaman: belajar, terhubung, dan merenung.
Perjalanan yang memperdalam koneksi dengan alam, budaya, atau diri sendiri — seperti slow travel atau kegiatan sukarela — terbukti memberi manfaat emosional lebih panjang dibanding liburan serba cepat dan konsumtif.
Menariknya, penelitian juga menemukan bahwa proses menantikan liburan — mulai dari merencanakan, menabung, hingga membayangkan destinasi — bisa menumbuhkan rasa bahagia hampir sebesar perjalanan itu sendiri.
Riset dari Belanda ini menjadi pengingat penting bahwa perjalanan bukan “obat ajaib” bagi kebahagiaan.
Liburan tetap berguna untuk melepas stres dan membuka perspektif baru, tetapi kebahagiaan sejati dibangun dari hal-hal sederhana. Hubungan yang hangat, rasa tujuan hidup, dan keseimbangan antara bekerja dan menikmati waktu.
Dengan kata lain, kebahagiaan bukan sesuatu yang bisa dikemas dalam koper. Ia tumbuh dari cara kita menjalani hari. Entah sedang menjelajahi pegunungan Alpen, atau sekadar duduk minum kopi di teras rumah sendiri. (Sulung Prasetyo)







