Views: 2
Ketika krisis iklim semakin parah, semakin banyak petualang berbondong-bondong mengunjungi keajaiban alam dunia yang terancam punah. Mulai dari Great Barrier Reef di Australia hingga gletser yang mencair di pegunungan Papua, menjadi makin padat kunjungan. Para ilmuwan memperingatkan bahwa tren emosional yang disebut “last chance travel” ini justru dapat mempercepat kerusakan lingkungan di kawasan yang rapuh.
Laporan terbaru dari UN World Tourism Organization (UNWTO, 2025) menunjukkan kunjungan ke destinasi yang rentan terhadap perubahan iklim seperti Arktik, Pegunungan Alpen, dan Great Barrier Reef meningkat lebih dari 40 persen dalam satu dekade terakhir. Banyak wisatawan termotivasi oleh unggahan media sosial yang menyerukan untuk “melihat sebelum hilang.”
“Orang ingin menyaksikan tempat-tempat ini sebelum lenyap, tetapi urgensi itu justru sering mempercepat kehancuran yang mereka takutkan,” ujar Dr. Daniel Scott, peneliti iklim dan pariwisata dari University of Waterloo, Kanada, sekaligus penulis utama beberapa studi iklim UNWTO. “Perjalanan ke wilayah rentan meningkatkan emisi karbon sekaligus tekanan lingkungan setempat.”
Peringatan Serius
Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) memprediksi suhu global dapat naik hingga 2,6°C pada tahun 2050 jika tren emisi saat ini berlanjut — skenario yang mengancam keberadaan terumbu karang, gletser, dan ekosistem di seluruh dunia.
Sementara itu, Laporan WWF Living Planet 2024 menemukan bahwa 75% terumbu karang tropis telah mengalami pemutihan sejak 2010, dan Great Barrier Reef telah kehilangan hampir setengah tutupan karangnya hanya dalam dua dekade.
Di sisi lain, jumlah pelayaran wisata di Arktik naik hampir dua kali lipat sejak 2018, seiring meningkatnya wisatawan yang ingin melihat es laut mencair dan satwa kutub sebelum punah.
“Ini paradoks — semakin banyak orang ingin ‘menyelamatkan’ atau ‘melihat’ tempat-tempat ini, semakin cepat mereka rusak,” kata Dr. Etti Winter, direktur program pariwisata berkelanjutan di Hebrew University of Jerusalem.

Dari gunung hingga laut, kami kirim langsung ke Anda. Join Saluran WhatsApp Lingkar Bumi sekarang.
Gletser di Papua Jadi Magnet Baru
Tak hanya di kutub, Pegunungan Tengah Papua, Indonesia, kini menjadi sorotan baru dalam tren wisata ini. Di kawasan tersebut berdiri Carstensz Pyramid (Puncak Jaya) — puncak tertinggi di Oseania dan salah satu dari sedikit zona gletser tropis di dunia.
Studi gabungan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan University of Colorado Boulder, yang diterbitkan di jurnal Nature Geoscience (2024), menemukan bahwa gletser Carstensz telah kehilangan lebih dari 90 persen volume esnya sejak 1980-an dan diperkirakan akan hilang sepenuhnya sebelum tahun 2035.
Wilayah ini kini menarik perhatian para pendaki dan wisatawan petualangan yang ingin melihat “salah satu gletser tropis terakhir di Bumi” — meski para ilmuwan memperingatkan bahwa peningkatan aktivitas wisata dapat mempercepat pencairan dan kerusakan tanah di sekitarnya.
“Carstensz adalah simbol kuat sejauh mana perubahan iklim telah menjangkau,” kata Dr. Donaldi Permana, ahli glasiologi BRIN. “Bukan hanya Arktik atau Himalaya — bahkan daerah tropis pun kehilangan esnya.”
Dilema Etika di Balik “Last Chance Travel”
Sejumlah operator wisata memanfaatkan tren ini dengan promosi emosional seperti “Nikmati surga sebelum menghilang.” Namun, para pemerhati lingkungan menilai pendekatan semacam ini berisiko.
Sebagai langkah antisipatif, perusahaan ramah lingkungan seperti Intrepid Travel dan Responsible Travel mulai menawarkan ekspedisi rendah karbon, program offset emisi, serta wisata berbasis masyarakat untuk menjaga kelestarian alam setempat.
Sekretaris Jenderal UNWTO, Zurab Pololikashvili, menyerukan agar pemerintah dan sektor swasta memperketat regulasi terhadap kegiatan pariwisata di ekosistem rentan.
“Kita harus memastikan bahwa keinginan untuk menyaksikan keindahan tidak menjadi alasan atas kehancurannya,” ujarnya dalam pernyataan resmi.
Para ahli sepakat bahwa satu dekade mendatang akan menjadi penentu apakah destinasi paling rentan di dunia — dari gletser Papua hingga Great Barrier Reef — masih dapat dinikmati oleh generasi berikutnya.
“Pesannya seharusnya bukan ‘lihat sebelum hilang,’” ujar Dr. Scott. “Tapi ‘selamatkan sebelum terlambat.’” (Wage Erlangga)







