Views: 7
Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan drone untuk memantau satwa liar menjadi praktik yang semakin umum. Teknologi udara ini dianggap mampu mengurangi risiko bagi peneliti dan memungkinkan pengamatan yang lebih efisien di area terpencil. Namun, sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa kehadiran drone tetap memberikan dampak signifikan pada perilaku satwa, terutama gajah savana Afrika.
Penelitian tersebut, berjudul “Elephant habituation to drones as a behavioural observation tool”, dipimpin oleh Jessica Granweiler bersama tim dari Elephants and Bees Research Center, Save the Elephants, dan dipublikasikan di jurnal Scientific Reports untuk edisi Januari 2025. Temuan mereka memberikan gambaran baru tentang bagaimana gajah merespons proses pemantauan udara dan bagaimana respons itu berubah seiring waktu.
Penelitian dilakukan di dua kawasan konservasi besar di Kenya, yakni Samburu National Reserve dan Buffalo Springs National Reserve. Kedua kawasan ini sudah lama menjadi lokasi pemantauan populasi gajah, sehingga sebagian besar individu dapat dikenali berdasarkan ciri fisik.
Dalam penelitian tersebut, para peneliti melakukan 35 penerbangan drone terhadap 14 kelompok gajah yang telah diidentifikasi. Mereka menggunakan drone komersial DJI Matrice 30T yang diterbangkan pada ketinggian sekitar 120 meter. Ketinggian ini dipilih dengan pertimbangan agar suara drone tidak terlalu mengganggu, namun tetap memungkinkan kamera untuk menangkap rekaman perilaku secara detail.
Perilaku yang Berbeda
Setiap penerbangan dibagi dalam beberapa tahap, mulai dari sebelum drone lepas landas, ketika drone mendekati kelompok gajah, saat berada tepat di atas mereka, ketika menjauh, hingga setelah drone mendarat kembali. Pada setiap tahap ini, peneliti mencatat respons gajah berupa aktivitas normal seperti makan, berjalan, dan beristirahat, serta perilaku yang menunjukkan kewaspadaan atau gangguan.
Dari keseluruhan data, tampak jelas bahwa kehadiran drone memengaruhi aktivitas dasar gajah. Sekitar 51,4 persen dari seluruh penerbangan menyebabkan setidaknya satu gajah menunjukkan reaksi terganggu, misalnya mengangkat kepala, mengayunkan belalai, atau berhenti makan untuk memperhatikan sumber suara.
Perubahan perilaku paling terlihat saat drone berada di udara. Gajah cenderung makan lebih sedikit dan lebih sering berjalan, sementara waktu istirahat mereka berkurang selama drone terbang di atas kelompok. Setelah drone menjauh, sebagian kelompok menunjukkan peningkatan waktu istirahat yang lebih tinggi dari kondisi awal, mengindikasikan bahwa mereka mungkin melakukan kompensasi setelah mengalami gangguan singkat tersebut. Respons-respons seperti ini penting untuk dicatat karena dapat menimbulkan bias dalam penelitian perilaku apabila baseline atau kondisi awal hewan tidak diperhatikan dengan baik.
Bisa Beradaptasi
Meskipun tingkat gangguan terlihat cukup tinggi pada kontak awal, penelitian ini juga memberikan bukti kuat bahwa gajah mampu beradaptasi terhadap keberadaan drone. Pada kelompok yang menerima lebih dari satu sesi pengamatan, respons negatif menurun secara signifikan pada penerbangan berikutnya. Gajah tampak lebih tenang, lebih cepat kembali ke aktivitas makan, dan menunjukkan lebih sedikit tanda kewaspadaan. Fenomena habituasi ini menunjukkan bahwa stimulus drone, meski awalnya mengganggu, dapat dianggap tidak berbahaya oleh gajah setelah beberapa kali terpapar.
Dalam komentarnya, Jessica Granweiler menegaskan pentingnya temuan ini bagi dunia konservasi. Ia menyampaikan bahwa drone memiliki potensi besar untuk membantu pemantauan satwa liar, terutama di wilayah yang sulit dijangkau manusia. Namun, ia juga menekankan bahwa penggunaan drone harus dilakukan dengan protokol yang ketat untuk meminimalkan stres pada hewan.
“Meskipun gajah dapat terbiasa dengan drone, perubahan perilaku pada paparan awal tetap perlu dipertimbangkan agar analisis perilaku tidak bias”, tulis Granweiler dalam laporan ilmiahnya.
Ia menambahkan bahwa penelitian ini bertujuan bukan hanya untuk menilai tingkat gangguan, tetapi untuk menyediakan dasar ilmiah yang dapat digunakan untuk merancang metode pengamatan udara yang lebih etis dan efektif.
Temuan ini membawa implikasi besar bagi konservasi dan penelitian satwa liar. Drone semakin sering digunakan sebagai alat observasi karena menawarkan perspektif yang tidak mungkin didapatkan dari darat, sekaligus mengurangi kebutuhan manusia untuk mendekati hewan besar seperti gajah. Namun, penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan drone tetap memerlukan sensitivitas terhadap kondisi perilaku satwa dan cara mereka merespons teknologi baru. Dengan demikian, peneliti disarankan untuk mencatat kondisi awal perilaku sebelum drone diterbangkan, memastikan bahwa setiap pengamatan memperhitungkan kemungkinan perubahan akibat kehadiran drone.
Pada akhirnya, studi ini memberikan pemahaman yang lebih dalam mengenai dinamika interaksi antara teknologi dan satwa liar. Drone memiliki potensi besar sebagai alat monitoring yang aman dan efisien, tetapi penerapannya harus dilakukan secara hati-hati. Dengan pedoman yang tepat, teknologi ini dapat menjadi bagian penting dalam upaya perlindungan dan pelestarian gajah serta satwa liar lainnya di masa depan. (Wage Erlangga)
Baca juga:
Dari gunung hingga laut, kami kirim langsung ke Anda. Join Saluran WhatsApp Lingkar Bumi sekarang.







